Copyright © lakeview creativity
Design by Dzignine

25 October, 2007

jendela

Hujan yang turun mulai membasahi jendela taxy yang baru saja kunaiki. Aku memandangi titik-titik air yang mengalir turun secara perlahan dan meninggalkan jejak. Sepintas terlihat seperti komet perak berekor panjang. Pantulan lampu-lampu jalan malam ini semakin memperindah jejak-jejak air hujan. Keheningan dalam mobil terasa pekat, namun anehnya membuatku merasa tenang.

Sepertinya supir taxi itu mengetahui mood-ku yang sedang tidak ingin bercakap-cakap, karena dia membiarkanku duduk tenang di kursi belakang, sehingga pikiranku bisa melanglang buana, mengembara jauh meninggalkan mobil ini.



"Aku akan pergi"katanya pelan. "Aku mendapatkan beasiswa itu, bulan depan aku berangkat" dia berdiri diam, matanya penuh keteguhan. Aku yakin walau apapun yang kukatakan tak akan mampu merubah keputusannya.

Aku hanya menunduk diam, apa semuanya harus berakhir seperti ini, kapan dia akan kembali. Dan seandainya dia memang kembali, cukup sabarkah aku untuk menunggunya?

"Aku nggak akan minta kamu menunggu. Aku nggak mau kamu menunggu..." jadi memang akan berakhir disini, batinku. Semua kebahagiaan yang aku dapat darinya akan terputus disini.

"Oh, okey..." mataku mulai basah, tapi toh, dia sudah cukup sering meliahatku menangis, so nothing's new.

"Aku ingin kamu ikut..."



"Bu, kita mau lewat tol, atau jalan biasa?" suara pengemudi taxy itu membuyarkan lamunanku. "Bu..."

"oh, maaf..." ujarku tergagap. "Kita lewat jalan biasa saja, Pak." malam ini Jakarta tidak terlalu macet, lagian aku masih ingin menikmati perjalanan ini sedikit lebih lama.

Supir itu mengarahkan taxy-nya keluar jalur masuk tol, membiarkanku kembali terhanyut. Aku kembali memandang keluar jendela. Di trotoar aku melihat sepasang muda-mudi yang sedang terlibat perdebatan seru, tangan mereka bergerak-gerak heboh, mungkin ingin menekankan maksud masing-masing.



"Proyekku sedang sibuk-sibuknya! Klien menuntut ini itu, dan kemauan mereka berubah hampir setiap 5 menit sekali. Mereka membutuhkanku di kantor malam ini, dan kamu harusnya mengerti!" dia mengibas-ngibaskan tangannya dengan tegas, seakan-akan sudah kehabisan akal menghadapiku.

"Tapi kita sudah merencanakan ini lebih dari sebulan yang lalu. Dan kamu bilang kamu akan meluangkan waktu!" aku berteriak tak mau kalah. Aku lelah selalu dinomorduakan setelah pekerjaannya.

"Hhh, aku tahu..." dia mengusap wajahnya dengan lelah. "Maafkan aku, proyek ini menyita hampir seluruh tenaga dan perhatianku." Dia berjalan mendekat dan memelukku. "Kita rencanakan lain waktu, ya..."

Aku terdiam dan menyandarkan kepala di bahunya. Seharusnya semuanya tidak berjalan seperti ini, harusnya kami melewati hari ini dengan bahagia, merayakan ulangtahun pertama perkawinan kami, harusnya kami makan malam diterangi cahaya lilin, harusnya kami menghabiskan malam ini dengan bercengkrama, mengejar waktu-waktu yang kami lewati masing-masing.

"Aku hamil..."

Aku bisa merasakan badannya menjadi kaku, tapi aku tidak berani menatap wajahnya. Kami belum berencana untuk memiliki anak, aku tidak tau dia akan bereaksi seperti apa. Bagaimana jika dia belum siap, bagaimana jika dia menyuruhku menunda kehamilan ini. Ah, tapi itu tidak mungkin, dia menyukai anak-anak, tapi...sekarang dia sedang sangat sibuk.

Dia memegang bahuku, menjauhkanku dari badannya, dan menatap mataku dalam-dalam. Ekspresinya tidak terbaca, dia memang paling jago dalam hal-hal seperti ini.

"Kamu bilang apa?" aku bisa merasakan kecemasan menjalari punggungku, ekspresinya saat itu agak menyeramkan, apakah sekarang memang bukan saat yang tepat?

"Aku hamil" aku mendengar diriku sendiri mengatakan hal itu dengan tenang, hal yang luar biasa mengingat saat itu lututku terasa lemas, dan detak jantungku sangat tidak teratur.

TIba-tiba aku merasakan badanku ditarik dengan keras, dia memelukku dengan sangat kencang, aku hampir tidak bisa bernafas.

"A..aa..," aku sedang berusaha melepaskan diri ketika kurasakan ada sesuatu yang hangat di leherku. Dia menyurukkan kepalanya dileherku, dan semakin mempererat dekapannya, jika masih mungkin. "Kamu nggak apa-apa?" aku bertanya dengan bingung, tidak yakin harus bereaksi bagaimana.

Dia hanya mengangguk, walau aku tidak yakin apa gerakan kepalanya saat itu memang berarti dia sedang mengangguk. Aku melingkarkan tanganku, dan membalas pelukannya. Aku bisa mendengar dia terisak lirih, lalu diam. Dia melonggarkan pelukannya dan mencium kepalaku. Mungkin ini artinya dia senang dengan kabar yang kusampaikan.

Dia lalu melepaskan pelukannya, memegang dahuku, dan mencium bibirku dengan cepat. "Aku akan menelfon kantor" ujarnya sebelum berlari dengan cepat ke arah telpon. Aku mendengarnya terburu-buru menekan tombol, bergerak-gerak tidak sabar, lalu berbicara dengan suara keras "Saya nggak bisa masuk datang malam ini. Saya nggak peduli... Saya akan punya anak, hahahaha..." dia tertawa dengan keras, lalu menutup telpon.


"Bu, telfonnya..." suara supir taxy itu kembali membuyarkan lamunanku. "Maaf Bu, dari tadi HP nya bunyi.." ujarnya lagi sambil menatapku dari kaca spion. Suara Frank Sinatra menyanyikan 'As Time Goes By' ternyata sudah memenuhi taxy itu tanpa aku sadari.



And when two lovers woo
They still say: "i love you"
On that you can rely
No matter what the future brings
As time goes by



"Halo" aku buru-buru mengangkat telfon, sebelum yang diseberang sana memutuskan hubungan.

"Kamu dimana? Kok daritadi nggak diangkat-angkat telponnya?"

"Maaf, aku nggak dengar. Di jalan, nggak lama lagi sampai kok"

"Oh ya sudah, hati-hati."

"Iya" dan sambungan pun terputus.


"Wijayanya dimana, Bu?" Supir taxy itu bertanya padaku. Aku memandang berkeliling, ternyata sudah tidak jauh lagi dari rumahku.

"Wijaya satu..." sahutku. Ternyata hujan sudah mulai berhenti. Walau jalanan masih basah, masih banyak air yang menetes dari pepohonan. Dari jendela yang mulai kering itu aku memandangi jalanan yang bersinar-sinar, pantulan sinar lampu pada air yang menggenang.


Aku memandang darah yang mengalir dari kedua kakiku, warna merahnya bersinar-sinar dibawah cahaya lampu. Perutku terasa sakit luar biasa, dan aku bisa merasakan gaun malamku basah oleh cairan merah yang tak berhenti mengucur itu. Aku mencoba menopang tubuhku, berpegangan pada lemari pajangan setinggi dada didekatku. Aku berusaha memanggilnya, tapi aku terlalu panik sampai-sampai tak ada suara yang keluar dari mulutku. Karena rasa sakit yang tak tertahankan badanku menjadi lemas. Aku terjatuh ke lantai, tanganku tanpa sadar menyambar semua pajangan yang tersusun rapi di atas lemari itu. Bunyi kaca dan keramik pecah terasa memekakkan telinga. Aku memandang sebuah pigura yang sudah retak, berisi foto kami sedang berpelukan berlatar matahari Kuta yang sedang terbenam, lalu semuanya hitam.

"Bagaimana bayi kita?" aku memegang tangannya, mencoba mencari kekuatan disana. Dua hari aku tak sadarkan diri.

Dia hanya menatapku, sorot kesedihan memenuhi matanya. Kurasa aku tak perlu bertanya lagi, jawaban yang kucari terpampang jelas disana.

"Kita masih bisa mencoba lagi kan?" kudengar suaraku bergetar. Aku takut bagaimana jika tak ada kesempatan kedua yang tersisa untukku, untuk kami.

Dia bangkit dari duduknya, membenarkan posisi bantal, dan membantuku duduk. Mengambil gelas disamping tempat tidur, lalu duduk disampingku. Dia menyelipkan tangan di balik punggungku, dan merangkulku erat. Sambil menyodorkan gelas dia berkata,

"Tentu saja, tapi nggak sekarang. Dokter bilang kita harus menunggu sampai rahim kamu sembuh. Tapi kita masih punya banyak kesempatan." Aku hanya diam, dadaku sesak. Aku mengelus perutku yang kini kutahu kosong. Dia meletakkan tangannya di atas tanganku.

"Rasanya kosong, bahkan kalau aku menyentuhnya sekarang terasa kosong..."aku terisak.

"Aku tau," ujarnya lembut sambil mengusap air mataku. "Tapi nanti, saat kamu menyentuhnya lagi, kamu akan bisa merasakan bayi kita menendang-nendang. Kita harus kuat dan sabar." dia tersenyum. Aku bersandar di bahunya, senang merasakan sesuatu yang kokoh menopangku saat ini. Kami berdiam diri entah untuk berapa lama, hanya merasakan dan menikmati kedekatan saat itu.


Sudah tiga tahun sejak kejadian itu, tiga tahun kami mencoba, dan kadang aku putus asa. Tapi untung dia selalu ada,sekuat dan setegar batu karang. Tak pernah lelah untuk mengembalikan semangatku dan cukup kuat untuk menjadi tumpuan kami berdua. Aku tersenyum tipis, membuka tasku dan mengeluarkan amplop putih yang baru kuterima hari ini. Tak sabar membayangkan reaksinya nanti.

"Sudah sampai, Bu" supir taxy itu menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah berpagar putih. Aku membuka dompet, dan membayar. Dari balik jendela aku bisa melihat sosoknya, menjulang di samping sedan yang rendah ini. Aku membuka pintu dan keluar.

"Hai," dia berkata lembut dan membantuku keluar dari mobil.

"Hai," jawabku tersenyum.

Supir taxy itu membunyikan klakson dan pergi. Dia memeluk, dan mencium ubun-ubun kepalaku.

"Kamu pergi lama sekali" aku mendengarnya berkata dari puncak kepalaku. Aku baru pergi tadi sore. Rasanya berat sekali mencoba menahan diri untuk tidak meloncat-loncat gembira. Ingin rasanya aku menari-nari, mengajaknya berdansa dibawah lampu jalan. Tapi aku harus tenang, demi merasakan tendangan-tendangan dari dalam perutku beberapa bulan dari sekarang.

Sambil tersenyum aku melepaskan diri dari pelukannya. Menatap matanya dalam-dalam dan bilang,

"Ada yang ingin aku katakan..."



It’s still the same old story
A fight for love and glory
A case of do or die
The world will always welcome lovers
As time goes by ...

hilang ingatan

waktu itu hujan belum turun, matahari masih menggantung, dan dia tidak sendirian.

di sudut sana anak-anak masih bergumul membicarakan rasa permen yang manis dan asem dan asin.

"hmm, aku suka banget nih permen, rasana maniiis banget.."

"ah, punyaku rasanya asem tapi seru banget tauk..."

"loh kok punyaku bisa asin ya rasanya? tapi aku suka, nanti bisa beruba manis kan?

di sudut sini anak-anak berbicara kepada dirinya sendiri.

"kapan aku bisa pulang? apakah aku akan bertemu ayah? mengapa tadi mama berpamitan padaku? apa nanti akan hujan?"

detik-detik terus berjalan, menit berlalu, matahari mulai menghilang, hujan tampaknya akan turun.

gelegar guntur semakin terdengar, kilat bergantian menyambar. apa kabar anak-anak itu?

tidak ada lagi yang suara-suara tentang manis, asam, dan asin. tidak ada lagi suara yang memenuhi sudut tempat itu.

anak itu sendiri. sepertinya dia sedang menunggu. dia berputar-putar di tempatnya. ah, sepi sekali. mengapa tiada yang menemani dia berbicara.


"kemana semua orang pergi? aku takut..."

tiba-tiba dia terhentikan oleh hangat genggaman tangan seseorang.

"ah, adik manis, kamu belum pulang?"

dia hanya mengggeleng.

"aku akan menemanimu sampai kamu dijemput."
"tenang saja. ada aku."
"kamu tidak sendiri."

terdengar bunyi terenyuh. hangat terasa di dalam dadanya. pijar -pijar kehangatan tampak di wajahnya.

akhirnya dia bisa tersenyum. dia menggenggam erat tangan lelaki kecil itu.

lalu tibalah saat gadis manis itu pergi, akhirnya ada yang menjemputnya, dia pun berlarian kecil menghampiri seseorang yang dia kenal.

genggaman itu terlepas begitu saja. membuat lelaki kecil itu terdiam. namun dia tersenyum melepas kepergian si gadis kecil itu.

------------------
bayangannya tidak lagi terlihat jelas di kepala. namun, sensasi yang dirasakan oleh panca indra masih terasa jelas di hati.


setiap kali teringat, dia tersenyum. setiap kali terbersit dia mengerut.

"ah,aku tak pernah sempat berterimakasih padanya. dimana dia?"

seiring berjalannya waktu, memori indah hampir terkubur dengan luka-luka baru,
seraya hari berlanjut, sistem pencarian manusia di dunia semakin menorehkan pengaruhnya.

dia pun mencari, mencari, mencari, dan mencari.

tidak pernah terkirim suatu petunjukpun kapan dia akan bisa menemukannya.

nama lelaki itu tidak pernah muncul. namanya belum dapat dicari. sampai detik ini.

"aku ingin bertemu dengannya"

---------------------------------

please forward this sms: akan diadakan reuni sekolah kita pada tanggal 7 maret. datanglah kawan, mari kita bernostalgia. ^_^

-------------------------------

"
hai, apa kabar kamu, uh sudah lama sekali kita ngga ketemu ya. gilaa"

bising ucapan rindu terdengar di mana-mana. bisik tentang rasa asam manis dan asin pun munul di hari itu.

"ih gila ya, aku udah lama banget ngga nemu permen ini. enak banget nih. asem manis gimanaaa gitu."

pandangan nya menyebar ke seluruh penjuru. dia terus berusaha mencari sosok itu.

"ada asinnya soalnya"
"sebenernya ini asem lagi."

"ah, dimana dia?"

"siapa?"

"fitrah."

"hah fitrah, yampuunnn. fitrah anak kelas sebelah yang dulu suka sama lo ya?"

"ah, benarkah?"

"looh, iya dia kan sering banget cerita sama kita, dia tuh orangnya baik banget. gue masih inget aja waktu dia beliin kita-kita permen ini nih."

"bener, dia gitu kan supaya dia bisa nemenin lo nunggu dijemput sendiri."

"supaya kita cepet-cepet pulang duluan. padahal kita mau nemenin kamu."

"ah, tak mungkin."

"ini beneran lagi, say. tapi masa sih lo ga tau. fitrah kan udah ngga ada..."

"apa?"

"iya, waktu hari itu dia beliin permen buat gue. hari itu dia meninggal dunia karena tabrakan.."
--------------------------


mengapa tuhan?



22 October, 2007

Si Otoy dan Si Unyit

"Nyiiit, kalau nyebrang jalan liat kanan kiri dulu, donk!"

"tapi kan ada Toy, Nyit nggak perlu liat-liat lagi" bandel.

"tapi nanti kan kebiasaan, Nyit, jadinya...nanti kalau gue nggak ada gimana?"

"emangnya Toy mau kemana, Toy mau pergi ya ninggalin Nyit?" berkaca-kaca.

"nggak." menghela nafas. "Tapi gue kan nggak bisa selalu bareng-bareng lo."

"kenapa?? Toy dah nggak sayang lagi sama Nyit?" terisak.

"sayang Nyit, sayang banget..."

"terus kenapa?hiks..."

"hhh...nggak kok nggak kenapa-napa. Udah, ah, cup, jangan nangis, jelek."

"tuu kan dibilang jelek, berarti benerkan udah nggak sayang lagi??"

"Nggak kok, Nyit cantik..cuma kan kalau nangis nanti jadi ilang cantiknya...Udah yaa, jangan nangis lagi...cup cup...Yuk nyebrang yuk."

"Hiks, ya udah. Gandeng!"

"Iyaa..."


***


"Kok nggak dimakan ayamnya?"

"Panaaas...Nyit nggak bisa megangnya."

"Ya udah sini."

"suir-in sekalian..."

"iyaa...Nih."

"Hehe, makasih."

...

"nyit..nyit...lo kapan gedenya sih, makan aja harus dibantuin."

"Nyit dah gede kok."

"Iya, umurnya aja, kelakuannya mana ada kayak orang gede."

"Biarin!"

"Tu kan, baru digituin dikit aja ngambek."

"Siapa yang ngambek, Nyit nggak ngambek kok! Enak aja!!"

"Tu kan marah-marah..."

"Enggak!! Nyit nggak marah-marah KOK!! Kenapa sih Toy nuduh-nuduh aja?! Sok tahu banget sih jadi orang?!!!"

"Yaa, namanya juga si Otoy..."lirih.

"Apa?! Toy, bilang apa barusan??!!! Kalau ngomong yang keras donk! Cowok bukan sih?!!"

"Nggak kok, nggak ngomong apa-apa. Udah dilanjutin lagi makannya, nanti keburu dingin lho."

"Huh!"

"Ayo, makan ah yang bener. Nanti kalau Nyit makannya abis, kita jadi ke toko es krim baru itu, deh. Gimana?

"Ih, emangnya Nyit anak kecil..!!"

"Ya udah, kalau nggak mau, padahal mereka punya yang rasa chocolate marshmallow, trus kalau nggak salah ada yang rasa vanilla fudge juga."

"..."

"Oh!! Trus trus ada yang rasa...umm...apa ya itu yang baru? Oh iyaa, Oreo Explosion!!! Yah, tapi kalau lo nggak pengen sih ya nggak apa-apa."

"ng...ada yang rasa oreo?"

"apa, lo bilang apa tadi Nyit?"

"itu..ng, ada yang rasa oreo, ya?

"rasa oreo?...oo, es krimnya?? Iya ada, kenapa?

"nggak..."

"kenapa, lo mau ya?"

"ng..."

"ya udah, makanya, ayo dimakan ayamnya, ntar kita kesana deh. Ya...?"

"iya..."mulai makan.

"hehehe.Nyit..Nyit..gue sayang banget sama lo."mengacak-ngacak rambut Unyit.


***

"ah udah ah mainnya. Susah!! Nggak asyik. Lain kali kalau beli game yang bener donk, Toy!"membanting joystick.

"Nyit...inikan game Sponge Bob, anak SD juga bisa."

"anak SD-nya aja kali yang kepinteran. Orang susah gini juga mainnya."

"Ya udah, trus lo mau nya main apa?"

"Mario Bross..."

"masa Mario Bross lagi? Kita kan minggu lalu tiap hari juga main Mario Bross, itu juga Nyit mainnya cuma bagian yang nurunin benderanya aja, sisanya gue semua."

"oh, jadinya Toy nggak ikhlas bantuin Nyit??"

"bukan gitu, tapi kan game banyak, masa kita mainnya itu-itu mulu, ngapain beli banyak-banyak?"

"..." cemberut.

"ya udah, gini deh, biar gue yang mainin dulu, nanti kalau udah mau nyampe finish lo lagi, gimana?

"ya udah. Toy, komik Nyit tadi mana?

"mana ya...(melihat berkeliling) wah, ketinggalan dimobil kayaknya."

"ambilin!"

"katanya tadi suruh mainin game-nya dulu, sekarang suruh ngambilin komik..."

"kan game-nya bisa di pause, Toy dodol banget sih!"

"emangnya lo nggak bisa ngambil sendiri?"

"bisa, tapi kan ada Toy..."

"hhh...ya udah, ya udah, sebentar ya."

"hehehe, iya, makasih ya Toy. Mmuah!" sebuah ciuman di pipi.


***


"Toy, minggu depan kita jadi berenang nggak?"

"jadi. Nyit udah jadi beli sunblock belum?

"udah. Kemaren sama mama."

"o, ya udah. Tapi nanti beneran berenang ya, jangan cuma main air."

"iya...eh Toy,katanya di kolam renang itu perosotannya ada yang baru, lhoo."

"ow, pantesan lo ngajak berenang, pasti tujuannya itukan?"

"hehehe, iya."

"tapi nanti jangan cuma turun naik perosotan aja ya, harus berenang juga biar cepet pinter."

"iya iya, Toy bawel banget sih!"

"hehehe, bukannya bawel, tapi katanya kita nanti mau liburan ke pantai, kalau Nyit nggak bisa berenang kan nggak seru. Lagian katanya, kita bisa snorkeling sama diving juga."

"hmmm, iya deh iya. Ntar Toy ajarin lagi ya. Tapikan kalau main di pantaikan ada Toy, jadi Nyit juga nggak mungkin tenggelam, ya kaaan?"

"iya emang, tapi kan gue dah bilang, lo tuh nggak bisa semuanya tergantung gue terus."

"kenapa sih emang?? Nyit kan selalu bareng-bareng Toy ngapain aja, jadi harusnya nggak bakal kenapa-kenapa, donk?!"

"iya, emang. Tapi kan gue udah pernah bilang, walaupun gue nggak mau, tapi bisa ajakan ada masanya gue itu nggak bisa bareng-bareng lo. Trus nanti kalau gue lagi nggak ada, atau nggak ada lagi, lo gimana? Makanya lo harus belajar ngejaga diri lo sendiri."

"iya iya. Udah ah, Nyit nggak mau ngomongin itu lagi. Yang panting Toy harus janji, bahwa selama Toy bisa, Toy harus bareng Nyit terus!!Janji!!!"

"iya Nyit, gue janji. Nggak lo suruh janji pun, selama gue bisa, gue pasti bakal selalu bareng-bareng lo."

"hehehe, bener ya..."

"iyaa..."


***


"nyiiit, jangan lari-larii!"

"abis Nyit seneng sih, akhirnya kita jadi juga mau berenang."

"Nyit, ini kan dipinggir jalan raya, hati-hati donk."

"iya iya..."

...

"NYYIIIIIIIIIIITTTTTTTT............!!!"


BRAAK!!CIIITTT...


"aduuuuh,sakit...kok dorong-dorong sih Toy...hiks."

"..."

"Toy...Toy...kok tiduran di jalan raya?"

"..."

"hiks, Toy, kok Toy berdarah? Toy, kok bajunya banyak darahnya??"mulai terisak.

"..."

"Toooooy, jawab Nyit donk!!!"menggoncang-goncang tubuh Otoy.

"Nyiit..." lemah

"hiks hiks...Toy, kok banyak darahnya sih....?"

"Nyit, Nyit yang baik ya...mulai jaga diri sendiri sekarang."

"kenapa...hiks?"

"gue..." mencoba menarik nafas. "gue mungkin nggak bisa nemenin lo lagi Nyit..." menarik tangan Unyit, menggenggamnya erat.

"hiks...kenapa Toy, Nyit nggak bisa..."

"Nyit pasti bisa, Nyit kan pinter. Ya Nyit ya, dengerin gue kali ini aja. Kali ini aja... Jaga diri lo baik-baik."

"huhuhuhu...Toooy, Nyit nggak bisaaaa..!"

"Pasti bisa. Nyit, jangan sampai pernah lupa ya...jangan pernah lupa kalau gue sayang banget sama lo Nyit."

"Nyit juga..hiks, Nyit juga sayang banget sama Toy."

"gue tau Nyit...gue tau." tersenyum. Dan Otoy pun berlalu.

"Toy...Toy...hiks...OTOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOY!!!!!!"


Untuk pertama kalinya, Nyit sadar, waktu untuk menjadi dewasa akhirnya tiba.

21 October, 2007

Nimov

“Bermuda?” Seenaknya aku memulai pembicaraan dengan orang yang duduk di sampingku. Aku menunjuk ke buku yang dipegangnya. Ia menoleh, mengangguk.

“Kenapa?” Tanyaku.

“Diving. Aku ingin diving di sana.”

“Oh…” Aku mengangguk-angguk sok mengerti. Aku tidak bisa berenang, “oh, sori. Namaku Alina. Aku dari lantai 2. Mau rontgen.” Ujarku memperkenalkan diri.

“Oh… kalau aku baru datang. Aku… mengunjungi teman.”

“Boleh tahu nama kamu?” Ah, lancang sekali mulutku ini.

Dia tersenyum, “boleh. Nimov,”

“Nimov?”

“Nimov.”

“Kamu orang apa?” Sepertinya pertanyaanku terdengar agak konyol karena dia terlihat menahan tawanya.

“Ayah Rusia, Ibu Jawa. Kombinasi yang aneh ya?”

“Wow. Aku belum pernah bertemu dengan orang berdarah Rusia sebelumnya. Tapi aku selalu membayangkannya di pikiranku.”

“Dan sekarang kamu sudah bertemu seseorang berdarah Rusia,” dia tutup bukunya kembali. “Bagaimana? Samakah dengan bayangan kamu?”

“Kalau warna mata kamu coklat muda… iya.”

Dia dekatkan wajahnya agar aku bisa melihat kedua matanya. “Coklat muda.” ujarnya.

Entah mengapa tiba-tiba saja aku tersenyum lebar, “senang berkenalan denganmu, Nimov.”

“Sama-sama, Alina. Nomor kamu dipanggil masuk ke ruang rontgen, tuh,” ujarnya sambil menunjuk ke kertas yang kupegang, lalu menunjuk ke monitor LED di atas pintu masuk ruang periksa.

“Oh iya. Kalau begitu aku masuk dulu.” Aku menengok ketika berjalan masuk ke ruang rontgen, Nimov sudah kembali asyik dengan bukunya.


oOoOo


“Halo…” Ada suara di pintuku yang setengah terbuka. Aku yang terkulai lemas di tempat tidur susah payah menengok ke arahnya.

“Hei…” aku tersenyum. Nimov ternyata. “Kemarin kamu pulang ya? Aku nggak lihat kamu lagi begitu keluar dari rontgen.”

“Iya. Temanku perlu istirahat. Kalau aku di dekatnya terus, bisa-bisa dia mau ngobrol terus. Kamu kok lemas?”

“Obat. Kamu tahu kamarku dari mana?”

“Gampang. Cuma ada 1 Alina cuma di RS ini.”

“Satu?”

“Iya. Nama Nimov malah ada 3. Aku kecewa,” candanya sambil tertawa kecil. Aku ikut tertawa.

“Teman kamu masih di sini?”

“Masih.”

“Sakit apa dia?”

“Sakit hati.”

“Bercanda kamu!”

Dia hanya tertawa-tertawa kecil saja.

“Kok kamu malah ke sini?”

“Aku mau ketemu sama kamu. Keburu siang... keburu kamu tidur karena obat.”

“Habis itu, pergi?”

“Iya. Tapi bukan untuk seterusnya kok.” Sambil menjawab ia berdiri. Seorang suster masuk membawa nampan berisi 4 pil dan sebuah suntikan. Makanan sehari-hariku.

“Permisi,” ujarnya, “Mbak Alina, minum obat lagi ya…”

“Jangan pergi,” ujarku pada Nimov. “Jangan pergi dulu. Aku sendirian,” Kugamit pergelangan tangannya. Lagi-lagi ia tersenyum.

“Kan saya di sini.” Malah suster tadi yang menanggapiku sambil menunduk menyiapkan suntikan. Sepertinya ia tak memperhatikan kepada siapa aku bicara. Aku dan Nimov tertawa geli bersama. Suster dodol! Dilepaskan tanganku dari tangannya.

Dia menatapku lekat-lekat. “Besok,” katanya. “Besok aku datang lagi.”
Perhatianku pecah karena jarum sudah menusuk pembuluhku, aku menyipitkan mata, meringis kesakitan. Ketika mereka terbuka kembali, Nimov sudah tidak ada.


oOoOo


“Sus…”

“Ya Mbak?” Dia sibuk menyiapkan obat-obatan pagiku.

“Bisa telepon mama saya lagi?”

“Kemarin kan sudah, Mbak.”

Aku diam. Kemarin sudah ditelepon. Kemarinnya juga sudah. Kemarinnya kemarin, sudah juga.

“Sudah Mbak, nggak usah ditelepon lagi aja dulu. Siapa tau mama Mbak lagi sibuk. Saya juga capek neleponnya.” Sial, suster ini enak sekali bicaranya.

“Sus…” aku mulai kesal.

“Apa?” tanyanya.

“Pergi sana. Obatnya tinggal diminum aja kan? Hus, hus!” Aku mengibaskan tanganku.

Dengan wajah luar biasa sebal suster itu meninggalkan kamarku. Untuk pergi ke dapur dan meludahi makananku mungkin. Aku tak peduli. Aku melempar pandangan ke luar jendela, mulai mengarang macam-macam kesibukan ibuku yang mencegahnya datang mengunjungiku. Arisan teman-teman, pengajian, arisan keluarga, pengajian…

“Mungkin mama kamu emang sibuk?”

“Nimov! Bikin kaget aja. Sejak kapan kamu ada di situ?”

“Baru aja. Tapi aku dengar omongan kamu sama suster barusan. Kamu nggak takut makanan kamu diludahin?”

“Hahaha, kamu kok pikirannya sama kayak aku ya?”

“Itu sih ketahuan dari tampang suster tadi waktu kamu ‘hus, hus’,” ujar Nimov sambil mengulangi gerakan tanganku mengusir suster tadi.

“Kasar banget ya?”

“Nggak apa. Susternya palingan ngerti.” Nimov berjalan ke arahku mengambil kursi lipat hendak duduk di samping tempat tidur. Aku mencegahnya, “stop!”

“Aku nggak boleh duduk?”

“Kita jalan-jalan di halaman RS aja ya? Aku bosan di kamar.”


oOoOo


“Aaah… Udara luar memang enak!!!” Teriakku sesampainya kami di tempat yang agak sepi. Aku memejamkan mataku dan menarik napas dalam-dalam, menikmati segarnya udara halaman ini.

“Al…” Panggil Nimov.

“Hmm?”

“Kamu udah lama nggak ketemu mama kamu?”

“Lumayan. Mama pernah ke sini 2 kali. Pertama waktu dia nganterin aku masuk ke sini. Ke dua, sekitar 2 minggu setelahnya.”

“Kamu di sini udah berapa lama?”

“Sekitar… 7 bulan.”

“Mama kamu nggak pernah nelepon sekalipun juga?”

“Nelepon pernah… 2 kali. Tapi nggak apa. Aku nggak segitunya kangen kok.”

Nimov meletakkan tangannya di kepalaku. Mengelus-elusnya dengan lembut, “jangan bohong. Aku tahu kamu kecewa dalam hati. Iya kan?”

“Sok tahu kamu.”

“Lho, buktinya kamu tadi kesal sama si suster.”

“…”

“Aku tau kamu itu sebetulnya kesepian. Kalau kamu nggak kesepian, aku nggak bakal kamu suruh datang.”

“Jangan ikut campur.”

“Aku bukannya mau ikut campur, Alina. Maksud aku nggak jahat. Kalau maksudku jahat, aku nggak mungkin ada di sini sama kamu.”

“Lalu? Mau kamu apa?”

“Coba telepon mama kamu sendiri. Siapa tau dia mau datang kalau kamu bilang langsung ke dia. Ya? Kalau kamu nggak mau telepon di depan aku, nanti malam kamu coba ya?”

Aku diam saja. Acuh. Sok acuh, lebih tepatnya. Hingga akhirnya Nimov pergi pun aku tak berkata apa-apa. Tapi dalam kepalaku sarannya terus bergulingan, menggema tanpa henti.

Mungkin Nimov ada benarnya. Akan kutelepon mama nanti malam.


oOoOo


“Pagi, Alina.”

“Pagi, Dok.”

“Mama kamu nanti datang ke sini. Katanya kamu telepon sendiri ya? Kebetulan deh. Saya juga ada perlu sama mama kamu.”

“Oh.”

“Kok nggak semangat gini sih?”

“Nggak kok, Dok. Semangat kok.” Aku berikan senyum termanisku. Malas berlama-lama berbasa-basi.

“Ya sudah. Ini diminum ya obatnya. Nanti siang saya datang lagi. Mudah-mudahan mama kamu sudah datang.”

Mama. Sudah berapa lama aku tak menggunakan kata itu untuk memanggil orang. Enam bulan. Enam bulan dan 3 hari, kata jurnalku yang baru saja kuambil dari laci. Lebih dari cukup untuk membuat anakmu ini bertanya-tanya, Ma.

“Permisi…”

“Kenapa Sus?”

“Mau ganti seprai, Mbak…”

“Oh. Ya sudah. Kebetulan aku mau jalan-jalan keluar, Sus. Santai aja.” Aku bangkit dari posisi tidur, berjalan ke kursi roda, dan mulai mengayuh keluar ruangan.

Setelah menemukan sebuah pohon yang bayangannya cukup teduh, aku berhenti mengayuh. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, atau seseorang: Nimov. Ada sesuatu tentang dirinya yang sangat familiar. Sayang aku tak yakin darimana asalnya familiarity ini… Yang jelas dirinya bagaikan angin segar yang berhembus siang-siang. Ah, tunggu. ‘Angin segar yang berhembus siang-siang?' Jurnal!

Cepat-cepat kubolak-balik halaman-halaman jurnal yang penuh corat-coret; entah curhat, entah karangan. Kemudian kutemukan:
Angin segar yang berhembus siang-siang: itulah dia. Hari ini dia datang membawa salah satu seri Lonely Planet lagi. Duduk di sampingku. Aku hanya bisa takjub melihat jenis bacaannya. Sementara itu dia tetap menunduk ke bawah, membaca buku dengan mata coklat mudanya. Punggungnya lebar. Pasti dia suka berenang. Kalau aku tenggelam, dia bisa menyelamatkanku. Hari ini entah mengapa aku merasa dia menungguku untuk menyapanya lebih dulu. Maka aku lakukan.
Aku tersenyum membaca karanganku yang sudah lama kulupakan. Norak. Kutarik nafas panjang sambil melemparkan pandangan ke sekitar. Pelataran parkir terlihat penuh, namun kali ini aku mengenali salah satu mobil yang memenuhinya.

Secepat mungkin aku mengayuh kursi roda kembali menuju kamar. Namun bukan Mama yang kutemui, Nimov sudah menunggu di sana.

“Mamaku datang!”

“Kamu senang? Jangan bohong padaku.”

“Ya. Aku senang.”

“Bagus. Kali ini bicaralah pelan-pelan padanya. Bilang kalau kamu kangen. Bilang kalau kamu ingin ketemu lebih sering.” Dia tersenyum lembut.

I will.” aku membalas senyumnya.

“Sementara itu, kemungkinan aku nggak bisa ketemu kamu lagi, Al.”

“Kenapa? Teman kamu sudah nggak di sini?”

“Ssst..! Mama kamu sama Dokter sudah dekat. Kamu bisa dengar mereka ngobrol dari sini.”

Aku bergerak maju ke belakang pintu. Sayup-sayup obrolan mereka mulai jelas, “…arin saya ke kamarnya tapi suster yang sedang jaga bilang dia pergi berjalan-jalan.”

“Sendiri?”

“Sendiri… tapi mungkin ada orang lain bersamanya.”

“Maksud dokter?” Mereka berhenti di koridor. Suara Mama terdengar aneh. Aku tak mengerti siapa yang mereka bicarakan.

“Nimov. Mereka ngomongin siapa sih?” Nimov hanya tersenyum dan menempelkan jari telunjuknya di bibir. Dia menyuruhku untuk mendengarkan lagi.

“…rapa lama Alina ada di sini?”

“Sudah sekitar 6 bulan.”

Yang benar 7 bulan, Mama.

“Dan Ibu tidak pernah datang ke sini. Mengapa?” Aku menengok ke Nimov, menahan tawa. Jujur, aku senang Dokter bertanya kepada Mama seperti itu.

“Saya nggak pernah sempat, Dok. Lagipula, apa perlunya? Toh ada saya di sini, Alina tidak tambah sembuh.”

“Ibu tidak takut Alina menggantikan posisi Anda dengan orang lain – kalau ada orang lain?”

“Memangnya ada?”

“Sepertinya ada, Hanya Alina yang tahu. Akan saya jelaskan nanti, sekarang yang penting Ibu menemui Alina dulu. Saya tekankan sekali lagi, Anda harus bisa meluangkan waktu untuk anak Anda.” Mereka berjalan kembali menuju kamarku.

Bersamaan dengan itu Nimov berjalan ke arahku. Dia berhenti tepat di depanku kemudian rambutku diusap-usapnya, “Al, aku pamit ya. Sudah ada mama kamu sekarang.”

“Sekarang? Tapi kalian belum aku kenalin satu sama lain.”

“Nggak kamu kenalin juga nggak apa.”

“Loh, jangan gitu dong. Kamu kan udah nemenin aku kemarin-kemarin ini. Kalau nggak ada kamu aku kesepian.”

Tangannya tetap mengusap-usap rambutku, “tenang. Bisa aja sewaktu-waktu aku datang lagi. Tapi kayaknya kamu nggak akan kesepian lagi, Al,” senyumnya.

“Kamu tau dari mana?” Kutepis pelan tangannya yang ada di atas kepalaku, kesal karena dia akan pergi.

“Mama kamu datang, tuh.” Nimov membuat sebuah gerakan dengan kepalanya, menunjuk ke arah pintu.

Mama sudah ada di situ. Dia memelukku kemudian menciumku di pipi.

“Sayang, kamu lagi ngobrol sama siapa? Ada teman kamu? Siapa?” Wajahnya terlihat bingung, tampak matanya mencari-cari ke seluruh ruangan.

“Iya, sama teman aku. Kebetulan Mama udah datang. Kenalin, Ma, ini –“ Aku menengok ke Nimov.

Dia tidak ada.
(Yang ada hanya angin segar yang berhembus siang-siang.)

20 October, 2007

Mantan teman


“Aduh book...Gimana nih, gue bingung, mantan pacar gue ngajak balik.
Gue mesti gimana ya? Aduh binguuung...!”
Mantan pacar. Wah, frase itu tiba-tiba terdengar lagi dan lagi-lagi membuatku tercenung. Tercengang dan merenung. Orang-orang yang mempunyai mantan pacar pasti mengerti,
aku tercengang karena masa lalu rushing back di benakku, datang tiba-tiba tanpa diinginkan. Aku merenung karena teringat apa yang pernah kualami bersama mereka.
Hhhh...
Biasanya, semua renungan itu akan berakhir dengan helaan nafas, helaan sesal. Hampir semua hubunganku dengan mantan pacarku berakhir buruk. Setelah putus hubungan, putus juga pertemanan kami. Sekali lagi hhh...

Tapi, ada satu orang yang berbeda. Sebenarnya sih dia tidak bisa dibilang mantan pacar. Karena apa yang kualami bersamamya dulu bukan suatu hubungan berstatus pacaran. Hubungannya tentu menyangkut perasaan dan cinta juga. Orang bule sana biasa menyebutnya dengan fling.

Yah, berarti dia bisa jugalah dibilang mantan. Mantan yang pernah memenuhi benak dan ruang hatiku meskipun sebentar. Mantan yang pernah membuatku senang sekaligus gunah gulana meskipun tidak lama. Bukan, sekali lagi bukan mantan pacarku.

Namanya Aldo. Sebut saja dia, mantan teman termesraku. Hubunganku dengannya adalah hubungan yang paling tidak berstatus, paling sebentar, paling membingungkan, tapi paling berkesan. Mengapa begitu? Karena aku tidak pernah menyangka aku akan menyukainya. Aku tidak pernah mengira aku akan mempunyai sejarah cinta bersamanya. Aku tidak pernah menerka aku akan jatuh dan mencinta.

Terlebih lagi, aku tidak pernah berharap aku akan jatuh dan mencinta di kala semua itu sudah berakhir. Ironis memang. Tapi hidup adalah sebuah ironi. Kita akan selalu terkejut dengan apa yang dapat terjadi dalam hidup kita. We’ll never know what we will get. Seperti yang kualami sekarang.

Perasaan yang kumiliki untuknya terasa mubazir. Aldo tidak tahu tentang perasaanku dan aku tidak yakin aku ingin dia mengetahuinya. Perasaan ini menyakiti hatiku. Lebih buruk lagi hubunganku dengannya tidak benar-benar putus. Dia masih menjadi temanku. Bukan lagi teman termesraku, dia sekarang hanya seorang teman baikku.

Lalu, apakah kau tahu kapan hatiku meringis kesakitan? Yah, hatiku menjerit kala aku menjalani hari-hariku sbagai temannya. Teman untuk berbagi cerita suka dan duka. Teman yang selalu mendukungnya. Teman yang selalu mendengarkan cerita hatinya, tetapi tidak pernah meperdengarkan perasaannya sendiri...
Akhir-akhir ini, jeritan hatiku menjadi lebih keras. Ini terjadi karena aku terlalu ingin menjaga pertemananku dengannya. Dan dia terlalu ingin melupakan apa yangpernah kami alami bersama.
“Tashaa...! Haai, gue udah nyariin lo kemana-mana. Gue pengen curhat banget niih...”
Aku juga. Aku ingin mencurahkan perasaan ini.
“Oh iya gue juga...Kemana aja sih lo? Sibuk nih mentang-mentang punya gebetan baru...?”
Kenapa kau melupakan aku? Kenapa kau melupakan kemesraan kita dulu?
“Hehehe, udah deh kita ngobrol yuk. Gue lagi bingung nih mesti gimana. Kania benar-benar bikin gue jatuh cinta setengah mati sekaligus kebingungan setengah hidup. I really don’t know what to do to get her love...Dia itu...bla..bla...bla...”
Aku tahu Aldo, aku tahu apa yang bisa kaulakukan untuk membuat seeorang tertarik padamu. Aku tahu bagaimana kau dapat membuat orang jatuh cinta. Itu hanya perlu proses yang sebentar, seperti dulu. Apakah kau ingat waktu itu Aldo?

---------------------
“Hmm Sha... i don’t know why, but i really care about you...kamu tau kan? Gue sayang deh sama lo...”
“Ah, gue engga tuh. Hehe...Engga deng, gue juga sayang sama lo...”
Hari-hari bersamanya dulu selalu indah. Meskipun status hubungan itu tidak jelas. Tapi , tanpa disadari atau tidak, kami menikmati kebersamaan kami tanpa hadirnya pria atau wanita yang lain. Kami menyukai keberadaaan satu sama lain. Mulai dari nonton bareng, jalan bareng, makan malam bareng,dan pokoknya hampir semua hal yang orang-orang berpacaran lakukan.

Di tengah-tengah kemesraan dan kedekatan kami, gundah gulana memang selalu hadir mengganggu hati dan pikiranku. Aku sempat bingung, hubungan itu mau dibawa kemana. Aku sempat tidak tahu apakah aku akan terus menunggu kepastian yang tidak jelas akan hubungan kami.
Sampai suatu saat di pojok nyaman Starbucks Coffee Parijs Van Java, Aldo menjelaskan ketidakjelasan hubungan kami.

You know what Sha...I really love....going out with you and to have you around me. Tapi, lo pasti bakal sependapat sama gue. We don’t need the commitment, right? We are happy just the way we are now...”
“Hmm.. iya, we don’t need status-lah ya. I mean, what’s the use of it? Kalo kita bisa saling sayang itu udah cukup...”
Begitulah, di tengah nyamannya suasana kafe, diselingi tegukan-tegukan kopi yang menenangkan, kami menyamankan hubungan kami dengan hubungan tanpa status. Just a fling
.

“Duh, Tashaaa...Apa yang gue rasain ke Kania is more than just a fling. Tapi kok dia ngga yakin sama gue ya? Suara Aldo menyeruak dan menutup bayangan masa lalu.
Dia tidak yakin padamu? Ah, bagus sekali. Memang sudah seharusnya seperti itu.
“Yah, kok gitu sih? Udahlah, if you’re sure about how you feel terus tunjukkin aja dengan tulus.”
I love you...I love you
“I did, I have shown her how i feel. Tapi, tau ngga apa yang dia bilang? Yang bikin gue sedih...”
“Apa?” Ah, Gadis itu membuatmu sedih, lupakan saja dia.
“Dia bilang, you know i kinda always knew i will end up only to be your ex-girlfriend. Kamu cuma mau aku ada di daftar cewek yang udah kamu taklukin, kan? Padahal kan engga, Sha...Kan, ngga semua cewek gue gituin. Buktinya, you’re still my girlfriend.
“Hah?”
“Iya, karena you’re a girl and you’re my friend. Jadi, you’re my girlfriend. Apart from our past, lo ternyata masih jadi girlfriend gue kan?
Masa lalu kita, dia ingat itu. Apakah dia ingat waktu dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan tanpa status itu dan kembali menjadi teman biasa? Aku akan selalu mengingatnya. Di pojok Kantin Fakultas Sastra yang nyaman meskipun ramai, dengan ditemani senja, aku menyadari perasaanku yang sebenarnya.

“Tasha...Gue bener-bener sayang sama lo. Gue ngga mau lo terluka. Gue ngga mau kehilangan elo...How bout if..mmm...kita akhiri hubungan tanpa status ini? Gimana kalau kita balikin statusnya jadi status pertemanan lagi?”
Deg. Otak dan hatiku beku. Aldo hanya ingin menjadi temanku saja. Aku merasa aneh. Aku sepertinya ingin menangis. Mengapa hatiku terasa sakit? Tuhan, aku benar-benar jatuh cinta kepadanya. Terlambat kusadari perasaan ini. Aku tidak mau menjadi hanya teman. Tetapi, apa yang kukatakan sangat mengkhianati perasaanku sendiri.
“Ooh...Ya udah. Emang lebih enak temenan lagi ya. Kalo pacaran kan bisa putus, kalo temen engga...” Hatiku menangis
“Bener Sha...! I love you my friend.
“Yoi.” I love you. I love you.

I am his girlfriend. Bukan, bukan pacarnya. Aku hanya teman wanitanya. Aku hanya temannya.
“Ah, gue nyerah aja deh sama Kania. Gue kan selalu punya lo Tasha. Gimana kalo lo jadi pacar gue?”
Deg. Otak dan hatiku membeku. Lidahku kelu. Aku ingin bilang iya. Iya, iya, gue mau jadi pacar lo...! Bibirku tidak bisa bergerak.
“Ah, tapi engga ah. Gue ngga pernah mau jadi pacar lo.”
Pyaar. Hatiku hancur.
“Lo terlalu berharga. Gue ngga mau kehilangan lo, jadi gue ngga pernah mau pacaran sama lo karena nanti bisa putus, kalo temenan kan jalan terus...” Aldo mengusap kepalaku.
Hiks. Hatiku menangis.

09 October, 2007

Kita di Tengah Hujan

KRIIING

“Halo?”

“Ca, lo jadi jemput gue kan? Jadi minta temenin ke Bandung kan?”

“Jadiiiiiii!!! Lo udah siap kan? Gue udah di tengah jalan nih. Bentar lagi nyampe rumah lo. Jangan-jangan lo baru bangun?”

“Yaaaahh…elo lupa nelepon gue untuk ngebangunin gue kan!”

“Ah! Iya! Aduuuh… Sori ya, Dim. Lupa. Nggak apa-apalah. Nanti gue tunggu dengan sabar. Maaf ya…”

“Wahahaha. Nggak, kok, enggak. Gue udah siap kok. Duduk manis di depan teras.”

“Wuah! Udah ganteng ya?”

“Udah doong. Mau ketemu elo, masa’ gue nggak tampil ganteng? Ya nggak? Ya nggak?”

“Ehehehe… ah dikau. Bisa aja. Ya udah, nanti kalau udah deket rumah elo, gue miskol ya.”

“Sip! Ati-ati ya. Daaah.”

“Daaah.”

Namanya Dimas. Statusnya sahabat. Dari sekian banyak orang di hidupku, hanya dia yang kuperbolehkan memanggilku dengan panggilan “Ca!” Orangnya baik, supel, ramah, sopan, pintar, dan jago mengambil hati orang. Salah satunya hatiku. Norak memang. Klise murahan, tapi aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri.

Hari ini, Dimas dengan baik hatinya setuju untuk menemaniku ke Bandung. Aku mau mengambil titipan dari tanteku yang tinggal di sana. Bukan, ini bukan rencanaku untuk membuatnya naksir padaku. Tapi jarak Bandung-Jakarta terlalu jauh untuk dilalui sendirian. Lagipula, tak mungkin aku dan dia bisa jadi pasangan. Kata orang, kita sudah terlalu dekat. Persahabatan kami ini saja sudah dicemburui banyak cewek di kampus. Aku sendiri tak yakin perasaanku ini mau diapakan karena aku tak yakin siap untuk melepas status sahabat kalau-kalau… KALAU Dimas menerima… atau menolakku.

“Hei!” Ada suara dan ketukan di jendelaku. Panjang umur.

“Hoi. Kok elo bisa tiba-tiba di luar? Gue baru mau miskol,” aku menurunkan jendelaku.

“Kan gue udah bilang tadi… gue udah duduk manis di teras. Gue bisa lihat mobil lo dari jauh.”

“Oooo… iya juga, ya.”

“Gue nyetir dong!”

“Hah. Nggak usah! Nggak apa-apa, gue aja yang nyetir!”

“Nggak,” ujarnya sambil membuka pintu mobilku, “gue aja. Pindah sana.”

Mau tak mau aku pindah ke kursi penumpang depan. Begitu mobil mulai melaju, aku menengok ke arahnya, “Dim, gue jadi nggak enak. Kan elo yang nemenin gue, masa’ elo nyetir juga?”

“Tenang aja Ca, gue kan cowok. Masa’ gue biarin elo nyetirin gue? Lagian palingan elo ngantuk sekarang. Lo tidurnya baru jam 3 kan? Bangunnya…kira-kira tadi jam 5.30.”

“Kok tau? Elo dukun ya?”

“Ca, I can read you like a book. Elo insomnia juga gue udah hafal.”

“Ahahaha, Sok tau banget sih lo,” kupukul pelan bahunya. “Tapi iya sih, tadi malem emang gue susah tidur. Biasalah.”

“Ya udah, sana. Tidur aja. Nanti kalau udah sampai, gue pasti bangunin.”

“Nggak. Gue nggak pengen tidur kok. Begini aja sih gue kuat.”

Begitulah Dimas. Pelan-pelan, tanpa ia sadari, dia membawaku terbang dan menyakitiku sekaligus. Perhatiannya padaku menjadi sesuatu yang sangat berharga… tapi pada saat yang bersamaan, aku harus menerima bahwa perhatiannya itu sudah mendarah daging di dirinya. Yang kuanggap istimewa tak berarti apa-apa untuknya.

“Nyalain iPod lo dong, Ca.”

“Oke.” Kusambungkan iPod ke tape mobilku untuk menemani perjalanan kami ke Bandung.


oOoOo


…Kok gue merem ya? Eh? EHH? ADA TANGAN SIAPA DI JIDAT GUE? Aku melonjak kaget, tersadar bahwa aku ketiduran.

“Woi. Santai. Tangan gue tuh. Tadi rambut lo kayaknya mengganggu, jadi gue pindahin ke belakang kuping lo. Udah sampai Bandung nih.”

“Uuuhhhh,” aku menggeliat. “Udah sampai ya? Duh, gue jadi malu. Tadi bilangnya nggak bakal tidur, malah ketiduran betulan.”

“Nggak apalah. Lumayan, gue nyetir dengan tenang, nggak dicerewetin.”

“Sialan.”

“Lap dulu tuh, liur lo.”

Aku terkesiap dan mulai menyeka bagian mulutku dengan tisu. Tiba-tiba Dimas mulai tertawa, “bercanda, Ca, bercanda. Nggak ngiler kok. Elo tidur dengan manis sekali,” ujarnya dengan tersenyum tulus.

Deg!

Jantungku? Atau hatiku yang berdetak keras barusan?

“Ca, keluar tol ke mana nih? Rumah tante lo di mana?”

“Kita ke arah Bandung Supermal dulu. Nanti dari situ gue tunjukkin jalannya.”


oOoOo


“Ca… Ada orangnya nggak sih ini rumah?”

“Harusnya ada. Gue udah bilang mau ambil titipan kok.”

“Tapi daritadi kita bel, nggak ada yang keluar. Coba lo telepon ke rumahnya.”

“Nggak punya nomornya.”

“HPnya, sayang.”

“Oh iya! Ih, pintar deh kamuuu…”

Ada lagu Here Comes The Sun di ujung sambungan telepon,. Tanteku memang penggemar Beatles. Tak terhitung berapa banyak CD, DVD, sampai piringan hitam yang ia miliki di rumahnya. Aku sudah mengira ia akan memanfaatkan fasilitas nada sambung sebaik-baiknya.

“Halo? Halo, Tante?”

“Eeeeh, Tasya! Tante baru mau telepon kamu! Kamu di mana? Tante di Jakarta nih, mau ngasih titipan mama kamu!”

“Hah?! Kan Tasya udah bilang Tasya mau ke rumah tante. Tasya lagi di Bandung nih!”

“Hah?! Aduh ya ampuun, tante lupa, Sayang. Sori ya. Aduh, terus gimana dong, Tasy?”

“Gimana ya?”

“Kenapa Ca? Tante lo di mana?” tanya Dimas.

“Di Jakarta, Dim. Gimana dong?” tanyaku balik.

“Ya udah. Nggak apa-apa. Kita main aja yuk!” ajaknya sambil tersenyum. Mischievous. Aku suka.

Kubalas senyumnya, “Halo? Tante? Nggak apa kok. Bilang ke mama, aku mau main-main dulu di Bandung ya. Aku mau lihat-lihat outlet.”

“Oke, Sayang. Maaf ya.”

It’s okay, Tante. Dadaah.”

“Daaah. Ati-ati ya. Bandung lagi suka hujan deras.”

Klik! Telepon kututup.

“Mau main ke mana?” aku menoleh, bertanya pada Dimas.

“Distro, outlet? You pick. Gue setirin.”

“Distro yuk! Biar gue nggak dosa-dosa amat sama elo, ngajak ke Bandung tapi sia-sia.”

“Oke. Distro, kalau begitu. Tunjukkin jalan ya.”


oOoOo


“Dim, hujan, Dim,” ujarku sambil melangkah keluar dari toko.

“Iya. Untung kita tinggal pulang. Udah puas belanja kan?”

“Udah. Gue beliin elo kaos. Tanda terima kasih.”

“Waaah. Asyiiik. Lumayan, dibelanjain. Tapi nggak perlu kok, Ca. Gue ikhlas nemenin elo.”

“Gue juga ikhlas kok beliin kaos buat elo. Eh… sebentar, gue keluarin payung dulu dari tas.”

“Ngggak usah, Ca. Lari aja yuk ke mobil.”

“Tapi hujannya deres, Dim!”

“Memangnya kenapa kalau deres? Cuma air kan, Ca?”

“Kan basah...”

“Yeee. Semua air emang bikin basah, Neng! Ayo dong!”

“Kenapa segitu pengennya sih?”

“Sebenernya… kemaren malem, gue nemenin nyokap gue nonton HBO. Ternyata lagi ada film klasik. Musical gitu. Singin’ in The Rain. Tau nggak?”

“Tau lagunya aja. Belom pernah nonton.”

“Wah, elo harus nonton. Elo pasti suka. Gue aja yang cowok nontonnya seneng kok.”

“Ng… Elo yakin masih cowok?” Candaku.

“Kurang ajar lo. Gue tuh suka cuma karena ada adegan Gene Kelly – yang main di film itu – nyanyi Singin’ in the Rain di tengah hujan. Dia bawa payung, tapi akhirnya payungnya nggak dipakai waktu dia nyanyi-nyanyi itu.”

“Oh? Kuyup dong dia?”

“Iya. Makanya gue pengen banget hujan-hujanan. Mumpung ada temennya. Atau…elo nggak mau main hujan-hujanan sama gue?” tanyanya dengan muka sok memelas, memancingku untuk tertawa.

“Ahahahha. Udah ah. Jangan sok puppy eyes gitu. Oke, gue turutin ajakan elo, Dim. Apa sih yang enggak buat elo?” Kalimat terakhir kuucapkan sepenuh hati.

“Oke,” dia menggandeng tanganku. “Hitungan ke-3, kita lari bareng ya. Satu… Dua… Tiga!!!”

Aku dan Dimas berlarian di tengah hujan. Tadinya menuju mobil, tapi tangan Dimas yang masih menggandeng tanganku tiba-tiba menarikku menjauh dari mobil. Lari kami melambat jadi langkah-langkah biasa.

I’m siiiiingin’ in the rain. Just siiiingin’in the rain…” dia mulai bernyanyi. Konyol sekali. Lucu.

What a gloooorious feeling… I’m haaappy again…” aku menyahuti nyanyiannya. Dia mulai tertawa. Aku juga. Aku tahu pasti di suatu tempat ada orang yang melihat kami dan mencibir, kalau tidak berpikir kami berdua gila, bernyanyi-nyanyi di tengah hujan.

Dia menarikku lagi sehingga kami berhadapan dan tanganku yang satu lagi digenggamnya juga. Karena kaget, tawaku jadi hilang ketika mataku bertemu matanya.

“Tau nggak,” dia meneriakkan kata-katanya bersaingan dengan suara hujan yang menderu, “kenapa Gene Kelly hujan-hujanan waktu nyanyi Singin’ In The Rain di tengah hujan, padahal dia punya payung?”

“Nggak tau! Kenapa?”aku balik bertanya, dengan suara yang berhantam juga dengan hujan.

Wajah Dimas yang sedang didera hujan tiba-tiba mendekat. Matanya susah payah melawan tetesan air untuk melihat ke mataku.

“Karena,” jawabnya sambil tersenyum lembut kepadaku, “dia lagi jatuh cinta.”

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku begitu mencintai hujan.




Ps. based on a poem with the same title.

First Kiss??!!!!

Aku masih berada di kampus, dan hujan juga masih turun dengan derasnya. Hh, aku jadi menyesal kenapa pagi ini malas membawa mobil. Teman-temanku terjebak di kantin, well, mana ada orang terjebak di kantin! Enak gitu, bisa makan, minum, ngerokok, dll. Dan gara-gara hujan yang udah menyerupai badai ini pula aku nggak sampai hati membiarkan diriku basah hanya untuk menghampiri mereka.

Koridor tempatku berada sekarang pun sudah nggak ramai lagi. Orang-orang kayaknya sudah mulai masuk kelas, karena jam pelajaran selanjutnya sudah mulai. AKu sendiri sebenarnya nggak ada kuliah, cuma gara-gara koran kampus sialan itu aku harus menyeret pantat malasku dan datang hari ini. Walau aku sangat membenci koran itu saat ini, tapi ada hari-hari lain ketika biasanya aku merasa sangat bangga. Sudah hampir tiga tahun aku bergabung dan menjadi reporter, dan semua kerja kerasku rasanya terbayar ketika awal semester ini aku diangkat jadi pemimpin redaksinya.

Yah, mari kita lupakan soal koran sialan itu dan kembali pada nasib malangku yang terjebak di koridor yang hampir kosong ini, SIAL! Mana di luar hujan nggak reda-reda, matahari yang terhalang awan gelap bikin cahaya yang masuk ke koridor ini juga makin temaram. AKu jadi ingat berbagai macam cerita yang disampaikan rutin secara turun temurun tentang hal-hal aneh yang pernah terjadi disini, hiiii...! Bulu kudukku jadi merinding. Oke, mari kita lupakan juga cerita-cerita laknat itu.

Haah, hujan memang membuat perasaan jadi sendu, apalagi saat sedang sendiri seperti aku, pasti akan membuat hati menjadi rindu, pada dia yang pergi dulu. Terasa hati bagai diiris sembilu, membuatku mati segan hidup tak mau. OKAY, STOP! That was stupid, mengingat nggak ada siapa pun yang meninggalkanku, ah jadi maluu. Mengapa aku seperti bunga layu, sehingga tiada kumbang yang menghampiriku... Yaiks!!That's corny, stooop!!

Sebenarnya hidupku baik-baik saja. Aku memiliki semua yang kubutuhkan, ya walau bukan semua yang kuinginkan, yaaa... Aku kuliah di tempat yang cukup bonafid, punya nilai yang cukup baik, orangtuaku masih lengkap plus kakek nenek yang masih sehat, dua kakak laki-laki yang menjengkelkan tapi selalu siap sedia untukku, teman-teman yang baik dan seorang sahabat sejak masa balitaku dulu. Dan... dan... well, okay, tanpa seorang pacar. Huhu, cuma itu saja yang nggak kumiliki. Dan, yah, well, dan... dan... tanpa ciuman pertama. DAMN!!!

Oke, harus kuakui, sejak teman-temanku tahu aku sama sekali belum pernah dicium oleh laki-laki manapun, kecuali keluargaku tentunya, mereka selalu dengan sukses menjadikan aku bulan-bulanan. Padahal, apa coba masalahnya? Toh aku juga masih muda, yah, walaupun memang sudah jauh lebih tua dibanding saat mereka pertama kali mendapatkannya. FOURTEEN. They got it on fourteen?!! Iuuu...14 years-old is SO young!! How come you let some 14 years-old boys, with their acnes and freckles, not to mention, BRACES, put their wet lips onto yours?? Yaiks!!! Even their voices were still squaky. Gee, girls, have some pride! Tapi, yaah, some of them were not that bad, even handsome. Me, myself used to have some crush to one of them, okay two...FINE, FIVE!! Gee, rilex! But it didn't mean that i would le them kiss me. Actually i would if they wanted to, and without my stupid braces at that time. Hhhh...my adolecent wasn't sweet at all. My father was a MONSTER!


Sebenarnya aku nggak punya masalah bergaul dengan lawan jenis, malah aku cukup akrab dengan beberapa dari mereka. AKu hanya nggak nyaman jika mereka terlalu dekat, atau mulai mengatakan hal-hal aneh. Thanks to my dad, and his horrifying tales about his kind. Walau sekarang hal itu sudah mulai kuatasi sedikit demi sedikit, tapi sepertinya label 'frigid' sudah terlanjur menempel padaku. Nggak heran nggak ada laki-laki didekatku yang pernah mengirimkan sinyal-sinyal aneh, nggak peduli seberapa kuat aku mencoba memancarkan feromonku. Menyebalkan!

Sepertinya hujan sudah mulai reda. Mungkin sekarang aku sudah cukup aman untuk pergi ke kantin. Sebaiknya aku bergegas, sebelum hujan mulai turun lagi. Aku pun membereskan bawaanku dan segera berlari menuju pintu keluar koridor. Malangnya karena terburu-buru, kancing tasku terlepas, dan sambil terus berlari, aku menunduk dan memasangnya lagi. TIba-tiba badanku ditabrak seseorang, karena kaget aku mendongak, tapi rupanya orang itu juga kaget, sehingga badannya jadi nggak stabil, dan...

"cup"

bibirnya MENEMPEL dengan bibirku, karena dia hampir jatuh ke depan. Aku kaget, dan membeku. AKu bisa merasakan mataku terbelalak menatapnya. Oh Tuhan, mukanya dipenuhi bintik-bintik cokelat, dan apa itu di keningnya? Apakah itu jerawat? Oh Tuhan itu MEMANG jerawat!! Yaiks!!!!!!!

Dia sepertinya sama kagetnya denganku.

"Ma..maaf..." dia berkata pelan. Ya ampuuuuun....bahkan suaranya pun squeaky. Why...why...ahy God?! Why do you let this happened to me?

My First Kiss??!!! ARRGGHHHH..........!!!!!!!!!

04 October, 2007

Sempurna

“Permisi,” aku merasakan bahuku ditepuk seseorang. Siapa?

“Ya?” ujarku sambil menengok dan sepersekian detik kemudian aku menyesal telah menengok.

“Dina? Gila! Tebakanku benar! Aku lihat kamu tadi masuk lobby… ”

Mantanku. Urgh. Kenapa dari sekian juta mall yang ada di Jakarta, orang ini bisa tiba-tiba muncul di mall yang sama denganku.

“Hai! Ya ampun, kita udah lama banget ya nggak ketemu,” terpaksa aku basa-basi.

“Iya. Aku kangen banget,” tiba-tiba dia memelukku – dan aku hanya bisa pasrah, bercampur kaget… dan sedikit perasaan rindu berdesir di hatiku.

“Tama, jangan main peluk-peluk dong. Kaget.”

“Hahaha… Iya. Sori. Old habits die hard. Biasa,” dia masih tetap ramah seperti dulu. “Din, kamu sendirian? Atau sama siapa?”

“Sendirian,” jawabku, dan kembali aku menyesal.

“Nggak sama pacar?”

“Haha, enggak.”

“Enggak sama pacar atau enggak ada pacar?”

Setelah mempertimbangkan jawaban yang pantas kuutarakan, akhirnya aku memutuskan untuk balik bertanya, “kamu sendiri?”

“Dua-duanya,” ujarnya sambil tersenyum, melihat lurus ke mataku.

Aku tak pernah merasa nyaman jika ada yang menatap lurus ke mataku seperti itu. Apalagi dia. Aku harus melarikan diri dari sini.

“Ng… sebenarnya aku di sini mau ketemu klienku. Kita ada lunch meeting,”

“Oh, gitu,” dia terdiam sebentar. “I see your old habit die hard too, ya?”

“Maksud kamu?”

You know…”

No, I don’t. Tapi aku nggak bisa ngobrolin ini sekarang. Takut telat. Aku duluan ya.”

“Wah, oke kalau gitu. You should call me sometime. Masih ada nomorku kan?”

“Masih. I will.”

“Oke. Take care ya Din,” ujarnya sambil mengusap rambutku.

“Kamu juga, Tam. Daah.”

Setelah dia menghilang di tengah kerumunan orang, aku buru-buru melangkah ke arah parkiran untuk meninggalkan mall itu. Meninggalkan Tama. Lagi.

oOoOo

Pertemuan dengan Tama mengingatkanku pada jurnal-jurnal usang yang tertumpuk di rak buku. Semua ada di sana. Semua kenangan, semua cerita cinta indah sekaligus norak yang pernah terjadi di antara aku dan dia. Semua sms centil yang Tama kirimkan padaku, yang selalu aku tunjukkan keesokannya kepada Rina – sahabatku sewaktu kuliah dulu – tertulis di jurnal-jurnal itu.

I see your old habit die hard too, ya?” Teringat kembali kata-katanya tadi siang. Aku tahu persis apa maksudnya. Kebiasaan itu tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan klien ataupun lunch meeting. Maksudnya adalah kebiasaanku melarikan diri.

Hubunganku dengannya hanya berlangsung beberapa bulan saja. Padahal kami sudah dekat selama beberapa tahun. Dan setelah itu, setelah kami putus, aku menghindarinya dengan 1001 cara. Commitment phobe? Mungkin. Aku tak tahu. Yang jelas, di bulan ketiga, aku sudah malas mengangkat teleponnya, malas membalas SMS, bahkan malas bertemu. Jangan tanya. Aku sendiri juga heran. Padahal tidak ada yang salah dengan Tama. Baik, ramah, gentleman, pintar, liked things that I liked.

Sempurna.

Ah… tapi mungkin itu dia masalahnya. Call me crazy, tapi aku punya kecurigaan yang besar terhadap hal-hal yang terlihat sempurna. Too perfect things bound to fall apart.

KRIIIING!


Telepon? Jam segini? Aku melirik ke arah wekerku yang menunjukkan angka 23.41 di layarnya. Siapa?

“Halo?” kuangkat juga telepon itu.

“Halo.”

“Oh, kamu,” Tama ternyata. “udah malem gini masih bangun?”

“Masih dong. Emangnya kamu bukan kalong lagi sekarang?”

“Masih sih. Tapi hari ini aku capek banget, jadi nggak kayak kalong,” berbohong lagi.

“Oh gitu? Kalau aku sih jadi kepikiran kamu terus karena kita ketemu tadi siang.”

“Oh ya?”

“Iya. Dan lagian, aku ragu kamu bakal telepon aku. Makanya aku telepon kamu duluan. Kita
harus ketemu.”

“Ketemu? Kenapa?”

“Kok kenapa? Aku pengen catch up on things. Kamu kerja di mana, kabar mama-papa kamu gimana. Things like that. Kamu nggak pengen?”

Ada nada kecewa di suaranya… Akhirnya aku menyerah. Sebetulnya, terlepas dari hati eksteriorku, harus kuakui, Tama masih membekas di hatiku.

“Oke. Boleh. Kamu mau ketemu di mana?”

Starbucks Kemang.”

Deg! Aku tersentak sesaat.

“Di sana?”

“Iya. Kenapa?”

“Nggak. Nggak apa-apa. Mau kapan?”

“Sabtu. Jam 10 pagi.”

“…”

“Oke ya?”

“Ng… Oke.”

“Ya udah. ‘Till then, Din. Selamat tidur ya.”

“Yup. Thanks, Tam. You too.”

Klik!


Begitu telepon ditutup, buru-buru kubuka sebuah jurnal dan mencari tulisan pertamaku setelah putus dari Tama:
Jakarta, 01 Juni 2005

Sabtu, pukul 10 pagi. Aku datang lebih dulu, menunggumu di sebuah kafe. Aku mendudukkan diri di bangku paling depan, yang paling dekat dengan pintu. Dengan demikian aku bisa melihatmu dengan mudah ketika kamu datang nanti.
Ah… bohong.
Aku memilih bangku itu agar salah satu dari kita bisa cepat-cepat keluar dari kafe ini sekaligus percakapan kita nanti.

oOoOo

“Kamu tau nggak? Si Budi itu sekarang udah nikah!”

“Oh ya?! Sama siapa?” Tak kusangka pertemuan ini berubah menyenangkan. Aku dan Tama masih bisa ngobrol dengan ceria. Dia memang betul-betul tak berubah. Hanya dalam 1 jam dia bisa mengubahku secara total. Aku yang tadinya bukan main ogah-ogahan bahkan hanya untuk bertemu, sekarang bisa bercanda dan bertukar cerita dengannya. Baru aku tersadar, he was, and still is the only one who can make me feel like a whole person.

“Sama… Jangan kaget ya. Sama Bu Diah!”

“Dosen kita?!?!?!”

“Iya! Hahahahahaha…”

“Gila! Kok bisa?”

“Aku juga nggak tau! Tiba-tiba dia nelepon aku ke kantor dan bilang soal pernikahannya itu. Mereka nggak ada resepsi. Kabarnya sih pernikahannya emang ditentang sana-sini.”

“Oh…” Aku mengangguk-angguk tanda mengerti. Dalam hati aku cemas karena dia mengungkit pernikahan. Ini artinya dia akan mengungkit tentang hubungan kami dulu.

“Kamu?” Nah ini dia.

“Apa?”

“Kamu ada rencana mau nikah?”

Aku menggeleng. “Tidak ada sama sekali. Bukannya waktu itu aku bilang aku nggak ada pacar?”

“Nggak. Kamu cuma balik nanya sama aku.”

“Oh? Iya ya?”

“Iya.”

Sesaat pembicaraan terhenti. Aku tak tau apa yang dipikirkannya, tapi yang jelas aku merasa awkward.

Tiba-tiba tangannya meraih jari-jariku. “Aku dulu sempat mikir kita bakal nikah,” ujarnya dengan lembut.

“Bohong. Kamu bercanda ya?”

“Nggak, aku serius,” jawabnya sambil masih memainkan jari-jariku. Aku membiarkan tanganku di tangannya. Nyatanya aku kangen dengan gandengan tangannya.

“Kamu nggak pernah bilang, Tam.”

“Din, bagaimana aku bisa bilang ke kamu? Teleponku kamu reject. SMS-ku kamu nggak pernah bales. Ketemuan pun kita susah. Kamu bilang lagi ujian lah. Lagi sibuk buat acara keluarga lah. Aku bisa apa?”

Aku diam. Menarik tanganku agar tampaknya aku hendak meminum kopi yang tersisa di cangkir – padahal cangkir itu telah kosong. “Maaf, Tam.” Aku menunduk.

“Hahaha. Udah. Jangan minta maaf. Aku mau bilang ke kamu sekarang,” dia mengambil tanganku lagi dan kali ini dia kembali menatap mataku, “aku… kali ini mau menikah betulan.”

“Kamu… menikah? Dengan siapa?” Aku tercekat. Di hatiku yang paling dalam, aku ingin sekali dia menyebut namaku lagi.

“Kamu… kamu tau orangnya,” matanya menatapku lembut sekali. Untuk pertama kalinya aku tak keberatan ditatapnya. Aku suka situasi ini. Seperti ciuman pertama Terry dan Nicky di film An Affair To Remember.

Sempurna.

KLING-KLING.


Perhatianku pecah karena bunyi lonceng yang datang dari pintu kafe di belakangku. Seseorang baru saja masuk.

“Din. Kamu tau orangnya,” ujar Tama sekali lagi.

“Siapa?” Hatiku mulai berdebar. Katakan! Katakan sekarang! Katakan namaku sekarang! Aku bersumpah aku akan menjadi istri nomor satu di dunia. Aku bersumpah penyakit melarikan diri yang kuidap itu akan pergi untuk selamanya. Aku janji akan–

“Hai! Kalian sudah selesai ngobrolnya?” Ada suara yang datang dari balik punggungku.

“Rina?! Rinaaaa!! Apa kabaaar?” Rina, sahabatku dulu. Aku bangun dari duduk untuk memeluknya. Bertambah lagi kegembiraanku hari ini, “kok bisa sih kita ketemu lagi di sini?”

Dengan tersenyum Rina menoleh ke arah Tama, “Tam? Belum selesai ya ngobrolnya?”
Tama tersenyum, “Sudah hampir kok.” Dia lalu bangun dari duduknya dan meraih tanganku
lagi. Aku menoleh ke arahnya. Ini dia, pikirku. Ini dia saatnya kamu menyebut namaku, Tama.

“Dina…”

“Iya, Tama?”

“Tunanganku. Kamu sudah kenal kan sama Rina?”

Deg! Serta merta aku melepaskan pegangan tanganku dari tangan Tama. Seperti orang linglung pikiranku sempat hilang. Sesaat semuanya berjalan dengan slow motion dan dalam warna hitam-putih seperti film-film lama. Akhirnya setelah disadarkan oleh sakit hati, kupeluk lagi Rina untuk mengucapkan selamat dengan getir. Rina yang tak tahu apa-apa mengucapkan terima kasih kepadaku dengan tulus.

“Tama…” kusodorkan tangan kananku untuk memberinya selamat, “Selamat ya.”

“Makasih ya, Dina,” ujarnya sambil menarikku ke dalam pelukannya. Di telingaku ia bisikkan, “kamu kira… aku nggak bisa membalas kamu?”

...

Sempurna.

In My Empty Office

Kantor itu bisa dikatakan kosong, hampir semua orang pergi meninggalkan mejanya masing-masing. Ada yang makan siang, merokok di tangga darurat, kepemakaman teman kantor yang ibunya baru saja meninggal, atau sedang bepergian ke luar daerah untuk tugas kantor.

Di pojok belakang ada seorang gadis yang memandang kosong pada layar komputernya, berharap ada sesuatu yang menarik di layar tersebut. Dengan malas dia menekan-nekan mouse, mencoba mengecek e-mail, tapi semuanya hanya berisi berita tidak penting, entah forward-forward-an basi, up date dari friendster, atau info tentang event-event yang sama sekali tidak menggugah minatnya. Telpon di meja gadis itu sudah dari tadi berbunyi, sampai akhirnya meraung-raung, tap gadis itu berhasil dengan sukses menulikan telinganya. Dia bosan dengan semua penelepon-penelepon itu yang biasanya hanya akan merusak harinya.

Dia menegakkan duduknya, memandang berkeliling kantor, mencari-cari seseorang entah siapa yang mungkin bisa diajaknya bercengkrama. Para perokok sudah kembali dari tangga darurat, tetapi sepertinya mereka ingin segera menyelesaikan pekerjaan agar bisa langsung meninggalkan kantor begitu bel pulang berbunyi. Sementara orang-orang yang makan siang, yang biasanya menjadi teman bercengkarama gadis itu belum ada satupun yang kembali. Gadis itu menghela nafas, bosan.

Dia mengecek HP nya berharap entah siapa cukup berbaik hati menghubungi dan memberi sedikit warna pada harinya yang suram, tapi layar HP nya pun kosong. Sepertinya hari ini semua orang punya kesibukan mereka masing-masing. Dia lalu membuka layar instant massagenya, mungkin ada seseorang entah dimana, merasakan hal yang sama dengannya dan ingin berbicara. Tapi yang dia temukan hanya lah daftar offline. Gadis itu mengutuk dalam hati, ada apa dengan orang-orang hari ini.

Dia memandang telepon kantor, yang sepertinya telah kehabisan energi dan terdiam, sambil berfikir mungkin dia bisa menghubungi seseorang. Dia mengangkat gagang telponnya, lalu menekan kode pribadi dan sederet nomor yang telah dihapalnya semenjak beberapa bulan terakhir. Dia mendengar nada sambung, menunggu dengan sabar sampai seseorang di seberang sana menjawab telponnya. Nada sambung terus berbunyi, tanpa ada seorang pun yang menjawab, dia akhirnya menyerah dan meletakkan telepon tersebut. Setelah memandang telpon itu cukup lama, dia lalu memiringkan letaknya, agar tidak ada seorang pun yang bisa menghubunginya.

Gadis itu kembali termangu, tibatiba dia merasakan tekanan yang cukup besar didadanya. Rasanya sangat menyesakkan, seakan-akan ada seseorang atau sesuatu yang mencengkram paru-parunya sehingga dia kesulitan untuk bernafas. Dia memandang kesekelilingnya, berharap dapat memanggil seseorang, tapi bahkan kini cengkraman itu telah meluas dan naik ke tenggorokannya, mencegah suaranya keluar. Dia lalu mencoba bangkit dan berdiri, tangannya mencengkram dada, sambil berharap dengan begitu mungkin tekanan diparu-parunya akan berkurang, tapi tidak sama sekali. Tekanan di paru-parunya justru semakin menyesakkan. Pandangannya mulai kabur, samar-samar dia mendengar HP nya berbunyi, dia mencoba meraih HP tersebut, tapi entah kenapa letaknya terlalu jauh, sehingga tidak terjangkau. Lalu dia melihat layar komputernya berkedip-kedip, tanda ada yang mengiriminya pesan, dia mencoba menekan tombol keyboardnya, membuka pesan yang diterimanya, tapi kini bahkan tenaganya tidak cukup untuk menekan tombol-tombol kecil itu.

Gadis itu memandang kesekeliling, panik. Dadanya terasa semakin sesak, dia mencoba duduk kembali, karena kakinya seakan tidak kuat menopang badannya. Dia menelungkupkan badan diatas meja, mencoba menghirup udara sebanyak mungkin, tapi AC di ruangan itu terlalu dingin, sehingga udara yang terhirup terasa menyakitkan. Dia menegakkan badannya kembali, pandangannya sungguh gelap sekarang. Tapi samar-samar dia melihat seseorang datang, dia merasa lega, seseorang akan datang, orang itu akan menyelamatkannya. Mungkin orang itu dapat memabantunya melepaskan cengkraman didadanya, dan dia dapat bernafas lagi. Sosok orang tersebut semakin dekat, gadis itu mengulurkan tangan, berusaha menggapai. Akhirnya dia dapat melihat orang tersebut dengan jelas, tapi aneh sekali, itu ibunya, apa yang ibu lakukan dikantornya.

Lalu dibelakang ibunya dia melihat beberapa orang lagi berdatangan, mereka berlarian, mungkin mereka menyadari ada yang salah dengan dirinya lalu segera datang untuk membantu. Gadis itu menyipitkan matanya mencoba memandang lebih jelas diantara kabut hitam yang menghalangi pandangannya. Sosok-sosok itu, mereka cukup banyak mungkin ada 7 atau 8, ditambah ibunya. Tapi kenapa mereka hanya berdiri membeku disitu, apakah mereka tidak melihat bahwa ada yang tidak beres, tidak sadar ada yang salah dengan dirinya. Ibunya, bagaimana mungkin ibunya hanya berdiri mematung disitu, dan bukannya menghampiri dan membantu.

Nafasnya semakin sesak, dan pandangannya semakin gelap, dan dia mencoba berdiri. Namun kakinya terasa hanya bagai gumpalan daging yang tidak akan mungkin kuat menjadi tumpuan. Gadis itu terjatuh kelantai. Dia mengangkat kepala memandang ke arah orang-orang yang berkerumun, mencoba memberi tahu mereka dengan matanya bahwa mungkin dia sedang sekarat. Tolong bantu dia. Tapi orang-orang itu tetap mematung, mereka hanya memandang gadis itu tanpa ekspresi, seakan-akan mereka tidak mengenalnya. Gadis itu mengulurkan tangan dan mencoba menyeret badannya untuk menghampiri mereka, tapi mereka seperti menjauh, padahal gadis itu tidak melihat mereka bergerak.
Dia lalu membuka mulut, mencoba memanggil, tapi tidak ada suara yang keluar, hanya angin, yang malah membuatnya semakin kesulitan bernafas. Seakan semua udara dan cadangan oksigen diparu-parunya tertarik keluar. Pandangannya semakin hitam, dadanya semakin sesak, dan terasa menyakitkan. Kini dia bahkan tidak dapat merasakan tubuhnya lagi.

Sang gadis mulai dicekam ketakutan, harapan yang tadinya sempat ada melihat orang-orang itu datang mulai menguap, bersamaan dengan semua udara yang tertinggal di badannya.

Dia merasakan matanya mulai memanas, airmatanya mulai keluar. Dia merasakan pipinya menjadi hangat karena air mata yang membasahi. Dia berharap dapat menghentikan tangisannya, dia tidak ingin menangis, dia tidak ingin menjadi lemah. Bahkan didetik-detik terakhir keberadaannya. Tapi kali ini, dia tahu, dia tidak akan bisa berhenti, dia tidak punya tenaga untuk bertahan, untuk menahan. Dia menelentangkan badannya, terbaring pasrah, membiarkan semua air matanya keluar. Tidak peduli pada sekelilingnya, pada orang-orang yang hanya diam, terpaku, termangu memandanginya. Dia akan mati sebentar lagi, apa peduli mereka.

Tangisannya semakin keras, dia belum pernah menangis seperti ini lagi. Tidak semenjak dia meninggalkan masa kecilnya. Tapi anehnya semakin keras dia menangis, semakin berkurang pula semua cengkraman di dadanya. Kini dia bahkan mulai bisa merasakan tubuhnya lagi, dia mulai bisa menghirup udara lagi. Tapi dia tetap tidak bisa berhenti menangis. Badannya mulai hangat, AC dikantornya mulai tidak terasa terlalu dingin lagi, udara yang dihirupnya mulai terasa normal. Orang2 itu mulai membentuk sosok yang jelas, dan tidak hanya bayangan2 hitam seperti sebelumnya. Dia juga mulai bisa melihat siapa mereka sebenarnya.

Selain ibunya, mereka adalah teman2nya. Mereka tidak lagi hanya berdiri terpaku dan memandangnya dengan tatapan kosong. Tatapan mereka sebenarnya hangat, entah itu baru saja atau memang sudah semenjak tadi dan hanya dia tidak bisa melihatnya.

Mereka juga tersenyum, tapi lalu sosok mereka semakin samar, seperti hanya bayangan. Bayangan2 mereka semakin mengabur, hingga akhirnya yang tertinggal hanyalah berkas sinar matahari yang masuk melalui jendela kantor, dan menyinari seluruh ruangan.

Gadis itu mulai bangkit, tangisnya sudah mulai mereda dan dia sudah bisa bernafas normal. Dia mencoba duduk di kursinya lagi, dan menghela nafas panjang. Lega. Kantornya sudah mulai ramai, orang-orang sudah kembali dari istirahat makan siang mereka. Layar komputernya masih berkedip-kedip, HPnya kembali berdering, tapi kini dia yakin dapat menjangkaunya.

Dia memandang keluar, langit mendung dan hujan pastinya akan segera turun. Tapi, berkas-berkas cahaya matahari diantara awan gelap terlihat sangat indah. Biasnya samar-samar jatuh di atas atap gedung. Gadis itu tersenyum, dia membetulkan letak telpon, meraih HP, dan mulai membuka pesan-pesannya.

Dan hari pun terus bergulir, di kantor yang tak lagi kosong itu.

03 October, 2007

Folie A Deux

Dua hari yang lalu dia meneleponku. Dennis – orang yang pernah dekat denganku waktu kuliah dulu – bilang bahwa dia ingin mengajakku jalan-jalan.

Apa salahnya, pikirku. Ketika dia menanyakan berapa hari aku bisa menemaninya jalan-jalan, kubilang dengan pasti, “dua!” Kukira hari pertama kami bisa lunch, lalu dari lunch itu kami bisa menentukan lagi apa yang kami bisa lakukan keesokan harinya. Tapi nyatanya dia mengajakku untuk menginap. Dan aku yang sudah dari sananya susah menolak, apalagi meralat janji 2 hari untuknya, mengatakan “iya” dengan enggan.

“Kok jawabnya males-malesan? Kalau nggak mau, bilang aja.”

“Bukan gitu...”

“Kamu sendiri yang bilang kamu punya waktu 2 hari buat aku.”

“Iya sih.”

“Jadi?”

“Ya udah lah.”

“Oke. Kalau gitu nanti aku hubungi kamu lagi ya soal tempat dan lain-lainnya.”

“Iya. Dadah.”

“Daah.”

KLIK!


oOoOo


00.38

“Ranti tahu kamu di sini sama aku?” tanyaku.

Dennis menggeleng pelan, lalu tersenyum padaku dan bertanya, “kenapa? Menurutku itu nggak perlu.”

Aku sebal bukan main, “dia kan pacar kamu. Kamu ‘kan yang bilang sendiri kalau it’s the best relationship you’ve ever had.”

“Lalu kenapa kamu di sini, Tan?” tanyanya padaku.

“Jujur,” aku menatapnya tajam, “aku nggak tega untuk nolak. Dan aku keburu bilang aku free. Sebetulnya aku sama sekali nggak berencana untuk menginap.”

Dia tersenyum yang rasanya membuatku ingin merobek mulutnya, “berarti kamu masih peduli sama aku ‘kan? Direncanakan atau enggak, kamu ada di sini sekarang.”

Aku diam, tak punya kata-kata lain untuk diucapkan. Yang ada hanya rasa gondok. “Aku mau tidur,” akhirnya aku mengakhiri pembicaraan kami dengan beranjak masuk kembali ke cottage.

“Oke. Sisain tempat untuk aku.”

SIAALL! Aku lupa hanya ada 1 tempat tidur.

“Dennis! Heh, buaya,” aku melongokkan kepalaku ke teras tempat kami tadi duduk-duduk, “jangan macam-macam nanti malam.”

Dia menoleh padaku dan tersenyum tanpa mengatakan apa-apa. Aku menyerah dan masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian tidur. Jeans yang kukenakan dari pagi sudah kotor di sana-sini.


02.20

“Tan... Tania, kamu udah tidur?”

Belum. Mana bisa gue tidur di sebelah buaya? Tapi aku tak mau bergerak. Jantungku berdebar tak karuan. Takut.

Tak mendapat reaksi dariku, ia tak berkata apa-apa lagi. Jantungku mulai tenang... tapi tiba-tiba aku merasakan usapan lembut di rambutku. Setelah itu aku terkejut karena ia mencium keningku, sebelum kembali mengusap-usap rambutku seperti hendak menidurkan anak kecil.

“Ngapain usap-usap rambut?” tanyaku, akhirnya memutuskan untuk membuka mata.

“Enggak... nggak kenapa-kenapa,” jawabnya. “Aku suka ngelihat kamu tidur. Sana, tidur lagi.”

“Kamu nggak tidur?”

“Memangnya kamu peduli? Bukannya tadi kamu bilang aku buaya?”

Aku membetulkan bantal sehingga posisiku sekarang sama dengan dia, setengah duduk, “memang buaya. Tapi buaya juga perlu tidur.”

Dia tertawa, “kamu baik ya.”

“Aku nggak sebaik itu,” jawabku asal-asalan.

“Tan... “

“Ya?”

“Maaf.”

“Maaf kenapa? Yang jelas kalau ngomong,” sahutku ketus, ingin cepat kembali tidur.

“Maaf... aku ninggalin hubungan kita untuk jadian sama Ranti.”

“Oh... soal itu. Nggak apa. It’s over a long time ago. I’m not sure aku masih mikirin itu,” aku bohong. “Kamu masih mikirin itu?”

“Masih...”

“Lalu soal the best relationship you’ve ever had?”

“Itu emang betul... tapi aku juga selalu mikirin kamu.”

“Kamu emang buaya.”

“Dan aku buaya yang ngaku buaya. Aku nggak bohong. Kamu kira kenapa aku ngajak kamu ke sini dan bukan Ranti? Aku tau kita nggak bakal macam-macam. Dan itulah seberapa besar sayang aku ke kamu.”

That does it. Keterlaluan sekali orang ini. “Kalau kamu betulan sayang, kenapa kamu tinggalin aku dulu? Kenapa kamu diam-diam pindah ke Ranti?” Jangan nangis sekarang.

Terlambat. Airmata keluar sudah. Terbongkarlah kalau semua ucapan ketus dan perbuatan kasarku hanya untuk menutupi sakit hati. Dia hanya diam dan menunduk. Keluar lagi kata ‘maaf’ dari bibirnya.

“Aku nggak perlu maaf kamu,” sambarku, “aku mau tidur lagi!” Aku mengubah diri dari posisi duduk ke posisi tidur, kali ini membelakangi Dennis.

Don’t cry, Tania sayang. Aku dulu paling sedih ngelihat kamu nangis, dan sampai sekarang pun aku masih sedih kalau kamu nangis.”

Shut up.” Aku masih terisak.

Ia mulai bergerak, aku tak yakin tapi sepertinya dia mengikuti posisi tidurku.

Dan benar, dilingkarkan tangannya di pinggangku...

What the hell are you doing, you bastard?!

Get your hands off me! Kamu kira dengan meluk aku kayak gini masalahnya selesai?”

Dari belakangku dia menjawab, “aku nggak ada maksud apa-apa. Anggap ini wujud permintaan maaf aku ke kamu. Kamu boleh nangis sepuasnya.”

“Aku udah bilang tadi, aku nggak perlu maaf kamu. Aku nggak perlu pelukan kamu. Mau nangis sepuasnya, itu urusan aku!” Sekuat tenaga aku berusaha melepaskan tangannya... tapi ternyata melakukannya dibarengi dengan tangisan betul-betul susah. Pada kenyataannya aku menangis sampai aku tertidur lagi – di tangan Dennis.


03.14

Aku melihat jam di handphoneku. Tangan Dennis masih melingkar di tempat yang sama. Dengan hati-hati agar tak membangunkannya dari tidur, aku memindahkan tangannya dan beranjak ke arah kulkas. Aku perlu minum. Menangis benar-benar menguras tenaga.

Aku tak pernah mengira akan menangis seperti itu di depannya. Selama ini, sejak ia meninggalkanku untuk Ranti, aku seperti tak pernah merasakan sakit hati. Santai. Rasanya seperti tak pernah menjalin hubungan dengan Dennis sama sekali.Tiap kali aku bertemu dengan Ranti dan Dennis, aku selalu tersenyum dan menyapa mereka lebih dulu. Ranti yang justru terlihat tidak enak berada di dekatku.

Melihat selimut yang sebagian besar berada di sisi tempat tidur yang kupakai menangis tadi, aku jadi kasihan. Akhirnya kuselimuti juga dia. Dia masih tidur dengan pulas. Sementara aku kembali ke sofa, menyalakan tv dengan suara yang sekecil-kecilnya.


03.37

“Kamu lagi apa?” ada suara mengantuk yang datang dari arah tempat tidur.

Aku menoleh, “nonton.”

“Nonton apa? Emangnya ada yang bagus jam segini?”

“Nggak ada... Aku... aku sambil mikir.”

“Mikir? Tentang apa?”

“Tentang aku, kamu, dan Ranti.”

“Oh...”

“Iya... dan aku mau minta maaf. I overreacted. I was fine before but i guess this whole thing triggered the timebomb.

“Nggak apa. Itu hak kamu. Aku emang salah. Dari dulu pun aku tahu itu.”

“Ranti benar-benar nggak tahu kamu di sini sama aku?”

“Sama sekali nggak tahu.”

Isn’t this cheating?”

Yes.”

And you’re fine about it?

No... but i’m thankful for this moment. Aku jadi ingat betapa nyamannya berada dekat kamu, Tan,” senyumnya lembut.

“Dan aku jadi ingat betapa gombalnya kamu, Den,” senyumku sarkastik.

‘Hahaha. Truth or truth?” Ajaknya menantangku bermain, “considering nggak ada orang yang bisa kita pakai untuk dare...”

Shoot.
Did you love me? DO you love me?” tanyanya. Sial, dia tembak langsung.

Aku diam sesaat... menimang-nimang apakah aku bisa menjawab pertanyaannya.

“Tan... kalau kamu nggak mau jawab –“ ujarnya.

“Aku mau jawab,” sambarku. Aku sebal. Merasa ditantang, “yes... and yes,” ada keheningan di kamar, tapi aku menyambungnya cepat, “same question, back at you.

“Jawabanku... sama untuk dua-duanya.”

Aku kaget, tidak mengira jawaban itu akan muncul.

“Tan... what are you thinking now?”

I’m thinking... i’m thinking nothing. Jawaban kamu bikin aku kaget. My turn, same question lagi.”

“Ah! Curang nih! Masa’ same question terus?”

“Biarin. Mana jawaban kamu.”

Okay. I’m thinking... betapa nyamannya having you by my side ketika bangun dari tidur.”
I like having someone to wake up to, too,” tanpa sadar aku sudah membuka hatiku lagi untuknya.

Dia tersenyum. “Kamu nggak tidur lagi? Kita harus ngantor besok... eh, nanti, maksud aku,” ujarnya sambil menepuk-nepuk bantalku.

Dengan gontai aku berjalan ke arah tempat tidur dan memasang diri ke posisi sebelum aku terbangun. Tangan Dennis melingkari pinggangku lagi. Tapi kali ini tak kutampik-tampik. Biarlah malam ini menjadi 1 kelemahanku. Dia mendekat...lebih dekat lagi...dan lagi. Dia cium tengkukku dan mempererat pelukannya. Aku diam tak bergerak.

Kami berdua tertidur lelap malam itu.


07.00

“...ang, iya. Ini aku lagi mau ganti baju... Iya, kan aku lembur di kantor kemarin.” Aku membuka mata dan mendengar suara Dennis di belakangku, berbicara melalui handphonenya. Aku bisa mendengar suara lawan bicaranya. Mudah ditebak – pasti Ranti.
Go back to sleep,” ujarnya ketika melihatku terbangun.
Work.”
We got 10 minutes,” dia menaruh tangan kirinya di punggungku dan menarikku mendekatinya. Aku dipeluknya lagi, kali ini téte-â-téte, “atau kita mau absen? Izin sakit?”

Sudah gila dia!

“Boleh.”
Atau mungkin aku sudah ikut jadi gila.




PS: just to be clear (karena gue pernah ditanya), this is NOT a 100% true story.