Copyright © lakeview creativity
Design by Dzignine

17 September, 2013

Saat Senja

Sudah lama kami tidak ke sini. Tempat ini masih sama. Hembusan angin yang sama, bau asin yang sama, bahkan warna langit yang sama. Pasir basah dan sedikit runcing karang membuat kami harus berjalan dengan perlahan. Kami telah melepas sepatu kami sejak turun ke pantai ini. Aku selalu menyukai tempat ini, menyukai keterasingannya, menyukai deburan ombaknya, dan menyukai kesunyiannya yang sekarang semakin tak bertahan lama. Dulu rasanya, sudut pantai ini hanya milik kami berdua.

Dia menggenggam tanganku, dan aku mendongak menatapnya. Helaian rambutnya yang tertiup angin membuat tanganku secara otomatis ingin terangkat untuk merapikannya. Tapi senyumnya, tatapan matanya, dan genggaman tangannya, menahanku. Aku hanya ingin meresapi saat ini. Merasakan kehadirannya di sampingku. Membiarkan tangannya menggenggam tanganku, dan merasakan semilir angin yang perlahan membawa bau tubuhnya kepadaku.

Tempat ini dan dia, semuanya terasa sempurna.

Mungkin aku harusnya mengatakan sesuatu. Mungkin aku seharusnya tidak membiarkan sunyi ini terlalu berlarut-larut, tapi seolah tak ada lagi yang tersisa. Aku dan dia, kami memahami dalam diam. Aku dan dia, kami sudah saling mengenal setiap incinya dari tubuh kami masing-masing, setiap mimik, setiap senyuman, setiap kerutan, dan bahkan setiap kerlingan. Aku dulu tak pernah menyangka, bahwa hilangnya misteri bisa menjadi sesuatu yang memabukkan. Aku dulu selalu berpikir bahwa harusnya selalu ada satu bagian kecil yang kami sembunyikan, sesuatu yang kami sisakan hanya untuk diri kami sendiri, sesuatu yang menjadi milik kami pribadi tanpa perlu kami bagi. Bahwa sedikit misteri akan membuat segalanya terjaga, sedikit misteri akan membuatnya tetap baik-baik saja. Tapi apalah yang aku tahu.
Matahari semakin turun, sinarnya mulai berganti jingga. Sebentar lagi lembayung akan memenuhi langit. Biasanya kami akan duduk di sini, menatap matahari sampai dia akhirnya undur diri. Membiarkan langit berganti gelap, menunggu munculnya bintang, dan mencoba bertahan sampai akhirnya angin malam mengusir kami.

Tapi kali ini berbeda. Ada sesuatu yang istimewa ketika langit dikuasai jingga. Ada sesuatu yang agung, sesuatu yang tidak tergantikan. Sesuatu yang membuat apa yang akan kami lakukan terasa benar. Membuatnya bisa sedikit lebih dipahami.

Tanpa sadar, genggaman tanganku mengencang, dan dia menoleh menatapku. Dia mengangkat sebelah tangannya untuk mengelus pipiku. Merasakan panas yang menguar dari tubuhku. Aku mencintainya, aku sangat mencintainya.

Aku merengkuh tubuhnya, membiarkan tangannya melingkari tubuhku, dan mendekapku erat. Sekali ini saja, sekali ini lagi. Tangannya kembali menangkup pipiku, dan aku memejamkan mata. Membiarkan bibirnya yang hangat membelai sudut bibirku, membiarkannya membelai tubuhku. Aku hanya ingin saat ini. Saat ketika napasnya yang hangat berhembus di wajahku. Saat ketika bibirnya memagut bibirku. Saat ketika tubuh kami saling mendekap tanpa menyisakan celah walau hanya untuk semilir angin.

Aku ingin merobek bajunya, dan memagut bibirnya. Aku ingin menelanjangi tubuhnya, dan mencicipi setiap jengkal kulitnya. Aku ingin merasakan rasa dan tekstur kulitnya, hangat tubuhnya, aroma khasnya, seluruhnya. Tapi yang kami miliki hanya ini.

Sebuah ciuman terakhir saat senja kala. Ciuman saat langit berwarna jingga. Ciuman bersama lembayung senja. Ciuman pengganti ucapan selamat tinggal,


sebelum kembali pada suami kami masing-masing…

11 August, 2013

Kami

Dia menyerahkan kunci berhiaskan gantungan Star Wars itu, aku menerimanya, dan untuk beberapa saat tangan kami bersentuhan. Tangannya masih tetap hangat, sama seperti dulu. Untuk sesaat, aku bisa mengingat bagaimana kami dulu, dan bagaimana kunci itu akhirnya mendapatkan gantungan dengan tokoh Yoda.

Dia ingin kunci dengan gantungan Harry Potter, dan aku menginginkan kunci dengan gantungan Jack Sparrow, sebenarnya bisa saja kami membuat dua kunci, dan mendapatkan gantungan sesuai dengan keinginan kami masing-masing, tapi hal itu rasanya terlalu mudah. Lagipula kami hanya ingin satu kunci saja, bodoh memang, tapi saat itu memiliki hanya satu kunci rasanya jauh lebih menyenangkan. Kami jadi selalu punya alasan untuk saling menunggui satu sama lain, dan untuk tidak berada di rumah ketika yang satunya tidak ada. Terlalu bergantung, begitulah kami, dan dulu, dulu, rasanya hal itu adalah sesuatu yang sangat menyenangkan.

Dia tersenyum tipis, senyuman khasnya. Dengan lekukan yang lebih tajam di sisi kiri bibirnya. Dulu, aku sering mengecup lekukan itu, merasakan rasa bibirnya yang hangat, dan bagaimana dia pelan-pelan selalu memutar kepalanya agar bisa balas menciumku dengan leluasa. Dulu, menciumnya adalah sesuatu yang tidak pernah ingin berhenti aku lakukan.

Dia mengangkat tangannya dan membelai pipiku, aku memejamkan mata dan menyandarkan kepalaku di telapaknya yang lebar. Rasanya masih sedikit kasar, dengan beberapa area yang kapalan. Bagiku, tangannya selalu terasa sangat jantan, begitu laki-laki, dan aku menikmati setiap usapannya ketika membelai setiap jengkal tubuhku. Merasakan kontrasnya ketika mengusap kulitku yang lebih halus. Dengan perlahan, dia menyapukan ibu jarinya di atas bibirku, dan aku membuka mata. Ingin rasanya kukecup jarinya, merasakan rasanya untuk satu kali lagi, menikmati rasa kulitnya.

Bukan itu saja, sebenarnya, aku ingin menghambur ke peluknya, menyesap aroma tubuhnya, menyurukkan wajahku di lekuk lehernya, dan mendekapnya erat.

Tapi lalu apa?

Jadi, aku melepaskan tangannya dari pipiku, namun tetap menggenggamya erat. Kutatap kedua matanya, dan merasakan bagaimana dia menatapku, benar-benar menatapku. Dan lalu untuk terakhir kalinya, aku mengatakan, “Aku mencintaimu.”

Dia tersenyum lagi, “aku juga mencintaimu.”


Dia melepaskan tangannya, dan aku melepaskannya. Karena kami tak tepat lagi bersama.

14 June, 2012

Segurat Senja

Tahukah kamu, bahwa saat senja kala, aku selalu menutup mata dan membayangkan wajahmu. Selalu.

Aku membayangkan matahari jingga membelai pipimu, membuat matamu terpejam dan bibirmu tersenyum.

Aku membayangkan, semilir angin mengelus tubuhmu, membuatmu melingkarkan tanganmu di pinggang dan memeluk dirimu sendiri. Atau saat hatimu menginginkan... Merentangkan tangan, merengkuh angin, menyambutnya, membawanya menari bersamamu.

Dan saat langit berubah semakin gelap, aku membayangkanmu membalikkan badanmu sedikit ke belakang, mengulurkan tangan, dan mengajakku pulang.

Selalu....

08 October, 2011

Sst...

“Mendekatlah...”
Aku memiringkan badan. Sambil sedikit menarik bahuku, dia berbisik, “aku sudah memutuskan.”
“Aah, baiklah. Kapan?”
Dia tersenyum misterius, “besok,” ujarnya yakin.
Aku mengerutkan kening, “besok? Apakah tidak terlalu cepat? Apa kau sudah menyiapkan segalanya?”
“Tentu saja. Lagipula, kau akan membantuku, kan?”
“Tentu saja!” tegasku. “Tapi, apakah kau sudah memutuskan caranya?”

17 September, 2011

Rumah Pohon

a sneak peek

“Hayoook!” Adith menyeret Nina melintasi halaman belakang.

“Tapi Sinar sama Naren mau pergi mancing,” Nina yang terseok-seok di belakang Adith berusaha melepaskan diri.

Adith nggak memperdulikan Nina dan hanya terus menariknya, sampai akhirnya mereka berhenti di depan pohon apel raksasa yang sedang berbuah. “Lihat!” kata Adith sambil menunjuk ke atas. Di salah satu dahannya yang besar, sebuah rumah pohon kecil baru saja selesai dibangun. Nina yang masih berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Adith langsung terdiam. “Gue sama Papa bikin kemarin, Sinar juga bantuin sih, dikit,” katanya lagi sambil cemberut, nggak mau mengakui kalau kakaknya itu juga turun tangan.

14 September, 2011

Kopi

Cangkir kopi kedua. Dalam satu jam ini.

Hitam, panas, dan kental.

Aromanya memenuhi rongga hidung, memaksa mata terpejam, dan bibir tersenyum. Rasanya kau hanya ingin menempelkan cangkir panas itu ke pipimu. Membiarkan kehangatannya menyebar dan membiaskan sedikit rona merah.

Kau memandang ke luar. Hujan turun dengan deras. Derainya menghantam permukaan danau yang hijau, lebih cerah dan bersih sekarang, dibanding ketika kau masih menjadi pengunjung harian tempat ini.

06 September, 2011

Never Let Me Go

He caressed my hair with a tremor hand. I inhaled deeply, try not to let my tears fell. I looked at him, trying to smile, but it's as if somebody put some glue at the corner of my lips. He was lying there, all pale and weak, but still the one who tried to offer comfort and courage. I took his hand, and held it tightly on my chest. His hand was cold, how could his hand cold?

He smiled, "you look beautiful." I just nodded, not dared myself to speak, because i was afraid it would broke into sobs. And once it started, it wouldn't stop. He really didn't need any of those. We stayed like that for a while, nobody was saying anything. Not long until he fell asleep.

23 August, 2011

and then...

It's a lingering kiss. Kiss that would make an appearance in your dream, kiss that you would remember even when you can remember nothing else, and kiss that would always give you a pinkish glow, even when your face is already full of wrinkles.

So you hold on to it, faithfully, just like you hold on to the person who gave you the kiss. You tried to remember every details about him. How his hair always looks undone and a bit longer than what seemed appropriate. How his eyes are piercing, look right to your soul, with a twinkle that give you a tingle. How he rarely smile, but when he does it would be lopsided, with a hint of a dimple. How his cheeks seems so soft, and feels so smooth with warm chocolate color, make you have to curl your hand so you wouldn't touch it all the time.

Now you are staring down, to your hands, yours and his. How they look so beautiful together, and how you can't believe your luck for finally able to hold his hand, just like so many times you dreamed about it before.

And then he stared at you, with that smile of his, and then he say, "You finally found me..."

So you close your eyes, seal it closed, and with all you might, you resist to wake up.

07 August, 2011

Kau



Aku jatuh cinta seketika.
Saat itu aku sedang membuka sebuah buku kumpulan foto dari seorang sutradara kenamaan*, lalu aku melihat fotomu.
Kau sedang berdiri di atas salah satu layar komputer bobrok yang bertebaran di tepi pantai. Tanganmu terentang, kepalamu mendongak menghadap matahari, dan matamu terpejam, dengan rendah hati menghormati cahayanya yang terlalu agung bagi sepasang bola mata.
Tentu saja aku belum pernah melihatmu sebelumnya, tapi aku tak akan pernah melupakan namamu. Sederet huruf yang dicetak rapi dibawah foto itu. S. Teddy. Aku tentunya tidak tahu apa sebenarnya S yang ada dinamamu itu.

10 June, 2011

Mimpi

Semalam aku bermimpi, tentang kita berdua. Aku sudah tak ingat kapan terakhir kali aku melihatmu. Bahkan wajahmu sudah tak pernah lagi menari-nari di pelupuk mataku. Saat aku memejamkannya, aku hanya akan melihat warna-warni silih berganti, seperti slide dalam kaladeoskop yang kamu belikan dulu. Tapi, bukan berarti aku lupa.

Aku masih ingat warna kulitmu. Coklat gelap. Hampir tiga tingkat lebih gelap dibanding warna kulitku. Seperti kopi, hanya dengan sedikit susu. Lalu rambutmu. Hitam pekat. Lurus dan tak pernah mau diatur, hampir mirip denganmu. Rambutmu sering jatuh, menutupi dahimu yang tinggi. Matamu yang sama gelapnya, yang selalu membuatku tak tahu harus berlaku apa setiap kamu menatapku lama. Ah, dan tentu saja, senyummu. Senyum miringmu yang terlihat sinis. Betapa aku dulu sering berusaha mati-matian untuk segurat senyum itu. Tidak, aku tidak lupa sedikit pun tentangmu.

26 May, 2011

Nilam's Listen and Write, Part 1

"I put my iTunes on shuffle and wrote a story based on whatever song that came on. When the song stopped, I stopped writing. Didn't edit the story except for typos and grammar mistakes, so these might be crap to you. Did it 5 times then I became tired and it became harder to do. lol. but hey, at least i tried :)" -Sindro




1.24-25, KoC

He whispers, “I love you,” I smile. I can feel his warm breathe on my ears, and the wind singing softly, took his words and breaths away from me.
I’m sitting alone in this beach, just like any other day with him. When the sun is about to set, we would sitting here together, holding hands.
Until we close our eyes, and never open it again.
And then we say good bye, first to each other, then to the rest of the world.

16 May, 2011

12 Tahun Kemudian

“Hai”
Aku mendongak, dia berdiri di hadapanku. Rambut panjangnya berkibar akibat terpaan angin. Kemeja sutra putihnya terlihat bersinar di bawah cahaya matahari dan berlatar belakang birunya laut.
“Hai,” jawabku sambil tersenyum. Aku berdiri untuk memeluknya, dan kami saling mencium pipi. Dia membalas senyumku dan mengambil kursi rotan di hadapanku. Selama beberapa menit kami hanya saling bertatapan, dengan senyum penuh semangat, tak sabar memulai percakapan dan bertukar cerita. Tidak tahu harus mulai dari mana, terlalu banyak hal untuk diceritakan, sekaligus terlalu sedikit yang sebenarnya penting. Tapi siapa peduli, selama tentang kami, apapun itu akan selalu penting.

“Tempat ini masih tetap sama,” katanya memecah kehingan yang ada di antara kami.
Aku mengangguk, “ya…” lirih.

Namanya Lissa. Aku mengenalnya sejak hari pertama kami sebagai mahasiswa. Saat itu kami berdua sama-sama merapat di dinding balairung, berusaha menghindar dari lautan mahasiswa yang memenuhi ruangan raksasa itu, sama-sama tak ingin terbawa pusaran arus. Kami saling tersenyum canggung, melemparkan obrolan kaku tentang betapa penuhnya ruangan itu. Akhirnya kami saling menunggui sampai kami sama-sama menyelesaikan urusan adiministrasi kami. Siapa sangka, ternyata kami ada di jurusan yang sama.

“Apa kabar James dan Anna?” Senyumnya merekah, dan mukanya bersinar saat mendengar nama suami dan anaknya.
“Mereka baik,” jawabnya sambil tersenyum lembut. “Anna akan masuk sekolah bulan Juli ini. Kemarin seragamnya datang, dan aku sampai harus setengah bergulat memaksanya melepas seragam itu agar bisa dicuci.” Ceritanya sambil tertawa. Aku ikut tertawa. Anna sudah akan masuk sekolah? Berapa umurnya sekarang? Kapan terakhir aku melihatnya?
“Lalu, berhasil?”
 Lissa tertawa lagi. “Nggak, akhirnya James turun tangan dan janji akan mengantarnya seminggu pertama dia sekolah asal dia mau melepas seragamnya. Dia selalu lebih nurut sama James,” kali ini senyumnya terlihat hampir sedih.
“Itu memang penyakit anak perempuan,” hiburku. Tawanya terdengar lagi.
“Ya, kurasa kamu benar. So, how’s your book? Apa kabar Awan? Are you seeing somebody?” kali ini giliranku yang tertawa mendengar pertanyaan bertubi-tubinya.
“Bulan depan akan terbit. Baik, masih bikin aku gila dengan drum-nya. And no.”
Lissa menatapku dengan tatapan penuh selidik. Aku mengibaskan tangan, bersiap mengusir isu itu.

Looking beautiful ladies,” kami berdua mendongak mendengar suara beraksen New York itu. Seorang wanita menggunakan kaftan turquoise tipis berdiri di depan meja kami. Wajahnya tertutup kacamata besar dengan bingkai coklat tua. Dengan cepat wanita menarik kursi rotan di antara aku dan Lissa, melepas kacamatanya dan tersenyum super lebar pada kami berdua.

Namanya Chandra. Aku dan Lissa bertemu dengannya di hari yang sama kami berkenalan. Saat itu sudah sore, dan kampus kami sudah sepi. Hari itu aku dan Lissa memutuskan untuk duduk di tepi danau sambil menunggu matahari terbenam, tak terburu-buru ingin beranjak dari tempat yang nantinya akan menjadi rumah kami selama, paling cepat, empat tahun ke depan. Menatap bias sinar matahari yang jatuh di danau itu untuk pertama kalinya. Dan kemudian Chandra menghampiri.
“Hey,” sapanya lantang, “kalian anak sastra inggris juga, kan?” setelah kami mengangguk, dia langsung duduk di samping kami, dan mengeluarkan kotak rokoknya. Aku dan Lissa hanya berpandangan. Sejak saat pertama kali kami mengenalnya sampai lama setelah itu, Chandra selalu berhasil membuat kami mematung dan tak tahu harus bereaksi bagaimana menghadapi ulahnya. Kami bertiga duduk di tepi danau itu sampai akhirnya matahari benar-benar terbenam dan menghilang. Sore itu kami lewati dengan berbisik pelan, saling bertukar cerita tentang masa lalu, dan juga masa kecil, yang kami tinggalkan di belakang.

Aku menatap Chandra sambil menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Dia melirikku sambil menyalakan rokoknya, lalu mengoperkannya padaku. Sama seperti hari pertama dulu, aku menerima. “What?” tanyanya sambil mengangkat alis. Ciri khas Chandra saat penasaran akan sesuatu. Aku tergelak, namun tak menjawabnya. Dia mencubit tanganku gemas, dan bertanya lagi, “kenapaa?”
“Nggak apa-apa. Cuma setiap kali aku ketemu kamu, rasanya seperti masuk ke dalam film Sex and The City!
Aku mendengar Lissa tertawa, sementara Chandra hanya menampakkan mimik acuh.
If you want to make it more real, come to New York and visit me,” jawabnya sambil menghembuskan asap putih ke udara. Melembutkan warna langit dan air yang ada di belakangnya. Aku hanya menyengir lebar, sementara Lissa setengah cemberut.
I hate New York,” katanya. Pernyataan yang sudah kami dengar ratusan kali, dan masih membuat kami tak habis pikir.
“Nggak setiap kali kamu kesana kamu bakal kecopetan, kok,” Kata-kata Chandra ini hanya membuat Lissa makin merengut.
It’s a vintage Balenciaga. Aku yakin bahkan si copet itu nggak tahu kalau tasnya lebih mahal dari semua isi di dalamnya di gabung jadi satu,”
Then wear something cheaper the next time you come. Something from GAP, atau apalah…”
“GAP is not cheap in Indonesia,” sambungku. Lissa mengangguk penuh semangat untuk mendukung omonganku. Chandra menatap kami berdua.
Hell, I don’t care girls. Just come and visit me in New York! Aku bosan dengan tempat ini dan koneksi internetnya yang buruk. Belum lagi orang-orang disini sangat slow seakan-akan mereka nggak ada kesibukan apapun. They chat while they’re lining in queue, happily!” Chandra membelalakkan matanya dengan mimik tak percaya. Aku dan Lissa tertawa melihat ekspresinya karena tahu dia akan selalu kembali ke sini.

“Aaaaaa….!!!” Aku mendengar teriakan melengking yang akan aku kenali di manapun. Seorang wanita, yang dari tempat kami duduk terlihat seperti agak gila, setengah berlari menghampiri meja kami. Tangannya terbuka lebar, bersiap untuk memeluk. Kami bertiga langsung serempak berdiri, dan menyiagakan posisi kami seolah-olah bersiap menghadapi angin topan. Wanita itu memilihku sebagai target, dan menarikku ke dalam pelukannya sehingga kepalaku dengan sukses mendarat di dadanya, yang sejak jaman kuliah dulu sudah besar. Aku berusaha melepaskan diri sebelum mati kehabisan nafas.
Damn girl…” umpatku akhirnya setelah berhasil melepaskan diri. Wanita gila itu hanya tertawa sambil berusaha untuk menarikku lagi, aku segera bergerak menjauh, membuat tawanya makin membaha. Beberapa turis lain di restoran itu mulai melirik kearah kami, dan seperti biasa, seperti sejak belasan tahun lalu, kami tak pernah peduli.

Dia yang terakhir bergabung, namanya Diva. Kami bertiga bertemu dengannya di hari pertama kami memulai perkuliahan karena dia tak pernah datang di hari orientasi kami. Berbeda dengan Chandra yang memiliki aura acuh sekaligus nekat, Diva seperti petasan yang meledak-meledak. Tubuhnya yang dari dulu selalu penuh lekuk, to put it mildly, bagaikan alat penyimpan energi yang pasokannya tidak pernah habis. Dan sama seperti Chandra, dia mengundang dirinya sendiri ke dalam kelompok tak bernama kami, dan kemudian menyegelnya dan menjadikannya eksklusif sekaligus tak bisa lepas, seperti persaudaraan darah. Agak mengerikan memang, tapi kalau tak ada Diva mungkin masa kuliah kami tak akan membuat kami tertawa setiap kami mengingatnya, seperti yang kami lakukan sekarang.

Siapa yang sangka, semangat menggebu-gebu Diva untuk selalu bergerak dan melakukan sesuatu, ditambah dengan kegilaan dan sisi nekat Chandra, bergabung menjadi campuran berbahaya yang berkali-kali membuat kami hampir gagal lulus suatu pelajaran, karena tak punya cukup waktu untuk mengerjakan tugas apapun yang diminta saat itu. Dan di situlah Lissa berperan. Lissa dengan memori fotografiknya yang sebenarnya bisa membuatnya bisa masuk ke jurusan apapun yang ada, tapi memilih masuk Sastra Inggris karena jatuh cinta pada Shakespeare, Emily Dickinson, dan J.K Rowling. Okay yang terakhir memang tidak terlalu relevan, tapi itulah alasan Lissa memilih jurusan yang sama dengan kami. Yang aku pilih hanya karena ingin membangkang dari keluarga pecinta rumus dan jurusan eksaktaku. Tapi ternyata, aku kemudian memang jatuh cinta pada jurusan itu, yang mengantarku menjadi seorang penulis seperti saat ini.

Akhirnya formasi kami lengkap. Mengisi setiap sisi meja bujur sangkar berlapis taplak putih yang kini berada di tengah kami. Diva tiada henti menghibur kami dengan berbagai ceritanya, tentang kegilaan kedua anak kembarnya yang selalu bertengkar tapi juga tak mau dipisahkan, yang dia juluki Tom and Jerry. Dia bercerita pernah mengancam kedua anak berusia 7 tahun itu akan mengganti nama mereka benar-benar menjadi Tom and Jerry kalau mereka tak juga berhenti bertengkar. Nama asli mereka adalah Orly (dari Orlando Bloom tentunya, bintang favorit Diva) dan Kimi (dari Kimi Raikkonen, pembalap favorit Rico, suaminya). Aku membiarkan diriku ikut tertawa mendengarkan cerita Diva, tapi pikiranku melayang ke hari kelulusan kami.

Hari itu kami berempat duduk di dalam kantin kampus yang sudah kosong. Cahaya matahari telah berubah warna menjadi kemerahan. Aku ingat sinarnya jatuh di satu sisi wajah kami, dan membuat kami terlihat bagai empat perempuan bertopeng yang duduk lunglai dengan kebaya kami. Lelah dan sedih karena pesta akhirnya usai. Kami tak banyak bicara hari itu, hanya saling mengoperkan rokok, berbagi kopi, dan menatap nanar ke ruangan kosong di hadapan kami. Ke masa depan yang saat itu rasanya penuh misteri, dan menakutkan. Takut akan harapan yang mungkin akan hancur, takut akan mimpi yang mungkin tak terwujud, takut harus menghadapinya seorang diri, dan takut pada kenyataan bahwa tiba waktunya kami melangkah di jalan kami masing-masing.

Tak bisa lagi saling melemparkan surat kecil saat dosen sibuk menulis di papan. Tak bisa lagi saling menendang satu sama lain menjelang fajar agar terus terjaga saat mengerjakan tugas sepanjang malam. Tak bisa lagi saling mengarang alasan untuk orangtua masing-masing agar diperbolehkan tidak pulang, atau untuk saling menjual nama saat ingin bermalam dengan siapapun pacar kami saat itu. Yeah, we watched each other’s back, karena saat itu kami berada di dunia yang bisa kami hadapi dan taklukkan bersama. Tentu saja kami saat itu punya ide gila untuk hanya melamar di kantor yang mau menerima kami berempat ibarat paket hemat, tapi, bahkan saat itu, kami tahu itu tidak mungkin. Bukan begitu cara kerja dunia dewasa yang harus kami hadapi setelah senja di kantin kosong itu berakhir.

Earth to Indira…” tiba-tiba aku tidak bisa bernafas karena Chandra menjepit hidungku dengan jarinya. Melihatku megap-megap dia hanya tertawa, tapi tetap menjepit hidungku.
“Sudah ah Chan, nanti Indi ngantuk lagi. Nggak lucu kan kalau dia ketiduran hari ini. Masa harus tunggu tahun depan buat nunggu cerita dari dia,” Lissa menarik tangan Chandra agar melepaskan hidungku. Satu hal yang aneh tentangku, setiap hidungku ditutup, aku akan langsung mengantuk.
Oh you drama queen, kita masih punya waktu seminggu di deserted island ini,” jawab Chandra sebal sambil memutar matanya. Aku memandang mereka berdua. Siapa yang sangka kedua wanita yang sekarang terlihat sangat kekanak-kanakkan ini bisa membuat laki-laki tertunduk malu di masing-masing karir yang mereka geluti.

Lissa, di usia kami sekarang sudah menjadi Profesor di kampus kami dulu, membawahi bidang studi Cultural Studies, spesialisasinya adalah cultural flow dan sejarah etnis di Indonesia. Lalu Chandra, dia banting setir menjadi fotografer, tidak main-main, dia adalah fotografer ekslusif untuk National Geographic. Butuh waktu lima tahun lebih baginya untuk beradu siku dengan para lelaki untuk berada di posisi itu, but she’s there to stay, nothing can bring her down now. Anehnya, walaupun sering ditugaskan ke daerah-daerah yang hanya dia dan Tuhan yang tahu tempatnya, Chandra yang paling tergila-gila dengan kota besar, dan memutuskan untuk berdomisili di New York. “If you go all over to world to work, to the most beautiful till most hideous places on earth, and sometimes did not interact with other human being for months, all you want after that is the crazy traffic and beautiful lights from the building that can only be provided by the big city…” jelasnya. Dan kota apalagi yang memiliki semua itu secara lengkap kalau bukan New York.

So, how’s your new book?” tanyanya sambil menyalakan sebatang rokok lagi. Pelayan datang dengan sebotol red wine yang dipesan oleh Lissa tadi.
“Bakal keluar bulan depan,” kali ini Lissa yang menjawab. Aku hanya mengangguk dari balik gelasku, menyesap rasa pahit manis dari minumanku.
“Bakal launching dimana, Ndi?” Tanya Diva sambil mengunyah french cheese yang disediakan sebagai cemilan dengan berisik.
“Salah satu tokonya Waterstone, tapi belum pasti yang dimana. Tetap di London pastinya,” jawabku.
Entah apa yang aku katakan, yang pasti hal itu membuat mata Diva berkaca-kaca.
Look at you girl,” bisiknya takjub, “tinggal di salah satu pulau terindah di dunia, and about to launch the final book of your bestseller series, not in any city, but in the city of the queen itself…” lanjutnya dengan tangan dikatupkan di atas dada.
“Bukan kota ratu lagi, it’s king now, remember?” jawabku sambil mencubit pipinya. Sama seperti energinya yang meledak-ledak, emosi Diva juga memiliki kelakukan yang sama. Dia hanya memutar bola matanya mendengar omonganku. Dia lalu tersenyum lembut, dan membiarkan sebutir air mata mengalir di pipinya sebelum menyeka cepat.
“Aku bangga sekali sama kamu. Kalau ingat kejadian dulu, rasanya seperti mukzizat melihat kamu sekarang, looking radiant, and living your dream.” Mendengar ini, aku hanya tersenyum kecil, dan mau tak mau ingatanku kembali ke tahun terkutuk itu.

Karena kami tidak hidup di dalam sitkom seperti FRIENDS atau How I Met Your Mother, jadi tentu saja ada masanya persahabatan kami merenggang. Dan tentu saja ada masa dimana keadaan kami masing-masing berjalan buruk, dan bagiku adalah tahun itu, kira-kira tujuh tahun yang lalu, lima tahun setelah kelulusan kami. Tahun itu aku menghabiskan setengah tahun waktuku di rumah sakit. Berusaha pulih dari berbagai patah tulang, dan kemudian operasi plastik untuk mengembalikan bentuk wajahku yang saat itu hancur. Bukan, bukan karena kecelakaan, tapi karena tangan, dan juga kaki seorang laki-laki yang saat itu kusebut suamiku. Ya, hidup memang tak selamanya sempurna.

Sebelum kejadian itu, hubunganku kami berempat memang merenggang. Sebagian karena suamiku yang posesif, sebagian karena karir yang harus di kejar, sebagian karena berada di kota yang berbeda, tapi yang paling besar adalah karena semakin bertambahnya perbedaan, kurangnya kesamaan. Waktu-waktu yang kami jalani masing-masing kadang berlangsung terlalu lama, sehingga saat akhirnya kami berkumpul pun kami kehilangan bahan pembicaraan. Tidak tahu harus memulai dari mana, tidak yakin yang lain masih menganggap penting cerita kami, atau untuk kasusku saat itu, tidak tahu mana yang bisa aku ceritakan, mana yang tidak. Terlalu banyak rahasia yang disembunyikan, terlalu banyak waktu yang diulur, dan terlalu banyak luka dan memar yang harus ditutupi.

Tapi semuanya berakhir tahun itu. Setidak-tidaknya ada satu hal bagus yang datang dari luka-lukaku. Malam itu aku menelpon Lissa, walau hanya untuk sepenggal kata, “tolong…” dan membiarkan telepon itu tergeletak sementara aku mendengar suaranya memanggil-manggil namaku dengan nada yang semakin lama semakin panik sebelum akhirnya kegelapan menyelimuti. Saat aku membuka mata lagi, aku ada di rumah sakit, mereka bertiga mengerumuniku, masing-masing dengan mata yang bengkak karena dipaksa memproduksi air mata terlalu banyak.

Selama 6 bulan itu, kami hampir setiap hari bersama, rasanya seperti kembali ke bangku kuliah lagi. Walau saat itu kami punya lebih banyak hal untuk diceritakan, karena kami menjalani hari yang berbeda, yah setidaknya mereka yang punya, aku hanya mendengarkan karena tak punya apa-apa untuk dibagi kecuali tentang siapa yang datang membesukku.

Setelah akhirnya aku keluar dari rumah sakit pun aku masih harus menghabiskan waktu untuk terapi, baik fisik maupun mental, dan lagi-lagi mereka ada di sana. Hidupku mungkin saat itu hancur, seperti halnya rumah tanggaku, tapi mereka bertiga ada di sana untuk membantuku membangunnya kembali dari awal. Tentu saja kami tidak bisa terus menerus bersama setiap hari seperti saat aku di rumah sakit. Aku kembali tinggal dengan orang tuaku, berusaha membangun karirku setelah beberapa tahun tak bekerja dan hanya menjadi ibu rumah tangga.

Lissa bertolak ke Belanda untuk mengambil gelar Ph.D nya, Chandra jarang berada di Jakarta, dan lebih banyak menghabiskan waktunya di seantero Indonesia mengejar objek-objek foto terbaik yang mungkin didapatnya. Dan Diva, tak mau pusing dengan segala tetek bengek karir dan pendidikan, menikahi cinta pertamanya, dan membangun rumah tangganya sendiri, yang berbahagia, yang dipenuhi cinta, tidak seperti yang pernah kujalani. Dan aku bahagia untuk mereka semua.

Walau saat itu kesuksesan mereka membuatku silau. Rasa percaya diri mereka, keyakinan mereka terhadap apa yang mereka inginkan, apa yang mereka harapkan dari masa depan mereka membuatku hilang arah. Sementara saat itu, aku merasa buta, dan buntu. Lalu aku akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Jakarta, berusaha meninggalkan mereka yang rasanya saat itu asing. Aku memilih tinggal di Bali, dan mereka secara bergantian atau bersama-sama datang mengunjungiku. Memaksakan diri masuk ke cangkang yang coba kubangun rapat-rapat, menutup mata terhadap rasa canggung dan ketakpercayadirianku. Berpura-pura tidak tahu kalau aku memang sengaja meninggalkan mereka. Memaksaku untuk menghadapi mereka bertiga, lengkap dengan aura kesuksesan mereka, dengan senyum bangga dan percaya diri mereka, dengan keyakinan terhadap kemampuan mereka untuk menaklukkan dunia. Sementara yang ingin kulakukan saat itu adalah bergelung, bersembunyi dan membiarkan dunia berputar tanpa aku terlibat di dalamnya.

Tapi lalu mereka mengancam, dengan serius, akan mengambil Awan dariku. Anakku. Satu-satunya berkah dari perkawinan dari neraka yang sempat kujalani. “He doesn’t deserve to have loser like you to be his mom…” kata-kata itu keluar dari mulut Lissa. Orang yang sama yang melempar Rey mantan suamiku dengan telepon genggamnya, yang mengancam akan membunuhnya apabila Rey pernah sedikit saja mencoba untuk mendekatiku lagi.

Dan saat itu dengan terpaksa, dengan tertatih-tatih aku bangkit. Awalnya hanya agar Awan tetap bersamaku, hanya agar bisa menjadi Ibu yang layak, tapi lalu aku mulai melakukannya untuk diriku sendiri. Karena ternyata hidupku belum berakhir. Karena ternyata aku masih punya kesempatan kedua, yang diberikan, atau lebih tepatnya dijejalkan para sahabatku tepat di mukaku. Dan ternyata semua sakit dan kegilaan yang pernah aku lewati, membuatku punya segudang hal untuk ditulis. Dan di sinilah aku sekarang. Di sinilah kami sekarang. 12 tahun setelah hari di kantin kosong itu, selalu tanggal yang sama. 12 September, dan juga seminggu setelahnya.

Kami berempat, dengan ribuan kenangan di belakang kami, pahit, manis, buruk, indah. Semuanya milik kami. Untuk kami buka sewaktu-waktu, saat kami merasa membutuhkannya. Saat kami merasa apa yang ada di depan kami terlalu berat, saat kami butuh semangat. Karena walau kini kami tak lagi tinggal di kota yang sama, bahkan negara yang sama, setiap tahun, di tanggal yang sama kami akan selalu ada di sini.

Tempat yang 7 tahun lalu kami pilih karena film Mamamia menampilkannya. Yang lalu menjadi tempatku tinggal sejak saat itu. Sebagai penjaga gawang, menanti mereka datang. Memenuhi janji yang harus selalu kami tepati, sampai kami mati.

Di Kastani Beach, kepulauan Skopelos, Yunani.

02 August, 2010

Sepenggal Hujan

His name is Derai. Her name is Rinai. Together they were inseparable.

Mereka bertemu 15 tahun yang lalu, di sebuah kota kecil di pinggir laut. Saat sedang duduk menatap matahari yang mulai tenggelam. Sejak hari itu mereka selalu bersama, dan merangkai sebuah kisah. Kisah yang mungkin indah, tapi sama sekali bukan kisah cinta.

Hanya sepenggal cerita, dari kehidupan dua orang anak manusia.


Pertemuan

1995
Rinai sedang duduk memandangi laut yang terbentang luas di hadapannya. Di sampingnya, Bonnie, seekor anjing German Sheperd duduk menemani. Sesekali Bonnie menggosok-gosokkan moncongnya ke lengan Rinai memintanya melempar sepenggal kayu untuk dikejar. Dengan malas Rinai memenuhi permintaan anjing itu.

Sepeninggal Bonnie, Rinai menumpukan kepalanya ke atas lutut sambil mengela nafas panjang. Gadis berusia 12 tahun itu sedang kesal, bahkan pemandangan yang terhampar indah di depannya tak berhasil membuat perasaannya membaik. Pasalnya dia terpaksa harus pindah ke kota kecil, semata karena ibunya memilih untuk pindah ke sini setelah bercerai dari Papa. Sementara Papa tetap tinggal di Jakarta, di rumah lama Rinai, yang dekat dengan sekolahnya, dan di kelilingi semua teman-temannya. Rinai mendesah lagi.

22 June, 2010

Di Suatu Senja

Hari ini senja, ya senja. Senja seperti biasa, tak ada yang istimewa.
Langit masih saja berwarna jingga, matahari masih saja bersinar, dan cahayanya masih saja mulai pudar.

Lalu apa bedanya senja hari ini dengan lainnya?
Tak ada sebenarnya, yah tak ada yang berbeda dengan senjanya, masih senja tua yang sama. Tapi, ada yang berbeda dengan binar dimatanya.

Matanya masih mengagumi senja, bibirnya masih terukir lembut membiaskan senyum. Tapi binar itu. Binar itu tak lagi redup seperti matahari di kala ini.

Dia duduk ditempatnya yang biasa, membiarkan angin menarik lembut rambutnya yang terurai. Dia juga masih sendirian, tapi hari ini dia tak tampak kesepian. Dia duduk dengan tenang, dan sekali-sekali membisikkan rahasia kepada angin yang setia membelainya.

04 June, 2008

Atas Nama Cinta

Dag Dag Dag...
Dag Dag Dag...

Bunyinya bedebam-debam, bagai gada raksasa sang Bima yang menghantam dada. Sakit, Berat, Menghujam, menyesikan pilu yang tak bertepi.

Dag Dag Dag...

Rasa sakit itu, beserta bunyinya yang menggema tak kunjung juga berhenti. Akan sampai kapan? Apakah bisa cukup kuat untuk bertahan. Sakit.

Gada itu terus menghantam, tak menyisakan sedikit pun tempat untuk secuil belas kasihan. Ampunan tak punya jatah disini, tak ada lagi tempat yang tersisa. Semuanya habis untuk sebuah siksaan, yang menggunakan alasan klasik, cinta.

08 May, 2008

nanti...

“Aku ingin terbang...”

“Kemana?”

“Entahlah, kemana saja. Aku bosan disini!”

“Yah, disini memang membosankan.” diam, tertunduk lesu. “Bolehkah aku ikut?”

“...” memandang tajam. “Kenapa kamu mau ikut? Aku pikir kamu suka disini”

“Ya, aku memang suka, tapi...”

“Terserahlah. Untukku tak ada bedanya, aku hanya ingin terbang.”

“Terbang berdua lebih menyenangkan. Setidaknya, yang kamu lihat tidak hanya kosongnya langit.”

“Hah! Apa kamu tidak tahu, langit tidak pernah kosong! Dia selalu dipenuhi ratusan jiwa kesepian. Seperti kita.”

“Aku tidak kesepian”

“Betulkah? Lantas kenapa kamu ingin terbang? Terbang hanya untuk jiwa-jiwa yang kesepian.”

“Aku ingin terbang hanya karena aku ingin terbang. Salahkah?” Diam sejenak. “Lagipula, tidak ada apa-apa untukmu di langit.”

“Sok tahu kamu! Bagaimana kamu bisa tahu apa yang aku inginkan?! Apa kamu tahu kalau aku selalu merasa bahwa langit adalah tempatku sebenarnya?”

“Tidak, kamu tidak benar-benar menginginkannya. Kamu merasa seperti itu karena kamu belum pernah kesana. Begitu kamu sampai semua perasaan itu akan hilang. Semua hal memang terlihat lebih indah dari kejauhan.”

“Hh, entahlah. Aku tidak terlalu peduli. Aku hanya ingin terus terbang, dan tidak pernah turun.”

“Selama apapun kamu terbang, kamu tetap harus turun suatu saat nanti.”

“Haruskah?”

“Ya”

“Kalau begitu, aku tidak jadi mau terbang.”

“Lho, kenapa?”

“Karena kalau aku terbang, katamu aku harus turun. Saat aku terbang nanti, aku pasti akan selalu mengkhawatirkan saat aku turun.”

“Lantas kenapa?”

“Tidakkah kamu mengerti? Saat terbang, aku pasti akan selalu khawatir, aku akan selalu gelisah, karena aku tahu aku harus turun. Saat terbang, aku sudah tidak punya keinginan apa-apa lagi, yang aku miliki hanya ketakutan.” merenung. “Tapi, kalau aku tidak jadi terbang, selamanya aku akan punya mimpi, harapan, dan keinginan. Aku akan selalu punya suatu hal menyenangkan yang aku tunggu-tunggu terjadinya. Jadi, aku lebih baik tidak terbang.”

“Kamu kan bisa terbang lagi saat sudah turun nanti.”

“Memang”

“Ya sudah, mari kita terbang.”

“Tidak.”

“Lho?”

“Saat aku terbang lagi, sensasinya tidak akan seindah sebelumnya. Tidak ada yang bisa mengalahkan sensasi kali pertama.”

“...”

“...”

“Jadi, kapan kamu akan terbang?”

“Nanti. Sehari sebelum aku mati.”

22 December, 2007

Hujan

ini terinspirasi gara-gara hujan yang turun terus menerus...

Sayang,
Hari ini hujan turun lagi. Tetes-tetes airnya membahasi jalan. Genangan-genangan air mulai terbentuk. Daun-daun basah, dan dahan-dahan pohon membungkuk khidmat pada terpaan air.

Sayang,
Hari ini aku berdiri di tengah hujan. Menikmati dinginnya yang membahasi mukaku. Membiarkan airnya mengusir debu-debu yang singgah. Beningnya menyejukkan mataku, dan membuatku melihat lebih jelas.

Sayang,
Hari ini tanah basah. Retakkannya terisi oleh air. Panasnya disejukkan hujan. Bunyi air meredam, dan segala yang ada di tengah hujan terpisahkan oleh kubah bening yang tajam dan dingin.

Sayang,
Hari ini tidak ada pelangi. Aku duduk di atas bukit, dan menunggu, tapi dia tak kunjung tiba. Langit tetap hanya berwarna seperti air dan salju. Bias-bias sinar matahari yang berwarna-warni, malu dan bersembunyi.

Sayang,
Hari ini aku duduk sendiri. Menunggu dan menanti. Dirimu dan pelangi, namun keduanya tak kunjung menampakkan diri. Penghujung hari sudah akan tiba, dan mentari telah undur diri. Sayang, sepertinya malam ini aku akan sendiri. Lagi.


ps.gue tahu sih ini bukan cerpen, tapi gpp yaa...heheheh.

29 November, 2007

Balada Sepatu Merah, Part I

Sial, hujan. Gue memandang nggak berdaya ke arah sepatu suede gue, belum seminggu umur sepatu cantik ini, masa iya harus gue korbanin. Gue menengok ke kanan dan ke kiri, sesaat gue ngerasa kayak ayam yang mau nyebrang jalan. Cih, nggak ada siapa-siapa pula lagi.

Gue mulai menimbang-nimbang. Kalau gue nekat lari menembus hujan, either gue bakal keseleo karena hak sepatu cantik gue ini 10 cm, atau gue akan merusak sepatu yang menguras setengah gaji gue bulan lalu. The other option adalah menunggu hujan reda, but then i'll be late, dan menerima amukan dari 3 perempuan ganas yang akan dengan senang hati mencabik-cabik tubuh gue sampai ke sudut terdalam hati gue yang lembut, mengingat gue juga datang terlambat saat pertemuan terakhir bersama para wanita amazon itu. Hhhh, gimana, ya?

Ah! Gue tahu, gue akan menenteng sepatu merah gue, dan walking barefoot ke mobil. Mengingat hujan juga cuma tinggal gerimis, jadi gue nggak akan basah-basah amat. Besides, gue cukup pintar pagi ini karena nggak lupa menyambar trench coat Diane Von Furstenberg hadiah dari Tante Lelly yang senada sama sepatu merah gue. So. i'll be save and dry.

Hup, hup, 1,2,3. Damn, it's cold. Hup, hup, 4, 5, 6.

"If you would, i'd be happy to take your car, here"

Heh? Hmm, sebuah suara yang cukup empuk, apalagi saat dingin-dingin begini. Gue sempat berhenti, tapi terus gue sadar itu perbuatan bodoh, karena berdiri dibawah hujan, itu sama sekali nggak romantis. Sambil ngeliat sipemilik suara empuk tadi gue kembali berlari ke lobby kantor yang udah sepi. Well well well, he looks as delicious as his voice. Kenapa gue nggak pernah ngeliat dia sebelumnya, ya?

"Well, and why should i trust a complete stranger like you driving my car?"

Dia hanya mengangkat bahu, acuh.

"Apa saya terlihat seperti pencuri mobil?"

"How do i know, never met one before"

Dia tersenyum. Whoah, that lips! Kenapa tiba-tiba bibir gue jadi terasa kering, ya? Mungkin gue membutuhkan 'sesuatu' to keep them moist. Tiba-tiba dia mengulurkan tangannya. And, what i suppose to do with that?

"Damian"

Oh, handshake. Of course! What was i thinking.


"Carla"

"So, kamu parkir dimana?"

"Huh?"

"Kamu parkir dimana? Biar saya ambil mobil kamu?"

"Hah?"

"We aren't stranger anymore, so i can drive your car now, rite?"

"Well..."

"Come on, just hand me the key. We don't want to scratch those beautiful legs, do we?"

What? Beautiful legs? Hehehe, tau aja. Bukannya apa-apa. Gue tergila-gila sama sling back shoes, so i always pay more attention to my ankles. Gue mulai ragu, apa gue kasih aja kali, ya, kuncinya ke orang ini. Lagian tampangnya emang nggak kayak maling, sih. But hey, who knows?

" Here, kamu bisa simpan dompet dan ID saya."

Gue memandang dompet kulit dengan label Tod's itu. Hmm, boleh juga seleranya. Hujan juga masih belum reda, apalagi masih becek. Apalah daya, gue hanya seorang wanita.

"Nih, saya parkir di dekat ATM, VW Golf, warna merah" menyerah.

"My Little Red Lady" dan sambil menunduk dia pun berlari menembus hujan.


***


Haah?? Pesta Kebun?? Kenapa nggak ada yang bilang sama gue??
Gue berdiri pasrah sambil memandang sepatu merah gue lagi. Padahal hari ini gue udah ngerasa kece banget, pakai floral cocktail dress Nina Ricci yang senada sama sepatu gue. Tapi kenapa ternyata pesta ini malah pesta kebuun???? I can not wear these shoes here.

What do i do, what do i do...?

Gue lalu melihat ada sebuah gazebo putih, tanah disekelilingnya ditutupi konblok yang membentuk jalan setapak ke tengah-tengah taman tempat orang-orang berkumpul. Gazebo itu cantik sekali, ada mawar-mawar liar yang melingkari pilar-pilarnya. Hmm, i wonder, is it real? Untuk bisa mencapai gazebo itu gue memang masih harus menjejakkan sepatu cantik gue ke tanah berumput yang sepertinya masih basah ini, tapi mungkin kalau gue berjalan pelan-pelan sepatu gue masih bisa selamat.

" Trying to save your shoes again, Red Lady?"

Hey, I know that voice. Yup, si I-Know-Im-Gorgeous-So-What Damian sedang berdiri memandang gue dengan mimik muka geli. Di tangannya sudah bertengger gelas cocktail berisi cairan berwarna merah tua. Isnt it too early to drink bloody mary at this hour?

"Saya akan dengan senang hati menggendong tuan putri ke gazebo itu."

Hahaha, hati gue juga akan senang, but it's not gonna be that easy, my dear.

"Not in this life. Lagian saya nggak mau kamu sampai repot-repot meletakkan gelas kamu."

"From what i can see, saya nggak membutuhkan seluruh tangan saya untuk mengangkat kamu," ujar si raksasa sambil mengangkat alis.

"Thanks, but no thanks." Sial.

Gue pun mulai bersiap-siap menginjakkan sepatu gue ke tanah basah itu. 'Tuan Louboutin, tolong maafkan saya. Saya berjanji tak akan mengulanginya lagi.' doa saya dalam hati.

Langkah pertama.

Eww, gue bisa merasakan gimana hak runcing sepatu gue menghujam ke tanah. Mulai ada noda coklat di sol merah cantiknya. Hiks...
Oh, mungkin kalau gue berjalan jinjit hak sepatu gue nggak akan masuk ketanah, dan solnya juga nggak akan sekotor itu.

Dan gue pun mulai berjingkat-jingkat.

Hup, hup. Yak, sejauh ini usaha gue berjalan cukup lancar. Tapi kenapa kok kayaknya gazebo itu nggak keliatan makin dekat, ya? Dan ternyata berjalan jinjit dengan sepatu setinggi ini sangat tidak nyaman, belum lagi susah banget menjaga keseimbangan badan. Gue terus berjalan sambil mendekap tote bag gue erat-erat. Pengennya sih merentangkan tangan kayak mau terbang gitu, tapi takut terlalu mencolok, dan menarik perhatian, hhh...

Oow, ow...aww. Yah jatoh deh, jatoh deh...Gue mulai bisa merasakan badan gue oleng. Karena udah nggak bisa menjaga keseimbangan, gue hanya menunggu dengan pasrah sampai badan gue membentur tanah basah.

"I got you..!"

Tiba-tiba badan gue sudah berada dalam dekapan sang pangeran tampan. Gue pasti udah mati dan masuk surga. Well, jadi jangan salahin gue kalau gue sempat membeku untuk beberapa detik, apa menit, ya? He smells really nice...Dan badannya itu, lhoo...apa ya, kata yang tepat...kokoh?

" See, i told you. Akan lebih baik kalau tadi saya langsung gendong kamu."

" Saya bisa jalan sendiri kok." keras kepala.

" Ya, saya yakin kamu bisa."

Tiba-tiba seluruh badan gue terangkat dari tanah.

"What do you think you are doing?? Turunin nggak!! Turunin saya!"

" Nope. And i'm thinking, rite now im carrying a very beautiful yet stubborn lady."

Okay, that would shut me up for a while. Lagian nggak seburuk itu juga ternyata, digendong oleh seorang laki-laki tampan melintasi taman.

"Here we go..." katanya sambil menurunkan saya di lantai gazebo. Hmm, siapa sangka kalau jarak gazebonya sedekat ini.

"Gee, thanks..." walau lega karena sepatu gue berhasil diselamatkan, gue tetep aja nggak mau memberi makhluk sok kuat ini kepuasan.

"Anytime milady... Lagian saya yakin, Louboutin tidak menciptakan sepatu itu untuk kamu pakai di tanah seperti ini."

"Are you gay, or something?"

"What?!"

"Hanya cowok-cowok gay yang bisa mengenali merek sepatu tertentu."

"Hahahaha, apa kamu pikir seorang laki-laki gay akan bersusah payah menggendong kamu seperti tadi?"

"Well, gay are women bestfriend, lagian saya nggak tau kalau ternyata kamu kepayahan."

"I would like to kiss that wicked mouth"

"..." damn!

Si Mr.I-know-Im-gorgeous-so-what itu sekarang hanya menatap dalam-dalam mata gue sambil tersenyum geli. Dia pun lalu meminum isi gelasnya. Wait! Gimana caranya dia masih megang gelas itu sehabis menggendong gue??

"Kenapa? Kan saya udah bilang tadi, saya nggak membutuhkan seluruh tangan saya untuk menggendong kamu."

"Gi..gimana caranya?"

"It's not for you to know, my dear..." tersenyum lebar.

"Cih." cemberut.

"Hahaha, emang umur kamu berapa sih? Suddenly you look like 13 to me."

"It's none of yourbusiness!" gue bisa ngerasain panas menjalari pipi gue. Makhluk tampan sialan! "Bukannya masih terlalu pagi, ya, untuk minum sesuatu yang beralkohol?!" gue bertanya sengit.

Dia hanya menatap gue dalam, dengan senyum geli yang lagi-lagi tersungging di bibirnya. "Cobain, deh," Damian menyodorkan gelas itu ke gue. "Ayo cobain, saya nggak beracun, kok."katanya lagi ketika ngeliat gue yang ragu-ragu.

Setengah nggak yakin akhirnya gue ambil juga gelas itu, dan menyisip cairan di dalamnya. Manis, dan...well, agak-agak asam. Sirup beraroma mawar. Damn! Gue yakin muka gue pasti semerah kepiting rebus saat ini. Sial sial sial!! Kenapa dia nggak bilang langsung aja, sih?? Penting, ya, bikin gue malu dulu. "Sorry..." gue berkata pelan, sambil berusaha menyelamatkan harga diri yang tersisa.

"Hahaha, that's okay. It's a very beautiful view to see a lady blushing,"

"Gee, thanks..."

"Ada rencana weekend ini?" tanyanya tiba-tiba.

"It depends, why d'u ask?"

"Have dinner with me this saturday," Agak susah menjawab suatu pertanyaan kalau lo ditatap seserius itu. Tapi gue adalah seorang perempuan mandiri, tegar, beriman (hmm, kok jadi kayak slogan kota, ya?), dan nggak akan luluh begitu saja.

"I'll let you know..." gue menjawab sombong dan bersiap pergi. Damian menarik tangan gue dan menggenggamnya erat, "When?" tanyanya.

"After noon. On saturday," dan gue pun berlalu, dengan senyum kemenangan.***

19 November, 2007

Menggapai Langit

"Just be careful, okay..." ujar Rama sambil menepuk pelan kepalaku. "I know, you have a soft spot for bad boys, but i think, this one is beyond it," dia melanjutkan lagi. Matanya tampak khawatir. Ah, Rama...Rama, betapa gue sayang sama lo.

"Geez, just relax... Gue bisa jaga diri kaleee...lagian kenapa mesti se-khawatir itu sih, Ram? Toh, you'll always be there to catch me when i fall, kan?" aku berusaha mencairkan ketegangan yang sepertinya dari tadi meliputi mimik wajah kakakku satu ini. Lagipula, itu memang betul kok. Saat senang dan susah Rama selalu ada disana, aku selalu tau bahwa aku bisa selalu menghambur ke pelukannya setiap kali ada sesuatu yang berjalan salah.

"Iya, tapi kalau bisa nggak jatuh, bakal lebih baik, kan?" Yeah yeah...Rama the Philosopher. Tapi saat ini, aku sedang jatuh cinta setengah mati, bahkan kakakku yang kucintai sepenuh hati ini pun tak akan bisa merubahnya.

Sumber pembicaraan kami kali ini adalah seorang lelaki, bernama Langit. Hmm, even his name sounds so sexy, according to me, yaaa. Seperti namanya yang ada jauh tinggi, di atas sana, begitu pula posisinya dalam strata sosial hidupku. Bertahun-tahun aku hanya mampu memandangnya dari jauh, berharap bisa menjadi salah satu bintang yang bisa menempel padanya setiap malam. Tapi entahlah...sebelumnya keberadaan ku tak lebih bagai air yang tenang, yang akan selalu dengan setia memantulkan keindahannya, tanpa pernah mempunyai kesempatan untuk menyentuh. Namun sekarang, mungkin aku sudah berubah menjadi setitik bintang di langit malam.

"Hey! Jangan ngelamun kali. Dengerin donk, kalau orangtua lagi ngomong!" Wooo, blagu banget si Rama. Jelas-jelas aku sama dia cuma beda 1 tahun 5 bulan.

"Yeah, yeah...siapa yang bengong sih, kaak... Iya iya, gue pasti jaga diri kok. Emang lo pikir gue bego apa?!"

"Lo tu emang nggak bego, tapi walau gimanapun asiknya lo, lo tu tetep cewek!" Eits, mulai sexist nih si Rama.

"Trus kenapa kalau gue cewek?? Kalau gue cowok gue nggak bakal naksir Langit, kaleee... Doh!" aku berseru sengit. Emang paling sensi kalau obrolan sudah mulai bawa-bawa jenis kelamin.

"Bukan gitu,non, tapi kaum lo itu terkenal karena tindakan-tindakan bodoh mereka kalau lagi jatuh cinta! Apalagi, cowok macam si Langit itu, tipe yang bakal diperingatin sama semua orang tua ke anak-anak gadis mereka. Yang pada akhirnya justru malah bikin anak-anaknya makin tertarik. Kayak lo gini, nih, sekarang"

"Then, why don't you just stop warning me? Dengan begitu, siapa tau aja gue jadi nggak begitu tertarik lagi sama dia..." balasku sambil menggoyang-goyangkan alis. Ini adalah gerakan yang sangat dibenci Rama. Kenapa? Karena tentu saja dia tidak bisa melakukannya, hahahaha.

"Ya, sesukamulah, lil' sist... Just don't come running to me when he break yourheart." AKu cuma mangut-mangut, karena tau kalau hal itu benar-benar terjadi, Rama lah orang pertama yang akan berlari dan menyediakan bahunya untukku. The only person that I can always take for granted.


***


Hujan. AKu suka hujan, hujan menutupi hal-hal buruk. Itu menurutku.

Aku sedang menunggu Langit, dia berjanji akan menemuiku di tempat ini. Sudah hampir satu jam aku duduk di sini. Disebuah kafe kecil yang juga menyewakan buku. Ide yang cerdas, mengingat tempat-tempat seperti ini biasanya dijadikan tempat pertemuan, dan akan diisi oleh orang-orang yang menunggu dengan bosan. Buku akan menjadi hiburan yang menyenangkan.

Rinai hujan membasahi dinding kaca kafe itu. Cuaca yang mendung, belum lagi waktu yang sudah hampir malam membuatku agak sulit melihat pemandangan di luar. Aku memainkan kotak bekal di hadapanku. Sekotak lasagna khusus untuk Langit. Aku ingat suatu waktu dulu, dia pernah melahap habis bekalku dalam sekejap mata. Sekotak lasagna buatan Mama waktu itu. Hhh, aku merindukannya.

Dua jam sudah berlalu, kafe semakin penuh. Setiap sudutnya diisi oleh orang-orang yang baru menyudahi kegiatan mereka hari itu. Mulai dari para pegawai kantoran, mahasiswa, pelajar sekolah, dan sekelompok orang, dilihat dari pakaian mereka yang eksentrik, adalah segerombolan seniman. Langit masih belum datang.

Entah kenapa, aku tidak keberatan berada disini, sendiri. Menanti datangnya seseorang, yang kehadirannya selalu meninggalkan bias sinar untukku bertahan. Sekarang, setelah akhirnya aku berhasil menggapainya, semua hal tak ada yang terlalu berat. Aku bisa dengan sukarela menghabiskan malamku hanya duduk diam disini, membaca buku-buku yang tak kumengerti, meminum bercangkir-cangkir kopi, hanya untuk mendapatkan sekelebat bayangannya. Dan aku rela melakukannya berulang-ulang kali. Obsesi.

Bunyi kecipak air dari luar membuyarkan lamunanku. Di balik kaca, kulihat Langit sedang berlari berpayungkan gulungan koran. Terlalu tak peduli untuk melindungi diri. Dengan setengah terengah dan sedikit basah, dia menghampiriku.

"You are still here..."

"Of course, where else did you think I'm gonna be?"

"Let say... Anywhere but here?" ujarnya sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah. Tersenyum tipis. "Aku seneng kamu masih disini," Langit menggapai tanganku, menggenggamnya.

"Aku juga," jawabku, tersenyum lega. Then he kissed my hand.


***

AKu membuka pintu. Dihadapanku berdiri Langit, tinggi menjulang, bercucuran darah. Bukan hal baru. AKu menariknya masuk. Mendudukkannya di sofa, dan berjalan ke dapur mencari es batu, dan lap piring yang bersih. Aku sudah kehabisan handuk tanpa bekas noda darah. Lalu kembali ke ruang duduk.

Langit duduk diam disofa, kedua tangannya menyangga kepala. Dia mendongak ketika mendengar langkahku.

"I'm sorry..."

"That's okay. Hold this," kataku sambil menyodorkan plastik berisi es batu. Aku mulai membersihkan wajahnya. Siapa yang menyangka kalau ternyata darah itu bukan darahnya. Muka Langit hanya dipenuhi memar dan lebam, tanpa luka. Dengan hati-hati aku membuka kemejanya yang sudah robek dibeberapa bagian. Perut dan dadanya lagi-lagi dipenuhi memar, baru dan lama. Tiba-tiba dia menahan tanganku yang sedang membersihkan wajahnya, dan mengecupnya lembut.

"What would I do without you?" dia bertanya sambil terpaku menatapku.

"You'll be some unknown dead body on the street?" jawabku sambil membebaskan tangan dan kembali membersihkan darah kering yang menempel di kulitnya.

"Hahaha, ya, mungkin kamu benar," dia menyandarkan badannya ke punggung sofa, dan meluruskan kaki.

"Tentu aja aku benar, mana mungkin bisa salah. You are lucky you are still alive this time," lanjutku.

"Apa kamu nggak mau tau? Apa yang terjadi, siapa yang salah, gimana awalnya, gimana akhirnya... anything, everything?"

"No, I don't. Apapun yang terjadi, nggak bakal ada bedanya buatku." jawabku. "You are still my hero," aku mengedipkan mata untuk mengecilkan makna ucapanku barusan.

Dia mengambil lap piring yang sekarang berwarna coklat itu, meletakkannya di meja, dan menarik tubuhku. My head on his shoulder, the greatest place in the world, in my world. "Don't go anywhere," bisiknya di telingaku.

"Never"


***

"Lagi ngapain lo?" Rama menjulurkan lehernya di pintu kamarku.

"Trying to sleep, sebelum lo tau-tau datang, dan mengganggu," jawabku gusar. Langit baru pulang tadi pagi. Bergegas kembali ke dunianya.

"Jam segini?? Come on, sist! Get your lazy ass up, and go play outside!" ujarnya sambil melemparkan badan ke atas kasurku.

"What are you? five??" aku menarik selimut menutupi muka. Tidak mengacuhkan Rama yang mulai menggoyang-goyangkan tubuhku. "Stop it!! Some people do need to sleep, you know!" Aku mendorong tubuhnya dari kasur. Eegh, dia sangat berat.

"Tumpukan apa tuh, yang ada di kamar mandi lo?" Rama bertanya tiba-tiba.

"Ngh??" tak begitu sadar aku menanggapi ucapannya."Tumpukan apa?"

"Itu, yang ada di kamar mandi lo, warnanya coklat." Shit! Aku lupa langsung membuangnya ke tempat sampah, tapi aku memang tidak tau Rama akan datang hari ini.

"Oh, itu. Tau gue lupa, abis dipake buat ngelap lantai kayaknya," jawabku tak acuh, tapi sudah sepenuhnya sadar sekarang. Rama sukses mengusir kantukku.

"Do you think I'm stupid??"

"Well, yeaah, sometimes..."

"Stop it, sist! It's him, rite? Dateng berlumuran darah, setelah bikin ulah entah dimana, mengharapkan lo untuk mengurusnya, atau sekalian menghangatkan malamny...

"Enough! That's rude!! GUe sama sekali nggak bisa mentolerir omongan lo!!!" aku duduk, merasa over expose dalam keadaan berbaring. "Apapun yang gue lakuin sama dia, it's none of your business!! Apapun yang ingin gue perbuat untuk dia, sama sekali bukan hak lo untuk nyampurin hal itu!!!" Rama terkejut, dan dia pun terdiam. Hanya menatapku dengan pandangan bingung, aku bukan orang yang sering menunjukkan kemarahanku, bahkan pada kakak kandungku sendiri.

"Look what he turns you into... Are you really happy? Does he make you happy? Seperti yang lo lakuin untuk dia, kayak semua hal yang lo perbuat untuk dia?" Rama bertanya pelan, ekspresi terguncang masih tampak diwajahnya. Rama, what should I do to make you understand...?

"What do you think?? Of course not! Setiap malam, gue berdoa semoga dia datang dalam keadaan masih hidup. Setiap dia pulang, gue berharap itu bukan untuk yang terakhir kalinya dia datang. Setiap detik dalam hari gue, selalu gue pakai untuk berdoa semoga semua ini bisa berlangsung lama. Semoga dia bukan sesuatu yang cuma gue pinjem, bukan sesuatu yang bisa hilang... Bahwa entah bagaimana, suatu hari nanti dia akan bisa gue gapai, dan dia akan tersadar, dan tau, waktu untuk berhenti akhirnya datang. Lalu dia pulang, pulang, ke gue!! Apa lo ngerti semua itu, Ram!!! Apa lo tau, jadi apa gue sekarang dibuat sama dia??!!!" aku bisa merasakan air mata membasahi mukaku, semua sedu sedan, isak tangis, sekarang terasa bagai bendungan yang bobol.

Rama langsung menarikku, mendekap tubuhku erat, dan menggerakkan badannya, seakan ingin menghanyutkanku dalam ayunannya. AKu masih terus terisak, dan tak tau bagaimana caranya untuk berhenti.

"I'm sorry sist, I'm so sorry..." dia mengatakannya berulang-ulang, bagaikan sebuah dzikir panjang tanpa makna.

"I love him, Ram, I really really love him...what is so wrong with that?" ujarku, di sela-sela isakan yang tak mau berhenti.

"Nothing, there's nothing wrong..." Rama tetap mengayun badanku pelan. "Let just hope, nobody would see it as a mistake either..."


***

"Apa kamu tau kamu seperti apa?" Tanya Langit siang itu. Kami sedang berbaring di atas tikar piknik ditaman kota. Di sekeliling kami banyak anak kecil berlarian, bunyi air mancur bergemiricik pelan, dan burung-burung kecil berlarian disekitar remah-remah roti yang dilemparkan. Kepalaku berbantalkan lengan.

AKu meletakkan buku yang tengah kubaca dan menghadapnya, "No, I don't. Seperti apa menurut kamu?" Menikmati pemandangan mengamati wajahnya dari sisi ini.

"Apa kamu tau apa arti nama kamu? Iris?"

"Yaa, some goddess of rainbow, or something like that. Kenapa?"

"Buat aku kamu memang seperti itu. Seperti dewi pelangi yang terbang hilir mudik, meninggalkan jejak cahaya. Jejak kamu akan membawa kebahagiaan bagi siapapun yang cukup beruntung melihatnya," Langit kini menatapku.

"Berarti seharusnya kamu bersukur, karena dewi ini, mau meninggalkan jejaknya untuk selalu kamu lihat," kelakarku sambil menyingkirkan rambut yang jatuh menutupi matanya.

"I am...I think I never thank God enough for it. Kamu tau Iris, aku rasa, aku akan berhenti..." AKhirnya...saat yang kukira tak akan pernah datang. Aku hanya tersenyum menatapnya. "AKu akan berhenti Iris, aku akan berhenti membiarkan orang-orang itu membayarku mengerjakan pekerjaan kotor mereka. Kita akan pergi, ketempat yang tak bisa ditemukan mereka, kita akan pergi, dan tak pernah kembali. Kamu mau pergi, Iris?"

Aku bangkit, dan duduk. Menatapnya, mencoba mencari kesungguhan di matanya. Dan semua yang kucari, memang ada disana. "Anywhere. I'll go anywhere with you," jawabku. Dia pun bangkit, setelah memelukku erat, dia membantuku berdiri.

"Let's go... Let find some place to..." apapun yang ingin dikatakannya terhenti. Dalam adegan lambat aku melihat sesuatu yang berkilauan menghujam dadanya. Suara desingan peluru terasa memekakkan telinga. Teriakan, jeritan, makian bergabung menjadi suatu satuan yang tak bermakna, memenuhi udara dengan kepanikan. Burung-burung langsung mengepakkan sayap mereka, terbang, dan menghilang.

AKu berdiri nanar menatap Langit, menyaksikannya roboh, bagai pohon tumbang. Tangannya terjulur mencoba menggapaiku. Aku hanya diam, membeku. Suara teriakan yang tak bisa kukeluarkan terasa bertalu-talu, menghantam seluruh panca inderaku. Air mata terasa menumpuk di kelopak mataku, memaksanya menutup, tapi bahkan sekedar berkedip pun aku tak bisa. Udara terasa membuncah, meledak ingin keluar dari dadaku, semua badanku, setiap sel darahku, terasa sakit, dan seolah-olah berhenti berfungsi.

AKu menatap Langit. Di tanah berkubang darah, yang kutahu pasti itu darahnya, hanya darahnya. Matanya terbuka menatapku, dan darah terus mengalir. Kelamaan membentuk lingkaran di sekeliling tubuhnya, membasahi bajunya, menggenangi rumput. Aku menatap cairan merah yang lama kelamaan, kutau membawa kehidupan Langit meninggalkanku, tapi aku hanya tetap diam terpaku.

"Iris..." bisiknya. Menyadarkanku.

Aku segera berlutut disampingnya. Mengangkat kepalanya ke atas pangkuanku. AKu bisa mendengar mulutku membisikkan namanya berulang-ulang kali. AKu mencoba menutup lubang yang mengucurkan darah didadanya, tapi sepertinya itu sia-sia. Darahnya terus mengalir, dan mengalir, dan mengalir...

"Iris..." bisiknya lagi. Dia mengumpulkan sisa tenaganya dan menyentuh pipiku. AKu bisa merasakan badanku bergoyang-goyang, seperti yang dilakukan Rama waktu itu, membuat ayunan untuk mengusir kenyataan. Mulutku terus membisikkan namanya berkali-kali, dan lagi, dan lagi, dan lagi... "Iris, kamu tau kamu seperti apa?" bisiknya, lemah dan parau. AKu menggeleng kalut, tak mampu membentuk kata lain dengan mulutku selain namanya.

"Iris, kamu seperti pelangi...terlalu indah untuk kumiliki..."

Dan dia pun pergi, hilang, membumbung, tinggi.


Dan Langit, selamanya kamu tak akan pernah tergapai.

15 November, 2007

Rumah Di Tepi Pantai

Saya berjalan menyusuri pantai. Hari ini lengang, tapi mungkin keadaan seperti ini yang paling baik. Saya bisa merasakan panasnya matahari di kulit saya, nanti malam mungkin akan perih, tapi saya tidak peduli. Saya tidak ingin mempedulikan apapun saat ini. Saya hanya ingin berjalan, dan terus berjalan, entah menuju kemana. Mungkin memiliki seekor anjing kecil yang berlari-lari di dekat kaki saya akan menyenangkan, tapi saya tidak punya anjing, saya alergi pada bulu binatang.

Angin meniup bagian bawah gaun saya, saya jadi ingat saat kecil dulu, saya suka menari berputar-putar agar gaun saya terangkat dan membentuk lingkaran yang cantik, seperti yang dilakukan oleh para penari Spanyol. Saya juga sempat ingin menjadi seorang penari. Saya membayangkan akan mengenakan sebuah gaun yang sangat cantik, dengan rok lebar dari bahan chiffon yang sangat ringan, manik-manik akan memenuhi rok saya, dan saat saya menari saya akan terlihat bersinar-sinar, seakan-akan ratusan kunang-kunang ikut menari bersama saya. Tapi tentu saja hal itu tak pernah terjadi. Hidup saya berhenti terasa menarik, semenjak...entahlah.

Saya melihat sesuatu yang berkilauan, agak tertimbun pasir pantai yang putih. Mungkin kulit kerang, saya membatin. Tapi tetap menunduk untuk memungutnya. Ternyata itu sama sekali bukan kulit kerang, melainkan sebuah cincin. Cincin emas yang sangat indah, dengan sebuah batu kecil berwarna biru berbentuk seperti tetesan air ditengahnya. Batu safir. Siapa yang sampai hati membuang cincin seindah ini, atau apakah cincin ini terjatuh? Sesaat saya ragu, apa saya boleh membawa cincin ini, atau harus meletakkannya lagi. Tapi bagaimana kalau cincin ini tersapu air, dan terbawa, menghilang di lautan luas?

Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu. Siapa tau seseorang akan datang untuk mencari cincin cantik ini. Saya lalu berjalan ke sebuah pohon kelapa yang cukup besar, berencana untuk duduk dibawahnya.

Pantai masih tetap lengang, pasti hanya orang bodoh, atau orang yang sangat bosan seperti saya yang mau berada di pantai dalam cuaca sepanas ini. Ah, saya tak peduli, lebih baik saya mulai menunggu dengan tenang. Saya akan menunggu sampai malam tiba, kalau tidak ada siapapun yang datang, berarti cincin ini menjadi milik saya, atau, entahlah...saya belum tau.

Saya mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas pantai saya. Love In The Time of Cholera. Apa rasanya jatuh cinta, sampai tak bisa lepas lagi? Seakan-akan cinta kita itu jadi bagian dari tubuh kita, bukankah akan menyeramkan? Atau bagaimana rasanya bisa jatuh cinta dalam sekejap mata? Apakah rasanya bagai tersambar petir, tersengat listrik, atau sensasi-sensasi aneh lainnya yang mengejutkan? Apa yang Shakespeare pikir akan dirasakan oleh Romeo dan Juliet saat mereka bertemu? Bagaimana mereka berdua bisa langsung jatuh cinta, lantas melupakan segalanya? Ah, mungkin itu hanya karena mereka masih sangat muda, sehingga semuanya terasa begitu dramatis. Seperti yang saya alami saat masih sangat muda dulu.

Bagaimana orang-orang bisa menulis kisah cinta yang hebat? Apakah Shakespeare orang yang penuh cinta, apakah dia memuja cinta? Ah, saya rasa dia gila, atau bahkan membenci cinta. Semua orang yang jatuh cinta selalu dibuatnya berakhir menderita, ck! Bagaimana dengan legenda Yunani itu? Apakah mungkin ada perempuan yang memiliki cinta sebesar Penelope? Akankah para kekasih tetap setia menunggu, sampai orang yang mereka cintai pulang, walau tak tau untuk berapa lama. Atau adakah orang yang jadi gila karena cinta, seperti Qais yang kehilangan akal sehatnya karena Laila. Aneh, kenapa hampir semua kisah cinta yang tetap hidup sepanjang masa, berisi tentang para pecinta yang mati?

Lebih baik saya lupakan hal itu untuk sementara, dan membaca buku ini. Sebenarnya saya tak ingin buru-buru menyelesaikannya, ceritanya sangat indah, selain itu saya juga belum punya buku lain untuk dibaca. Jadi dengan ragu-ragu saya kembali menutup buku saya tadi, belum ingin mulai membaca lagi. Saya mengeluarkan cincin itu dari saku gaun pantai saya, mengangkatnya menghadap matahari. Dan saya bisa melihat cahaya matahari berpendar melalui batu safir itu. Persis seperti cincin idaman saya. Hhh, seandainya saja cincin ini milik saya.

Seorang laki-laki berjalan di pantai. Hmm, ternyata ada juga orang yang sama bodohnya dengan saya. Tapi laki-laki itu sedang menunduk dan bahunya agak membungkuk sehingga terlihat sedih. Semoga saja dia tidak berniat bunuh diri, saya tak ingin merasa bersalah karena tak ingin menyelamatkannya. Tapi kalau saya perhatikan wajah laki-laki itu tak buruk juga, malah diatas rata-rata. Kalau mood saya sedang bagus, saya akan menyebutnya ganteng, tampan, atau apapun sejenisnya. Dan kalau mood saya sedang lebih bagus lagi, mungkin saya akan berusaha mengajaknya bicara. Tapi saat ini, saya sedang malas, jadi sudahlah, biarkan saja, it's his lost, anyway...hehehe.

Laki-laki itu menundukkan badannya yang agak kurus, memandangi pasir pantai, tapi anehnya dia seperti hanya termangu. Setelah membungkuk cukup lama, dia menurunkan tangannya dan mengais-ngais pasir. Oops, jangan-jangan ini dia sang pemilik cincin. Hhh, padahal saya benar-benar berharap untuk dapat memiliki cincin ini. Laki-laki itu sudah menegakkan badannya lagi, dan kembali berjalan. Matanya masih memandang ke bawah, terkadang dia membungkuk, tapi lalu berjalan lagi. Sepertinya saya memang harus benar-benar mengembalikan cincin ini.

“Hey...!!! Hey!!” saya mencoba memanggilnya, tapi sepertinya lelaki itu tak mendengar suara saya. Saya pun berdiri dan berjalan mendekat. Saya menepuk bahunya, dia tersentak kaget. “Apa kamu mencari sesuatu?” tanya saya sambil menatap wajahnya, lebih tepatnya mengamati wajahnya. “Apa ada barang kamu yang hilang?” saya bertanya lagi, karena sepertinya dia tidak menangkap pertanyaan pertama saya tadi.

“ Entahlah...” Heh?! Mana ada orang yang mencari sesuatu tapi tidak tahu apa ada barangnya yang hilang. Dasar aneh! Tapi, ya Tuhan, dia ternyata sangat tampan. Matanya tajam, dan berwarna coklat tua pekat. Rambutnya hitam, segelap malam, dengan ikal lembut yang menjuntai di keningnya. Seperti rambut Superman, tanpa gel tentunya. Hidungnya sangat mancung, dan sepertinya pernah patah. Dan yang paling luar biasa adalah bibirnya, bergaris tegas, cukup tebal, dan, kalau mengikuti novel-novel roman, menjanjikan kenikmatan, hahaha.“Kamu nggak tau ada barang kamu yang hilang atau nggak?” tanya saya lagi. Tuhan maha adil, dia menciptakan makhluk setampan ini, dengan kapasitas otak yang kecil.

“Bukan. Saya tidak tau, apa barang saya yang hilang itu, benar-benar hilang, atau sebenarnya saya sudah menemukannya.” Oh okey, mungkin ternyata dia tidak terlalu bodoh, hanya aneh. “Apa kamu menemukan sesuatu?”

“Tergantung, apa kamu mencari sesuatu?” Dia hanya tersenyum, tipis. Mungkin itu lebih baik, kalau dia tersenyum lebih lebar lagi, dia akan mencuri hati saya saat ini juga.

“Tidak, tidak lagi. Saya rasa saya sudah berhenti mencari.”

“Oh. Alrighty then,” dan saya pun berbalik. Berbicara terlalu lama dengan orang ini akan membawa akibat buruk bagi saya. Entah hati saya akan hancur berkeping-keping, atau saya melakukan hal bodoh dengan menyeretnya ke balik pohon, and kiss him senselessly. Oh Tuhan, saya rasa saya terlalu lama hidup sendirian. Atau...apa saya sedang jatuh cinta, secepat kilat seperti yang selalu diagung-agungkan para sastrawan.

“Tunggu!” dia berteriak memanggil saya. “Kamu mau kemana?”

“Pergi, memang kelihatannya seperti apa?” Dasar bodoh! Tapi, seandainya dia meminta saya menemaninya, siapalah saya kiranya bisa menolak.

“Kenapa? Apa kamu punya hal lain yang ingin dilakukan?” Tentu, seperti kembali di bawah pohon, membuka buku saya, dan membayangkan wajahnya seharian penuh.

“Tentu saja. Apa saya terlihat seperti orang bodoh, yang akan berdiri di bawah terik matahari, dan tidak melakukan apa-apa?”

“Apa kamu mau menemani saya?” O ow, be careful with what you wish for, honey. ”Maksud saya, kalau kamu tidak ada hal lain yang perlu dilakukan, maukah kamu menemani saya?” I'll do anything for you, love, mwuahaha. Tuhan tolong bantu saya, jangan biarkan saya melakukan hal-hal bodoh.

“Menemani? Kamu? Orang asing yang saya tidak tahu dari mana asalnya. Saya bahkan tidak tau apa kamu benar-benar manusia, atau prajurit utusan Ratu Kidul yang bermaksud menculik saya.” Saya pun mengibas-ngibaskan gaun pantai saya yang berwarna hijau.

“Saya tidak tau kalau ternyata kamu sekarang percaya tahayul.”

“Tentu saja kamu nggak tau! Kamu bahkan tidak tau siapa nama saya, apa saya benar-benar perempuan, atau seorang transversite yang sukses.”

“Saya tau kamu benar-benar seorang perempuan. Kalau kamu mau, saya bisa menanyakan nama kamu, dan saya bersumpah tidak akan menculik, dan menyerahkan kamu pada penguasa laut manapun,” dia berkata sambil mengangkat tangan kanannya dan membentuk tanda'V'.

“Kamu tau darimana saya benar-benar seorang perempuan? Kamu tak akan pernah bisa membayangkan apa yang pisau bedah mampu lakukan,” tantang saya.

“Sejauh ini, yang mampu pisau bedah saya lakukan adalah mengangkat dan memindahkan organ tubuh manusia, memotong usus buntu, melancarkan sumbatan organ dalam, dan...ya, saya belum pernah melakukan operasi kelamin, jadi saya memang tidak terlalu yakin.” Hmm, menarik. Jadi lelaki aneh yang saya kira bodoh ini adalah seorang dokter bedah, atau... pembunuh berdarah dingin yang melakukan mutilasi pada para korbannya, dan mengoleksi organ tubuh mereka. Tapi, para pembunuh tidak memotong usus buntu, kan??

“Okey, saya mau menemani kamu, tapi kamu harus menjawab dua pertanyaan saya.”

“Apapun.”

“Apa orang-orang yang kamu bedah itu, memang meminta kamu untuk melakukannya?” Dia terdiam dan lalu matanya membelalak menatap saya. Kenapa dia mesti heran, wajar kalau saya menanyakan pertanyaan itu. Sekarang ini kita tidak boleh lengah, bukan?

“Apa maksud kamu, saya orang gila yang berkeliling dan membedah orang-orang, lalu memotong-motong badan mereka dan mengoleksi organ tubuhnya?” Ups! “Mereka meminta saya, bahkan mereka membayar saya untuk itu. Terlalu berlebihan terkadang, cuma tempat saya bekerja mengatakan banyak biaya administrasi yang harus dibayar oleh orang-orang itu.”

“Okey... jadi kamu bukan seorang pembunuh gila. Lalu, apa yang kamu cari di pantai tadi? Yang kamu nggak yakin lagi, mau kamu temukan atau nggak...”

“Oh itu... sudah tidak penting lagi. Saya yakin, benda yang saya cari tadi, sudah sampai ke tempat dia seharusnya berada. Okey, mungkin belum terlalu tepat, tapi sudah tidak terlalu jauh lagi.” Dasar aneh! “Jadi? Apa kamu mau menemani saya?” tanyanya sambil agak membungkuk agar bisa lebih dekat dengan kepala saya yang memang hanya sedikit melebihi bahunya.

“Okey, jadi kita mau apa? Kemana?” tanya saya sambil membetulkan tali gaun pantai saya yang agak turun.

“Ke rumah kamu,” said the devil with a smile in his angelic face.

“Whoaa, mau apa kita di rumah saya??!” Hmm, tapi kenapa ide itu tidak terdengar terlalu jelek, ya? Di rumah nanti, kami bisa... well, there's a lot, a lot of things that we could do. Tuhaaaan, lelaki ini benar-benar memberi pengaruh buruk pada otak saya yang sudah lama tidak terkena rangsangan feromon.

“Hahaha, jangan panik dulu. Ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan ke kamu”

“Sesuatu? Yang kamu ingin tunjukkan ke saya, dan ada di rumah saya?? Hmm, aneh, kenapa saya sebagai sang PEMILIK rumah tidak bisa mengingat apapun yang mungkin bisa kamu tunjukkan, ya!” dan makhluk tampan menyebalkan ini hanya berdiri sambil tersenyum-senyum di hadapan saya. Yang berarti dengan sukses berhasil mencuri hati saya. Yang artinya lagi, akan membuat saya mengikuti apapun keinginannya.

“Percaya saja. Kamu akan sangat terkejut begitu kita sampai. Walau, melihat mimik kamu sekarang, saya tidak yakin itu akan menjadi kejutan yang menyenangkan.”

Okey then...apapun yang ingin kamu tunjukkan nanti, saya harap, kamu tetap ada disana untuk menerima semua reaksi saya,” what is life without some risks. Dia lalu menggandeng tangan saya, yang anehnya terasa... tepat. Kalau saja kupu-kupu di dalam perut saya bisa sedikit lebih tenang, mungkin saya tidak terlalu merasa ingin muntah.

Kami tidak banyak bicara sepanjang jalan. Dalam hati saya berdoa pada Tuhan, berharap, entah bagaimana rumah saya akan bergerak menjauh setiap kami berjalan mendekat. Jadi dia akan menggenggam tangan saya sedikit lebih lama. Saya bisa mendengar detak jantung saya, bertalu-talu. Seakan ada seorang penebang pohon yang sedang menggerakkan kampaknya, dengan kecepatan yang tak teratur. Seandainya saya adalah sebuah bintang, makanya tubuh saya akan memancarkan cahaya yang sanggup menerangi sebuah desa.

“Apa kamu benar-benar tidak tau siapa saya?” dia tiba-tiba memecah kesunyian antara kami. “Maksud saya, apa saya tidak mengingatkan kamu pada seseorang?” Ng... saya yakin saya belum pernah melihat wajahnya dimanapun.

Nope! Why? Apa kamu kenalan seseorang yang saya kenal?” pertanyaannya entah bagaimana membuat jantung saya berdebar lebih keras. Entah karena takut, atau hanya... yah, hanya karena tangannya makin erat menggenggam tangan saya.

“Seharusnya iya... Seharusnya memang ada seseorang yang mengingatkan kamu tentang saya. Apa ibu kamu dulu tidak pernah memperingatkan kamu, untuk tidak pergi bersama orang asing? Hehehe...” katanya sambil terkekeh. Menyebalkan!

“Ibu saya tidak punya waktu untuk itu. Dia selalu yakin kalau saya mampu menjaga diri saya sendiri. Untungnya saya memang bisa,” jawab saya sambil mengangkat bahu untuk memberi kesan tidak acuh. Padahal, seumur hidup, tidak pernah sedetik pun saya berhenti berdoa agar Ibu punya waktu sedikit lebih banyak untuk saya. Sayangnya, Tuhan masih belum mengabulkan doa saya.

Dia memandang saya, dan entah bagaimana tatapannya menunjukkan seakan-akan dia benar-benar mengerti perasaan saya. “Jika saya memiliki anak seperti kamu, saya tidak akan pernah melepaskannya dari pengawasan mata saya. Saya akan mengikutinya kemana pun dia pergi, mencari tau semua kenalannya, dan memastikan dia memakai baju yang tidak terlalu menonjolkan kecantikkannya. Yang pasti, baju-baju yang akan saya pilihkan tidak akan seperti baju yang kamu pakai sekarang,” ujarnya sambil mengangkat sebelah alis, dan menggerakkan kepalanya ke arah bahu saya.

“Untungnya kamu bukan ayah saya. Saya sangat pemilih dalam berpakaian, dan ayah saya selalu membuat saya merasa cantik!” Saya menjawab tegas. Walau sebenarnya, saya yakin pipi saya warnanya sudah sama dengan pantat bayi saat ini. Kenapa, sih, dengan orang ini?! Semua yang dia lakukan hanya membuat darah saya mengalir cepat ke arah jantung. Apa dia bisa menyelamatkan saya, seandainya saat ini tiba-tiba saya terkena serangan jantung mendadak. Dia kan cuma dokter bedah. Dia hanya tersenyum lagi, dan kami kembali berjalan dalam diam.

Atap rumah saya mulai tampak. Dinding-dinding kacanya memantulkan sinar matahari. Saya sangat mencintai rumah itu. Dinding-dinding kokohnya menjadi teman yang sangat setia, dan pendengar yang sabar atas semua keluh kesah dan isak tangis saya. Satu-satunya hal yang membuat saya mampu menerima semua ketidakpedulian Ibu adalah karena dia membuatkan rumah mungil di pinggir pantai ini untuk saya. Walau dia tidak pernah bermalam sekalipun di dalamnya. Rumah ini, dan seseorang di masa lalu, dulu.

“Apa kamu tau, kamu ternyata sangat mirip dengannya?” dia tiba-tiba kembali melontarkan kata-kata yang tidak bisa langsung dicerna oleh otak saya.

“Hah? Apa?” saya yakin tampang saya saat ini sangat bodoh. “Mirip dengan siapa?”

“Kamu. Kamu sangat mirip dengan ibu kamu. Saya yakin, saat muda dulu wajahnya persis seperti kamu,” lanjutnya sambil menghentikan langkah. “Rambut panjang dengan ikal-ikal halus. Tulang pipi yang tinggi, dagu yang lancip dan angkuh, lesung di kedua pipi, bibir yang kecil dan penuh. Hanya mata kamu lebih besar, dan lebih expresif. Mata kamu akan membuat lelaki mana pun jatuh cinta,” Dia lalu memutar badannya menghadap saya, dan matanya menusuk tajam ke arah mata saya. Saya bisa mendengar sebuah suara di otak yang meneriakkan pertanyaan, termasuk kamu, termasuk kamu??!! “termasuk saya...” Haaaaaaah???!!!

“Dasar lelaki sinting! Kitakan baru bertemu setengah jam yang lalu...!” saya berusaha menutupi gemuruh yang memenuhi kepala saya. Apa akan menjadi terlalu gila, seandainya saya langsung membalas pernyataan cintanya dengan semangat berapi-api? Ya, tentu saja... “Apa kamu selalu mengatakan hal yang sama, kepada semua perempuan yang kamu temui sedang sendirian di pinggir pantai??” Katakan tidak, katakan tidak, katakan tidak...

“Nope!” Amien. “Saya bahkan tidak pernah mengajak bicara perempuan yang saya tidak kenal, walau dalam kasus kita, memang kamu yang terlebih dahulu mengajak saya bicara. Tapi, kamu tentu mengerti maksud saya,”

“Yah, apapunlah... So, kita sudah sampai, jadi apa yang ingin kamu tunjukkan?” ujar saya, sambil mengetuk-ngetukkan telapak kaki saya dengan lagak tidak sabar. Padahal, seluruh waktu saya di dunia, akan rela saya serahkan untuk ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna ini. Dia membuka gagang pintu, dan kami pun melangkah kedalam. Anehnya rumah kami sudah dipenuhi banyak orang.

“Hai, kamu sudah pulang?” Ibu saya menyeruak dari kerumunan orang-orang itu. Aneh, sejak kapan Ibu datang? Biasanya dia selalu memiliki berjuta kesibukan, dan tak sempat datang. “Ibu sudah dari tadi menyuruh Nino mencari kamu...” Nino? Nino? Kenapa nama itu terasa tidak asing? Saya lantas menengok ke arah lelaki tinggi langsing dan asing, yang sepanjang tadi menggenggam tangan saya.

“Kamu? Nino? Nino yang dekil, korengan, bau, dan yang selalu membawa ketapel kemana-mana??” Ya Tuhaaan... dia pahlawan masa kecil saya.

“Ketapel itu terbukti cukup ampuh untuk mengusir anak-anak lain yang mengganggu kamu, dan walaupun saya bau, kamu selalu berjalan di belakang, dan mencengkram erat baju kaus saya,“ jawabnya acuh. Kenapa saya tidak menyadari kemiripan mereka dari tadi? Nino semasa kecil saya dulu, memang selalu kurus, dan tinggi. Nino kecil dulu memang cukup tampan, tapi wajahnya selalu kotor, dan rambutnya selalu dilapisi pasir pantai. Nino kecil dulu, selalu setia membuatkan saya istana-istana pasir, sehingga bau air laut, seakan tidak pernah benar-benar hilang dari tubuhnya. Nino kecil dulu, hidungnya pernah berdarah dan patah, terkena papan selanjar ketika mencoba menarik saya yang nekat menaiki papan itu. Saya masih ingat baju renang yang dipenuhi darahnya, membuat Ibu berlari-lari menghampiri saya dengan mimik khawatir. Saat pertama dan terakhir dia mengkhawatirkan saya. Nino dulu... pernah mencium saya, dibalik tumpukan ban-ban renang yang disewakan dipinggir pantai, saat kami masih berumur 8 tahun. Nino dulu, pernah membuatkan saya kalung dari kulit kerang, dan berjanji akan menggantinya dengan... cincin bermata safir. Cincin bermata safir yang birunya sebiru air laut dalam lukisan ayah saya. Cincin bermata safir, yang permatanya akan memancarkan sinar matahari, dan berbinar indah seperti ribuan kunang-kunang. Kunang-kunang yang pernah kami lihat di malam ulangtahun saya yang ke-10, di sebuah muara dekat rumah. Nino, yang ketika kami berusia 12, pergi. Dia berjanji akan kembali, lalu...

“Saya rasa kamu sudah menemukan cincinnya?” Suara Nino membuyarkan lamunan saya. “Saya melihat kamu memungutnya di pantai tadi. Dan menyimpannya...” Dengan tak sadar, saya merogoh saku gaun pantai saya lalu membuka telapak tangan saya di depan Nino. Cincin itu tergeletak indah di atasnya. “Apa kamu suka? Apa warna birunya sebiru lukisan ayah kamu?” dia bertanya. Otak saya seakan beku. Nama Nino selalu tersimpan rapi dalam sebuah laci di sudut hati saya. Laci yang hampir tak pernah saya buka, karena isinya akan mendatangkan rasa sepi. hingga membuat saya hampir melupakannya. Hidup saya, terasa selalu membosankan, tidak menyenangkan, karena tidak ada Nino yang biasanya siap mengajak saya berpetualang. Setiap hari dulu, Nino selalu mengulurkan tanggannya, seperti yang dilakukan Peter Pan di jendela rumah Wendy, dan membawa saya ke Neverland kami sendiri. Mendaki bukit-bukit karang, memasuki lubang-lubang yang tercipta akibat kikisan air laut, dan menganggapnya sebagai gua pribadi kami.

Sekarang, kami berusia 27 tahun. Lebih setengah umur saya, dilalui tanpanya. Dia telah menjadi seorang dokter bedah, dan saya, seorang pelukis seperti ayah. Tanpa saya sadari, kami berhasil menjadi apa yang kami cita-citakan dulu. Dan tanpa saya pernah tau, saya selalu menunggu Nino kembali, dan memulai petualangan baru kami.

“Persis. Birunya persis sama,” akhirnya saya bisa bersuara. Sekeliling saya seakan menjadi kabur. Dalam rumah ini seakan-akan hanya ada saya dan Nino. Sekarang, apakah penantian saya akan mendapatkan imbalannya?

“Jadi, apakah itu artinya, kita jadi menikah?” Janji 15 tahun lalu pun ditepati.

“Ya, tentu saja,” dan saya pun mendekat, memeluknya. Akhirnya, saya pun pulang.