1. Between Sheets- Imogen Heap
I walked alone. Alone. Alone. And alone. But I sensed someone's lurking.
I needed to go there to see you for I had something to tell you.
"What if anything happened to us before we reach the finish line?" As I thought along the way.
"Will you be there when I arrived?
What if I died first? Will you still be waiting for me to come?" As I whispered my way.
I walked alone. Alone. And alone. But I sensed someone's lurking.
Did you see it?
It took me away to the darkest sky. I'm no longer on your side. I'm sorry I couldn't finish until the end..
14 May, 2011
20 March, 2009
pencarian obsesi
Pagi ini, aku tahu aku tertipu. kemarin orang itu sudah memberi peringatan. Dia bilang aku harus tahu hal yang sebenernya akan terjadi. Dia memberikan aku perincian yang sebenar-benarnya. Tapi sial, aku akhirnya terkelabui juga. sekarang, aku benar-benar merasa terbodohi. Mereka pasti tertawa di hadapanku tanpa kuketahui. Mereka pikir mereka pintar. mereka selalu menginginkan lebih. Aku tahu meminta yang lebih itu tidak salah. Kita kan manusia. Kita dianugrahi perasaan haus dan lapar setiap saat. Tapi, mereka berlebihan. Aku sebal. Aku merasa bodoh.
Aku bosan. Setengah jam sudah aku menunggu. mereka belum selesai juga. Kapan mereka berhenti mengelabuiku? Aku tahu apa yang mereka lakukan. Sebelum hari ini, mereka pernah bilang tidak bisa kepadaku. Mereka langsung mengatakannya dengan yakin. Aku menanyakan ulang, mereka bilang tidak bisa, tetap tidak bisa. Saat itu aku ragu, aku tahu ada yang salah. Namun, aku teryakini. Aku menerima pernyataan itu. Aku hidup dengan pernyataan itu. Pernyataan yang membuat aku tidak berkutik. Aku tidak jadi melakukan perubahan. Aku harus menanti lagi dengan was-was.
Baru dua hari yang lalu aku akhirnya tahu yang sebenarnya. Teman dari temanku memberikan informasi. Dia bilang, sebenernya hal itu bisa terjadi. Dia dengan yakin sekali memberitahu. Dia sampai menampik pernyataan mereka dengan tahi sapi. Dia bilang, mereka bohong. Sialan. Lalu, akhirnya aku mencari informasi lebih. Untuk meyakinkan aku. Aku mencari orang yang dapat membantuku membongkar kebohongan itu. Lalu, aku terhubung dengan orang itu, sang informan.
"Tolong saya, man," aku memohon. Dia menyambutku dengan baik. Aku bilang aku tahu tentang dia dari temannya temanku. Aku ceritakan semuanya yang terjadi. Aku memberitahu dia kebohongan yang aku dapati. Aku beritahukan hal-hal yang janggal. Dia mendengarkan dan dengan segera dia menolongku. Dia mengajariku bagaimana harus menyikapi kebohongan itu. Dia mendampingiku mengkonfirmasi ke pihak yang berwajib. Bahkan, dia memberitahu bahwa aku harus menemui orang-orang yang mendukung dan menutupi kebohongan mereka. Akhirnya, aku tahu.
Lalu, aku segera menemui orang-orang yang melindungi mereka. Aku menginginkan konfrontasi. Aku datang dengan waspada. Aku menghampiri orang-orang itu dengan yakin. Aku yakin mereka akan bisa membantuku. Orang-orang itulah yang bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Orang-orang itulah yang bisa melegalkan kebohongan mereka. Aku senang, akhirnya aku bisa terselamatkan. Aku akhirnya bisa melihat garis-garis perak di awan.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bangsat, orang-orang itu tidak bisa membantu! Orang-orang itu tahu apa yang terjadi. Orang-orang itu tahu bagaimana menyelesaikan masalahnya. Orang-orang itu...orang-orang itu...orang-orang itu...Ah, tahi sapi! Orang-orang itu memerintah aku untuk menemui saja mereka langsung. Merekalah yang harus bertanggung jawab akan perbuatan mereka sendiri. Sial. Aku sudah jauh-jauh datang meminta bantuan. Tapi, sekali lagi, aku terhempas dengan kesia-siaan.
Aku harus bagaimana? Apakah aku sekali lagi harus menelan pil pahit ini sendiri? Akan sangat bagus jika pil pahit ini bias membuatku sehat dan bugar. Tetapi tidak, pil pahit ini memang hanya berguna untuk memahitkan kehidupanku. Ah, hidupku terasa begitu pahit…Kapan aku bisa merasakan manis yang sebenar-benarnya? Aku harus menahan diri sekali lagi. Semua hal yang terjadi sekarang adalah bukan kesalahanku. Atau memang ini benar aku yang mengakibatkannya?
Saat ini ada kesunyian malam, kekosongan ruang, kegelapan benak, kehampaan raga, dan kehausan jiwa. Semua ini harus kujalani sendiri. Orang-orang tidak bertanggung jawab itu pasti sedang menikmati kesenangan mereka di atas penderitaanku. Ah, aku ingin sekali melihat nyawa mereka meregang di depan mataku. Aku ingin mereka dengan perlahan merasaka pedih yang aku rasakan. Kalau saja mereka tidak melakukan hal itu, mereka pasti akan baik-baik saja. Tapi sekarang, jangan harap mereka akan bisa hidup dengan tenang. Aku akan memburu mereka.
Pisau, tali, minyak tanah, kayu, panah, korek api, kain bekas, dan plastik besar telah kusiapkan. Perincian detik, menit, jam, hari pun telah tersedia di kepalaku. Aku sudah menguatkan hatiku. Aku telah meyakinkan kepalaku. Aku sudah meminta bantuan, Kawan-kawanku akan segera datang, Mereka sedang dalam perjalanan membelikan aku sesuatu. Aku sudah menanyakan apa yang mereka beli; tetapi mereka tidak mau menjawab. Mereka bilang, hal ini pasti sangat berguna untuk rencanamu. “Tenang saja,”kata salah satu kawanku itu. “Hah! Bagaimana aku bisa tenang?!” aku menghardiknya. Setelah aku bilang begitu dia mengatakan sesuatu yang membuat aku terdiam. “Kau benar-benar mau melakukan ini, bukan? Tenang saja kami, kawanmu, mendukung sepenuhnya yang akan kaulakukan. Jadi, tenang saja.”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mereka datang! Mereka datang!
“Hai, manis.”
“Hai, kawan-kawan.”
“Kami membawa sesuatu untukmu.”
“Iya, apa itu? Cepat berikan padaku!”
“Ets, tidak secepat itu. Kami mau meyakinkan kamu dulu. Kamu tetap akan melakukan yang kamu rencanakan, bukan?”
“Ah, tentu saja! Kalian jadi membantuku, kan?”
“Nah, itu dia masalahnya. Kami merencanakan sesuatu yang lain. Maka dari itu kami bawakan ini untukmu.”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Ah, benar yang ini! Benar! Kawan-kawan, terima kasih ya! Aku sudah lama sekali menunggu-nunggu hal ini. Aku sudah berjuang mati-matian untuk mendapatkan ini. Aku malah sudah mempersiapkan alat-alat yang dapat kugunakan untuk bisa menikmati ini. Terima kasih kawan. Aku terharu sekali. Aku sampai tidak dapat berkata apa-apa. Kalian tahu kan bagaimana perjuangan ku kesana dan kemari untuk mendapatkan hakku ini? Orang-orang yang memisahkan aku dari ini sudah aku benci setengah mati. Orang-orang yang bilang tidak ada harapan untuk menemukan ini pun sudah aku maki. Mereka yang membiarkan aku menunggu tanpa tahu apa yang terjadi juga sudah aku kutuk. Sekarang, ah, untung saja aku punya teman seperti kalian.”
“Iya, iya sudah jangan banyak bicara, habiskan saja daging kambing special itu. Kami sudah susah payah menangkapnya untukmu. Kami membantumu dengan tulus karena kami tahu bagaimana kau sudah membesarkan anak kambing itu untuk kamu hidangkan. Kami tahu orang yang mencuri kambingmu. Sekarang silahkan dinikmati makanannya. Itu masakan hasil koki terbaik hanya untukmu yang telah berjuang mati-matian mendapatkan hakmu. Jadi kamu tidak perlu memburu kambing baru lagi, simpan saja alat-alat itu. Bagaimana, enak bukan?”
“Enak tuenan, kawan. Terima kasih.”
Aku bosan. Setengah jam sudah aku menunggu. mereka belum selesai juga. Kapan mereka berhenti mengelabuiku? Aku tahu apa yang mereka lakukan. Sebelum hari ini, mereka pernah bilang tidak bisa kepadaku. Mereka langsung mengatakannya dengan yakin. Aku menanyakan ulang, mereka bilang tidak bisa, tetap tidak bisa. Saat itu aku ragu, aku tahu ada yang salah. Namun, aku teryakini. Aku menerima pernyataan itu. Aku hidup dengan pernyataan itu. Pernyataan yang membuat aku tidak berkutik. Aku tidak jadi melakukan perubahan. Aku harus menanti lagi dengan was-was.
Baru dua hari yang lalu aku akhirnya tahu yang sebenarnya. Teman dari temanku memberikan informasi. Dia bilang, sebenernya hal itu bisa terjadi. Dia dengan yakin sekali memberitahu. Dia sampai menampik pernyataan mereka dengan tahi sapi. Dia bilang, mereka bohong. Sialan. Lalu, akhirnya aku mencari informasi lebih. Untuk meyakinkan aku. Aku mencari orang yang dapat membantuku membongkar kebohongan itu. Lalu, aku terhubung dengan orang itu, sang informan.
"Tolong saya, man," aku memohon. Dia menyambutku dengan baik. Aku bilang aku tahu tentang dia dari temannya temanku. Aku ceritakan semuanya yang terjadi. Aku memberitahu dia kebohongan yang aku dapati. Aku beritahukan hal-hal yang janggal. Dia mendengarkan dan dengan segera dia menolongku. Dia mengajariku bagaimana harus menyikapi kebohongan itu. Dia mendampingiku mengkonfirmasi ke pihak yang berwajib. Bahkan, dia memberitahu bahwa aku harus menemui orang-orang yang mendukung dan menutupi kebohongan mereka. Akhirnya, aku tahu.
Lalu, aku segera menemui orang-orang yang melindungi mereka. Aku menginginkan konfrontasi. Aku datang dengan waspada. Aku menghampiri orang-orang itu dengan yakin. Aku yakin mereka akan bisa membantuku. Orang-orang itulah yang bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Orang-orang itulah yang bisa melegalkan kebohongan mereka. Aku senang, akhirnya aku bisa terselamatkan. Aku akhirnya bisa melihat garis-garis perak di awan.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bangsat, orang-orang itu tidak bisa membantu! Orang-orang itu tahu apa yang terjadi. Orang-orang itu tahu bagaimana menyelesaikan masalahnya. Orang-orang itu...orang-orang itu...orang-orang itu...Ah, tahi sapi! Orang-orang itu memerintah aku untuk menemui saja mereka langsung. Merekalah yang harus bertanggung jawab akan perbuatan mereka sendiri. Sial. Aku sudah jauh-jauh datang meminta bantuan. Tapi, sekali lagi, aku terhempas dengan kesia-siaan.
Aku harus bagaimana? Apakah aku sekali lagi harus menelan pil pahit ini sendiri? Akan sangat bagus jika pil pahit ini bias membuatku sehat dan bugar. Tetapi tidak, pil pahit ini memang hanya berguna untuk memahitkan kehidupanku. Ah, hidupku terasa begitu pahit…Kapan aku bisa merasakan manis yang sebenar-benarnya? Aku harus menahan diri sekali lagi. Semua hal yang terjadi sekarang adalah bukan kesalahanku. Atau memang ini benar aku yang mengakibatkannya?
Saat ini ada kesunyian malam, kekosongan ruang, kegelapan benak, kehampaan raga, dan kehausan jiwa. Semua ini harus kujalani sendiri. Orang-orang tidak bertanggung jawab itu pasti sedang menikmati kesenangan mereka di atas penderitaanku. Ah, aku ingin sekali melihat nyawa mereka meregang di depan mataku. Aku ingin mereka dengan perlahan merasaka pedih yang aku rasakan. Kalau saja mereka tidak melakukan hal itu, mereka pasti akan baik-baik saja. Tapi sekarang, jangan harap mereka akan bisa hidup dengan tenang. Aku akan memburu mereka.
Pisau, tali, minyak tanah, kayu, panah, korek api, kain bekas, dan plastik besar telah kusiapkan. Perincian detik, menit, jam, hari pun telah tersedia di kepalaku. Aku sudah menguatkan hatiku. Aku telah meyakinkan kepalaku. Aku sudah meminta bantuan, Kawan-kawanku akan segera datang, Mereka sedang dalam perjalanan membelikan aku sesuatu. Aku sudah menanyakan apa yang mereka beli; tetapi mereka tidak mau menjawab. Mereka bilang, hal ini pasti sangat berguna untuk rencanamu. “Tenang saja,”kata salah satu kawanku itu. “Hah! Bagaimana aku bisa tenang?!” aku menghardiknya. Setelah aku bilang begitu dia mengatakan sesuatu yang membuat aku terdiam. “Kau benar-benar mau melakukan ini, bukan? Tenang saja kami, kawanmu, mendukung sepenuhnya yang akan kaulakukan. Jadi, tenang saja.”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mereka datang! Mereka datang!
“Hai, manis.”
“Hai, kawan-kawan.”
“Kami membawa sesuatu untukmu.”
“Iya, apa itu? Cepat berikan padaku!”
“Ets, tidak secepat itu. Kami mau meyakinkan kamu dulu. Kamu tetap akan melakukan yang kamu rencanakan, bukan?”
“Ah, tentu saja! Kalian jadi membantuku, kan?”
“Nah, itu dia masalahnya. Kami merencanakan sesuatu yang lain. Maka dari itu kami bawakan ini untukmu.”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Ah, benar yang ini! Benar! Kawan-kawan, terima kasih ya! Aku sudah lama sekali menunggu-nunggu hal ini. Aku sudah berjuang mati-matian untuk mendapatkan ini. Aku malah sudah mempersiapkan alat-alat yang dapat kugunakan untuk bisa menikmati ini. Terima kasih kawan. Aku terharu sekali. Aku sampai tidak dapat berkata apa-apa. Kalian tahu kan bagaimana perjuangan ku kesana dan kemari untuk mendapatkan hakku ini? Orang-orang yang memisahkan aku dari ini sudah aku benci setengah mati. Orang-orang yang bilang tidak ada harapan untuk menemukan ini pun sudah aku maki. Mereka yang membiarkan aku menunggu tanpa tahu apa yang terjadi juga sudah aku kutuk. Sekarang, ah, untung saja aku punya teman seperti kalian.”
“Iya, iya sudah jangan banyak bicara, habiskan saja daging kambing special itu. Kami sudah susah payah menangkapnya untukmu. Kami membantumu dengan tulus karena kami tahu bagaimana kau sudah membesarkan anak kambing itu untuk kamu hidangkan. Kami tahu orang yang mencuri kambingmu. Sekarang silahkan dinikmati makanannya. Itu masakan hasil koki terbaik hanya untukmu yang telah berjuang mati-matian mendapatkan hakmu. Jadi kamu tidak perlu memburu kambing baru lagi, simpan saja alat-alat itu. Bagaimana, enak bukan?”
“Enak tuenan, kawan. Terima kasih.”
30 December, 2008
Terlalu Pendek
Ada yang berubah pagi ini. Ada yang tak sama. Ada bantal dan selimut yang rapi tidak terusik tadi malam di sebelahku, kuintip dengan sebelah mata yang barusan kupaksa terbuka.
Ada yang hilang untuk selamanya.
Sekali lagi aku mengerling. Kubangunkan semua indera. Ada yang salah dengan bayangan yang tertangkap mataku. Mengapa semua begitu berbeda? Rasa malam itu masih sangat berbekas di benak.
Apakah mungkin semua telah pergi lama?
snd | nnd
Ada yang hilang untuk selamanya.
Sekali lagi aku mengerling. Kubangunkan semua indera. Ada yang salah dengan bayangan yang tertangkap mataku. Mengapa semua begitu berbeda? Rasa malam itu masih sangat berbekas di benak.
Apakah mungkin semua telah pergi lama?
snd | nnd
24 March, 2008
terapi dan percobaan
nickname: mira_cute
password:*********
sign in. click.
signing in.
BUZZ!!!
yudith84: heeeey
BUZZ!!!
mira_cute: dimana did?
mira_cute: udah sidang?
yudith84: uuugh
yudith84: blum kluar niy jadwalnya
yudith84: deg degan
mira_cute: lo menyediakan sesi terapi ga did?
mira_cute: nantinya
yudith84: oh iya iya
mira_cute: kira2 kpn
mira_cute: heheh
yudith84: sampe sebelom gw s2 masih gratis
mira_cute: rese looo
yudith84: kl udah yudisium mah atueehh bayar
yudith84: ehehe
mira_cute: masa percobaan dulu kali
mira_cute: baru kalo terbukti ampuh
mira_cute: ada feenya
mira_cute: huahah
yudith84: ga pk percobaan segala
yudith84: udah terbukti
mira_cute: yg booneeeeng
yudith84: iya benerrr
mira_cute: serius niiiii
mira_cute: ihiks
yudith84: whaha
mira_cute: yudisium apan sih?
yudith84: engga lah
yudith84: ama temen mah gw kasi murah
yudith84: 10 sesi gratis 1 sesi
yudith84: whaha
yudith84: gw kayak jualan beha di pasar baru ginih
mira_cute: anjiiir
mira_cute: huahahaha
mira_cute: gubrak banget
yudith84: beneran
yudith84: kmaren gw abis dr pasar baru soalnya
yudith84: whaha
mira_cute: yaaa, knafa ga bilang2 lo
mira_cute: kmaren banget gue juga dari daerah sana
yudith84: gw pikir lo ga minat yg murah2 gituu
mira_cute: kan vintij dit
mira_cute: VINTIJ
mira_cute: hihihih
mira_cute: kpn kesananya?
yudith84: apaan tuh?
yudith84: maap kagak nagrti
yudith84: ehehe
mira_cute: et deh
mira_cute: anyway
mira_cute: lo pernah menghadapi orang yg suicidal ga?
yudith84: emang lo mo konseling ama gw?
yudith84: um..
yudith84: langsung sih engga yah
mira_cute: gue pengeeeen banget ggitu ikut sesi2 terapi gitu
mira_cute: so i can know what is wrong with me
mira_cute: hihihihi
yudith84: whaha
yudith84: emang lo knapa?
yudith84: prasaan baek2 aja
mira_cute: gue kenapa ya
mira_cute: lieur aja rasanya
mira_cute: mentok sama pikiran gue sendiri
mira_cute: tenggelam dengan perasaan2 bersalah gue
mira_cute: and so on and so on
yudith84: lg banyak pikiran?
yudith84: lo butuh liburan mungkin..
mira_cute: banyak sih engga
mira_cute: butuh banget
mira_cute: basisnya sih, i did a terrible mistake
mira_cute: dan gue ga bisa berhenti menyesal
mira_cute: dan akhirnya bikin gue ga nyaman sama diri gue sendiri
mira_cute: huaaa
yudith84: emangnya ksalahan itu nyangkut kesejahteraan org laen?
mira_cute: engga secara langsung
mira_cute: tp jadniya gue seperti menyembunyikan rahasia2, yg bikin idup gue g tenang
yudith84: jadi lo nyembunyiin rahasia dr org laen?
mira_cute: iya
yudith84: yg namanya nyimpen rahasia emang ga enak sih
yudith84: tp lo kpikiran buat ngasi tau org itu ngga ?
mira_cute: engga
yudith84: trus yg ol takutin apa ?
mira_cute: apa yaaaa
mira_cute: dosa
yudith84: waaah
yudith84: jd kl diaksi tau lo jd dosa?
mira_cute: ga sih
mira_cute: i already did the sin
mira_cute: dan gue ga mau oarng tau gue melakukan dosa itu
yudith84: um..
mira_cute: jadi intinya gue udah berdosa
mira_cute: gitu....
yudith84: minta ampun ama Tuhan dulu dong
mira_cute: udah
mira_cute: but still it creates fear kalo gue akan dapat akibat dari dosa gue ini
mira_cute: ihiks
yudith84: minta ampun ama diri sendiri
yudith84: kl lo sendiri ngga bisa memaapkan diri lo sendiri
yudith84: apalagi tuhan?
mira_cute: hmmm
yudith84: smua org juga pernah bikin dosa kok..
mira_cute: gimana caranya maafin diri sendiri
yudith84: jgn pernah qt nyalahin diri sndiri kl bikin kesalahan
yudith84: yg penting qt tau n sadar kl itu salah
yudith84: minta maap ama tuhan, ngaku salah
yudith84: dan berusaha untuk engga melakukan itu lg
yudith84: kl gw mah gitu sih
yudith84: yg penting qt jgn menghakimi diri sendiri
yudith84: turs nyalah2in diri
mira_cute: hmm. kabut di mata gue aga2 memudar
mira_cute: hihihihihi
yudith84: aduh
mira_cute: thk ya
yudith84: di jkt ada kebakaran utan?
yudith84: ehhee
yudith84: kt gw ya mir..
yudith84: kadang tuhan emang mengijinkan qt mnglakuin kesalahan
yudith84: soalnya pasti ada maksud yg baek dr itu
yudith84: supaya qt lebih deket ama dia
yudith84: namanya manusia
yudith84: kl bikin kesalahan baru inget ama tuhan
yudith84: taelaa
yudith84: sok tua bgt ya gw hihih
mira_cute: ih yudiiiit
mira_cute: bisa banget
mira_cute: see, somehoe i just need someone to give me the answer of everything
mira_cute: akhirnya gue bisa cerita sama lo did
mira_cute: gue ga bisa cerita sama siapa2
mira_cute: even sama temen deket gue disini
yudith84: aduh gw jd geer..
mira_cute: gue sangat2 ga mau people judge me bad for things i've done
yudith84: kadang orang teh suka gitu ya
mira_cute: ntar kalo misalnya praktek lo udah resmi, gue jadi pasien tetep lo ya
mira_cute: hahahahaha
yudith84: whaha
yudith84: lo dapet nomer registrasi 1
yudith84: whahah
mira_cute: aseeek
mira_cute: ih tapi beneran bakal jadi terapis ga?
yudith84: enggaaaa
yudith84: terapis perkembangan gitu sih masih demen gw
yudith84: kl konseling...
yudith84: duh engga deh
yudith84: tp pgnnya mah kerja kantoran
yudith84: bisa wawancara org hihi
mira_cute: oh macam hrd gitu yaa
mira_cute: huhuhuhuh
mira_cute: ada tips dan trik ga sih untuk bisa mengahadapi hrd yg menggunaka alat psikologi untuk menyaring karyawannyaaa?
mira_cute: ahahah panjang pertanyaan gue
yudith84: whaha
yudith84: kl tes2nya sih engga ada tipsnya ya
yudith84: soalnya kadang yg diliat kan tergantung butuh yg kayak gemana
yudith84: palig kl gambar org
yudith84: jangan pernah gambar org yg giignya tajem2
yudith84: ato kukunya tajem2
mira_cute: kenafa tuh
mira_cute: oh gambar orang yang sempurna tuh kaya gimana?
mira_cute: gue pernah tuh
mira_cute: apa sih pointnya?
yudith84: yah
yudith84: simbol agresi gitu
yudith84: yg penting lo gambar yg lo sk aja
yudith84: jgn dibuat2
yudith84: jgn ditambah2in yg ga perlu
yudith84: kl disuruh gambar orang ya gambar orang aja
yudith84: soalnya gw pernah dapet gambar orang di dalem rumah
yudith84: pusing dah
mira_cute: gitu ya
mira_cute: simpel aja
mira_cute: orang
mira_cute: ga pake baju gitu
yudith84: whaha
yudith84: ya jgn dong
mira_cute: kalo tes itung2an yg disediain lembar kosong buat itung2 apaan tuh?
yudith84: itung2an yg segade koran?
mira_cute: engga,yang selembar biasa aja
mira_cute: ada tambah2an
mira_cute: ada cerita soal matematika
mira_cute: trus di sebelahnya ada lahan koson kecil buat oret2
yudith84: ooo
yudith84: itu mah tes iq
yudith84: eh eh
yudith84: tes nya selembar doang?
yudith84: ato ada bukunya gitu?
mira_cute: selembar
yudith84: iya iya bener buat ngukur iq
yudith84: lo dites buat paan?
mira_cute: majalah
yudith84: mungkin buat mastiin lo ngga mr
yudith84: whahah
yudith84: becanda2
yudith: mr?
yudith84: ehehe iya mentally retarded
mira_cute: buseeeet
mira_cute: huaks
yudith84: whaha
-------------------------------
disconnected.
nickname:yudith84
password:*******
sign in. click.
sign in as invisible to everyone.
signing in.
BUZZ!!!
yudith84: mission accomplished.
yudith84: she's in guilt.
infamousbarata: bagus. terminasi temannya.
infamousbarata:mira yg bakal tanggung jawab.
yudith84:toxic yg gue kasih ga bakal bisa terminasi cepet.
yudith84:lu kasih gue cadangan.
infamousbarata:gapapa. yg perlahan-lahan lebih ok.
infamousbarata:kita bisa observe mira lebih lama
yudith84:ok
infamousbarata:percobaan kita bs berhasil
yudith84:pasti
yudith84:karna ide lo yg gila
infamousbarata:kalo engga gila, kita ga akan jadi kayak si sigmund
infamousbarata:huahahahahahhaha
yudith84:heheheheheh
yudith84:shoot. gtg. she's calling.
infamoubarata: k
yudith84:TTFN
------------------------------
signing out.
password:*********
sign in. click.
signing in.
BUZZ!!!
yudith84: heeeey
BUZZ!!!
mira_cute: dimana did?
mira_cute: udah sidang?
yudith84: uuugh
yudith84: blum kluar niy jadwalnya
yudith84: deg degan
mira_cute: lo menyediakan sesi terapi ga did?
mira_cute: nantinya
yudith84: oh iya iya
mira_cute: kira2 kpn
mira_cute: heheh
yudith84: sampe sebelom gw s2 masih gratis
mira_cute: rese looo
yudith84: kl udah yudisium mah atueehh bayar
yudith84: ehehe
mira_cute: masa percobaan dulu kali
mira_cute: baru kalo terbukti ampuh
mira_cute: ada feenya
mira_cute: huahah
yudith84: ga pk percobaan segala
yudith84: udah terbukti
mira_cute: yg booneeeeng
yudith84: iya benerrr
mira_cute: serius niiiii
mira_cute: ihiks
yudith84: whaha
mira_cute: yudisium apan sih?
yudith84: engga lah
yudith84: ama temen mah gw kasi murah
yudith84: 10 sesi gratis 1 sesi
yudith84: whaha
yudith84: gw kayak jualan beha di pasar baru ginih
mira_cute: anjiiir
mira_cute: huahahaha
mira_cute: gubrak banget
yudith84: beneran
yudith84: kmaren gw abis dr pasar baru soalnya
yudith84: whaha
mira_cute: yaaa, knafa ga bilang2 lo
mira_cute: kmaren banget gue juga dari daerah sana
yudith84: gw pikir lo ga minat yg murah2 gituu
mira_cute: kan vintij dit
mira_cute: VINTIJ
mira_cute: hihihih
mira_cute: kpn kesananya?
yudith84: apaan tuh?
yudith84: maap kagak nagrti
yudith84: ehehe
mira_cute: et deh
mira_cute: anyway
mira_cute: lo pernah menghadapi orang yg suicidal ga?
yudith84: emang lo mo konseling ama gw?
yudith84: um..
yudith84: langsung sih engga yah
mira_cute: gue pengeeeen banget ggitu ikut sesi2 terapi gitu
mira_cute: so i can know what is wrong with me
mira_cute: hihihihi
yudith84: whaha
yudith84: emang lo knapa?
yudith84: prasaan baek2 aja
mira_cute: gue kenapa ya
mira_cute: lieur aja rasanya
mira_cute: mentok sama pikiran gue sendiri
mira_cute: tenggelam dengan perasaan2 bersalah gue
mira_cute: and so on and so on
yudith84: lg banyak pikiran?
yudith84: lo butuh liburan mungkin..
mira_cute: banyak sih engga
mira_cute: butuh banget
mira_cute: basisnya sih, i did a terrible mistake
mira_cute: dan gue ga bisa berhenti menyesal
mira_cute: dan akhirnya bikin gue ga nyaman sama diri gue sendiri
mira_cute: huaaa
yudith84: emangnya ksalahan itu nyangkut kesejahteraan org laen?
mira_cute: engga secara langsung
mira_cute: tp jadniya gue seperti menyembunyikan rahasia2, yg bikin idup gue g tenang
yudith84: jadi lo nyembunyiin rahasia dr org laen?
mira_cute: iya
yudith84: yg namanya nyimpen rahasia emang ga enak sih
yudith84: tp lo kpikiran buat ngasi tau org itu ngga ?
mira_cute: engga
yudith84: trus yg ol takutin apa ?
mira_cute: apa yaaaa
mira_cute: dosa
yudith84: waaah
yudith84: jd kl diaksi tau lo jd dosa?
mira_cute: ga sih
mira_cute: i already did the sin
mira_cute: dan gue ga mau oarng tau gue melakukan dosa itu
yudith84: um..
mira_cute: jadi intinya gue udah berdosa
mira_cute: gitu....
yudith84: minta ampun ama Tuhan dulu dong
mira_cute: udah
mira_cute: but still it creates fear kalo gue akan dapat akibat dari dosa gue ini
mira_cute: ihiks
yudith84: minta ampun ama diri sendiri
yudith84: kl lo sendiri ngga bisa memaapkan diri lo sendiri
yudith84: apalagi tuhan?
mira_cute: hmmm
yudith84: smua org juga pernah bikin dosa kok..
mira_cute: gimana caranya maafin diri sendiri
yudith84: jgn pernah qt nyalahin diri sndiri kl bikin kesalahan
yudith84: yg penting qt tau n sadar kl itu salah
yudith84: minta maap ama tuhan, ngaku salah
yudith84: dan berusaha untuk engga melakukan itu lg
yudith84: kl gw mah gitu sih
yudith84: yg penting qt jgn menghakimi diri sendiri
yudith84: turs nyalah2in diri
mira_cute: hmm. kabut di mata gue aga2 memudar
mira_cute: hihihihihi
yudith84: aduh
mira_cute: thk ya
yudith84: di jkt ada kebakaran utan?
yudith84: ehhee
yudith84: kt gw ya mir..
yudith84: kadang tuhan emang mengijinkan qt mnglakuin kesalahan
yudith84: soalnya pasti ada maksud yg baek dr itu
yudith84: supaya qt lebih deket ama dia
yudith84: namanya manusia
yudith84: kl bikin kesalahan baru inget ama tuhan
yudith84: taelaa
yudith84: sok tua bgt ya gw hihih
mira_cute: ih yudiiiit
mira_cute: bisa banget
mira_cute: see, somehoe i just need someone to give me the answer of everything
mira_cute: akhirnya gue bisa cerita sama lo did
mira_cute: gue ga bisa cerita sama siapa2
mira_cute: even sama temen deket gue disini
yudith84: aduh gw jd geer..
mira_cute: gue sangat2 ga mau people judge me bad for things i've done
yudith84: kadang orang teh suka gitu ya
mira_cute: ntar kalo misalnya praktek lo udah resmi, gue jadi pasien tetep lo ya
mira_cute: hahahahaha
yudith84: whaha
yudith84: lo dapet nomer registrasi 1
yudith84: whahah
mira_cute: aseeek
mira_cute: ih tapi beneran bakal jadi terapis ga?
yudith84: enggaaaa
yudith84: terapis perkembangan gitu sih masih demen gw
yudith84: kl konseling...
yudith84: duh engga deh
yudith84: tp pgnnya mah kerja kantoran
yudith84: bisa wawancara org hihi
mira_cute: oh macam hrd gitu yaa
mira_cute: huhuhuhuh
mira_cute: ada tips dan trik ga sih untuk bisa mengahadapi hrd yg menggunaka alat psikologi untuk menyaring karyawannyaaa?
mira_cute: ahahah panjang pertanyaan gue
yudith84: whaha
yudith84: kl tes2nya sih engga ada tipsnya ya
yudith84: soalnya kadang yg diliat kan tergantung butuh yg kayak gemana
yudith84: palig kl gambar org
yudith84: jangan pernah gambar org yg giignya tajem2
yudith84: ato kukunya tajem2
mira_cute: kenafa tuh
mira_cute: oh gambar orang yang sempurna tuh kaya gimana?
mira_cute: gue pernah tuh
mira_cute: apa sih pointnya?
yudith84: yah
yudith84: simbol agresi gitu
yudith84: yg penting lo gambar yg lo sk aja
yudith84: jgn dibuat2
yudith84: jgn ditambah2in yg ga perlu
yudith84: kl disuruh gambar orang ya gambar orang aja
yudith84: soalnya gw pernah dapet gambar orang di dalem rumah
yudith84: pusing dah
mira_cute: gitu ya
mira_cute: simpel aja
mira_cute: orang
mira_cute: ga pake baju gitu
yudith84: whaha
yudith84: ya jgn dong
mira_cute: kalo tes itung2an yg disediain lembar kosong buat itung2 apaan tuh?
yudith84: itung2an yg segade koran?
mira_cute: engga,yang selembar biasa aja
mira_cute: ada tambah2an
mira_cute: ada cerita soal matematika
mira_cute: trus di sebelahnya ada lahan koson kecil buat oret2
yudith84: ooo
yudith84: itu mah tes iq
yudith84: eh eh
yudith84: tes nya selembar doang?
yudith84: ato ada bukunya gitu?
mira_cute: selembar
yudith84: iya iya bener buat ngukur iq
yudith84: lo dites buat paan?
mira_cute: majalah
yudith84: mungkin buat mastiin lo ngga mr
yudith84: whahah
yudith84: becanda2
yudith: mr?
yudith84: ehehe iya mentally retarded
mira_cute: buseeeet
mira_cute: huaks
yudith84: whaha
-------------------------------
disconnected.
nickname:yudith84
password:*******
sign in. click.
sign in as invisible to everyone.
signing in.
BUZZ!!!
yudith84: mission accomplished.
yudith84: she's in guilt.
infamousbarata: bagus. terminasi temannya.
infamousbarata:mira yg bakal tanggung jawab.
yudith84:toxic yg gue kasih ga bakal bisa terminasi cepet.
yudith84:lu kasih gue cadangan.
infamousbarata:gapapa. yg perlahan-lahan lebih ok.
infamousbarata:kita bisa observe mira lebih lama
yudith84:ok
infamousbarata:percobaan kita bs berhasil
yudith84:pasti
yudith84:karna ide lo yg gila
infamousbarata:kalo engga gila, kita ga akan jadi kayak si sigmund
infamousbarata:huahahahahahhaha
yudith84:heheheheheh
yudith84:shoot. gtg. she's calling.
infamoubarata: k
yudith84:TTFN
------------------------------
signing out.
25 October, 2007
hilang ingatan
waktu itu hujan belum turun, matahari masih menggantung, dan dia tidak sendirian.
di sudut sana anak-anak masih bergumul membicarakan rasa permen yang manis dan asem dan asin.
"hmm, aku suka banget nih permen, rasana maniiis banget.."
"ah, punyaku rasanya asem tapi seru banget tauk..."
"loh kok punyaku bisa asin ya rasanya? tapi aku suka, nanti bisa beruba manis kan?
di sudut sini anak-anak berbicara kepada dirinya sendiri.
"kapan aku bisa pulang? apakah aku akan bertemu ayah? mengapa tadi mama berpamitan padaku? apa nanti akan hujan?"
detik-detik terus berjalan, menit berlalu, matahari mulai menghilang, hujan tampaknya akan turun.
gelegar guntur semakin terdengar, kilat bergantian menyambar. apa kabar anak-anak itu?
tidak ada lagi yang suara-suara tentang manis, asam, dan asin. tidak ada lagi suara yang memenuhi sudut tempat itu.
anak itu sendiri. sepertinya dia sedang menunggu. dia berputar-putar di tempatnya. ah, sepi sekali. mengapa tiada yang menemani dia berbicara.
"kemana semua orang pergi? aku takut..."
tiba-tiba dia terhentikan oleh hangat genggaman tangan seseorang.
"ah, adik manis, kamu belum pulang?"
dia hanya mengggeleng.
"aku akan menemanimu sampai kamu dijemput."
"tenang saja. ada aku."
"kamu tidak sendiri."
terdengar bunyi terenyuh. hangat terasa di dalam dadanya. pijar -pijar kehangatan tampak di wajahnya.
akhirnya dia bisa tersenyum. dia menggenggam erat tangan lelaki kecil itu.
lalu tibalah saat gadis manis itu pergi, akhirnya ada yang menjemputnya, dia pun berlarian kecil menghampiri seseorang yang dia kenal.
genggaman itu terlepas begitu saja. membuat lelaki kecil itu terdiam. namun dia tersenyum melepas kepergian si gadis kecil itu.
------------------
bayangannya tidak lagi terlihat jelas di kepala. namun, sensasi yang dirasakan oleh panca indra masih terasa jelas di hati.
setiap kali teringat, dia tersenyum. setiap kali terbersit dia mengerut.
"ah,aku tak pernah sempat berterimakasih padanya. dimana dia?"
seiring berjalannya waktu, memori indah hampir terkubur dengan luka-luka baru,
seraya hari berlanjut, sistem pencarian manusia di dunia semakin menorehkan pengaruhnya.
dia pun mencari, mencari, mencari, dan mencari.
tidak pernah terkirim suatu petunjukpun kapan dia akan bisa menemukannya.
nama lelaki itu tidak pernah muncul. namanya belum dapat dicari. sampai detik ini.
"aku ingin bertemu dengannya"
---------------------------------
please forward this sms: akan diadakan reuni sekolah kita pada tanggal 7 maret. datanglah kawan, mari kita bernostalgia. ^_^
-------------------------------
"hai, apa kabar kamu, uh sudah lama sekali kita ngga ketemu ya. gilaa"
bising ucapan rindu terdengar di mana-mana. bisik tentang rasa asam manis dan asin pun munul di hari itu.
"ih gila ya, aku udah lama banget ngga nemu permen ini. enak banget nih. asem manis gimanaaa gitu."
pandangan nya menyebar ke seluruh penjuru. dia terus berusaha mencari sosok itu.
"ada asinnya soalnya"
"sebenernya ini asem lagi."
"ah, dimana dia?"
"siapa?"
"fitrah."
"hah fitrah, yampuunnn. fitrah anak kelas sebelah yang dulu suka sama lo ya?"
"ah, benarkah?"
"looh, iya dia kan sering banget cerita sama kita, dia tuh orangnya baik banget. gue masih inget aja waktu dia beliin kita-kita permen ini nih."
"bener, dia gitu kan supaya dia bisa nemenin lo nunggu dijemput sendiri."
"supaya kita cepet-cepet pulang duluan. padahal kita mau nemenin kamu."
"ah, tak mungkin."
"ini beneran lagi, say. tapi masa sih lo ga tau. fitrah kan udah ngga ada..."
"apa?"
"iya, waktu hari itu dia beliin permen buat gue. hari itu dia meninggal dunia karena tabrakan.."
--------------------------
mengapa tuhan?
di sudut sana anak-anak masih bergumul membicarakan rasa permen yang manis dan asem dan asin.
"hmm, aku suka banget nih permen, rasana maniiis banget.."
"ah, punyaku rasanya asem tapi seru banget tauk..."
"loh kok punyaku bisa asin ya rasanya? tapi aku suka, nanti bisa beruba manis kan?
di sudut sini anak-anak berbicara kepada dirinya sendiri.
"kapan aku bisa pulang? apakah aku akan bertemu ayah? mengapa tadi mama berpamitan padaku? apa nanti akan hujan?"
detik-detik terus berjalan, menit berlalu, matahari mulai menghilang, hujan tampaknya akan turun.
gelegar guntur semakin terdengar, kilat bergantian menyambar. apa kabar anak-anak itu?
tidak ada lagi yang suara-suara tentang manis, asam, dan asin. tidak ada lagi suara yang memenuhi sudut tempat itu.
anak itu sendiri. sepertinya dia sedang menunggu. dia berputar-putar di tempatnya. ah, sepi sekali. mengapa tiada yang menemani dia berbicara.
"kemana semua orang pergi? aku takut..."
tiba-tiba dia terhentikan oleh hangat genggaman tangan seseorang.
"ah, adik manis, kamu belum pulang?"
dia hanya mengggeleng.
"aku akan menemanimu sampai kamu dijemput."
"tenang saja. ada aku."
"kamu tidak sendiri."
terdengar bunyi terenyuh. hangat terasa di dalam dadanya. pijar -pijar kehangatan tampak di wajahnya.
akhirnya dia bisa tersenyum. dia menggenggam erat tangan lelaki kecil itu.
lalu tibalah saat gadis manis itu pergi, akhirnya ada yang menjemputnya, dia pun berlarian kecil menghampiri seseorang yang dia kenal.
genggaman itu terlepas begitu saja. membuat lelaki kecil itu terdiam. namun dia tersenyum melepas kepergian si gadis kecil itu.
------------------
bayangannya tidak lagi terlihat jelas di kepala. namun, sensasi yang dirasakan oleh panca indra masih terasa jelas di hati.
setiap kali teringat, dia tersenyum. setiap kali terbersit dia mengerut.
"ah,aku tak pernah sempat berterimakasih padanya. dimana dia?"
seiring berjalannya waktu, memori indah hampir terkubur dengan luka-luka baru,
seraya hari berlanjut, sistem pencarian manusia di dunia semakin menorehkan pengaruhnya.
dia pun mencari, mencari, mencari, dan mencari.
tidak pernah terkirim suatu petunjukpun kapan dia akan bisa menemukannya.
nama lelaki itu tidak pernah muncul. namanya belum dapat dicari. sampai detik ini.
"aku ingin bertemu dengannya"
---------------------------------
please forward this sms: akan diadakan reuni sekolah kita pada tanggal 7 maret. datanglah kawan, mari kita bernostalgia. ^_^
-------------------------------
"hai, apa kabar kamu, uh sudah lama sekali kita ngga ketemu ya. gilaa"
bising ucapan rindu terdengar di mana-mana. bisik tentang rasa asam manis dan asin pun munul di hari itu.
"ih gila ya, aku udah lama banget ngga nemu permen ini. enak banget nih. asem manis gimanaaa gitu."
pandangan nya menyebar ke seluruh penjuru. dia terus berusaha mencari sosok itu.
"ada asinnya soalnya"
"sebenernya ini asem lagi."
"ah, dimana dia?"
"siapa?"
"fitrah."
"hah fitrah, yampuunnn. fitrah anak kelas sebelah yang dulu suka sama lo ya?"
"ah, benarkah?"
"looh, iya dia kan sering banget cerita sama kita, dia tuh orangnya baik banget. gue masih inget aja waktu dia beliin kita-kita permen ini nih."
"bener, dia gitu kan supaya dia bisa nemenin lo nunggu dijemput sendiri."
"supaya kita cepet-cepet pulang duluan. padahal kita mau nemenin kamu."
"ah, tak mungkin."
"ini beneran lagi, say. tapi masa sih lo ga tau. fitrah kan udah ngga ada..."
"apa?"
"iya, waktu hari itu dia beliin permen buat gue. hari itu dia meninggal dunia karena tabrakan.."
--------------------------
mengapa tuhan?
20 October, 2007
Mantan teman
“Aduh book...Gimana nih, gue bingung, mantan pacar gue ngajak balik.
Gue mesti gimana ya? Aduh binguuung...!”
Mantan pacar. Wah, frase itu tiba-tiba terdengar lagi dan lagi-lagi membuatku tercenung. Tercengang dan merenung. Orang-orang yang mempunyai mantan pacar pasti mengerti,
aku tercengang karena masa lalu rushing back di benakku, datang tiba-tiba tanpa diinginkan. Aku merenung karena teringat apa yang pernah kualami bersama mereka.
Hhhh...
Biasanya, semua renungan itu akan berakhir dengan helaan nafas, helaan sesal. Hampir semua hubunganku dengan mantan pacarku berakhir buruk. Setelah putus hubungan, putus juga pertemanan kami. Sekali lagi hhh...
Tapi, ada satu orang yang berbeda. Sebenarnya sih dia tidak bisa dibilang mantan pacar. Karena apa yang kualami bersamamya dulu bukan suatu hubungan berstatus pacaran. Hubungannya tentu menyangkut perasaan dan cinta juga. Orang bule sana biasa menyebutnya dengan fling.
Yah, berarti dia bisa jugalah dibilang mantan. Mantan yang pernah memenuhi benak dan ruang hatiku meskipun sebentar. Mantan yang pernah membuatku senang sekaligus gunah gulana meskipun tidak lama. Bukan, sekali lagi bukan mantan pacarku.
Namanya Aldo. Sebut saja dia, mantan teman termesraku. Hubunganku dengannya adalah hubungan yang paling tidak berstatus, paling sebentar, paling membingungkan, tapi paling berkesan. Mengapa begitu? Karena aku tidak pernah menyangka aku akan menyukainya. Aku tidak pernah mengira aku akan mempunyai sejarah cinta bersamanya. Aku tidak pernah menerka aku akan jatuh dan mencinta.
Terlebih lagi, aku tidak pernah berharap aku akan jatuh dan mencinta di kala semua itu sudah berakhir. Ironis memang. Tapi hidup adalah sebuah ironi. Kita akan selalu terkejut dengan apa yang dapat terjadi dalam hidup kita. We’ll never know what we will get. Seperti yang kualami sekarang.
Perasaan yang kumiliki untuknya terasa mubazir. Aldo tidak tahu tentang perasaanku dan aku tidak yakin aku ingin dia mengetahuinya. Perasaan ini menyakiti hatiku. Lebih buruk lagi hubunganku dengannya tidak benar-benar putus. Dia masih menjadi temanku. Bukan lagi teman termesraku, dia sekarang hanya seorang teman baikku.
Lalu, apakah kau tahu kapan hatiku meringis kesakitan? Yah, hatiku menjerit kala aku menjalani hari-hariku sbagai temannya. Teman untuk berbagi cerita suka dan duka. Teman yang selalu mendukungnya. Teman yang selalu mendengarkan cerita hatinya, tetapi tidak pernah meperdengarkan perasaannya sendiri...
Akhir-akhir ini, jeritan hatiku menjadi lebih keras. Ini terjadi karena aku terlalu ingin menjaga pertemananku dengannya. Dan dia terlalu ingin melupakan apa yangpernah kami alami bersama.
“Tashaa...! Haai, gue udah nyariin lo kemana-mana. Gue pengen curhat banget niih...”
Aku juga. Aku ingin mencurahkan perasaan ini.
“Oh iya gue juga...Kemana aja sih lo? Sibuk nih mentang-mentang punya gebetan baru...?”
Kenapa kau melupakan aku? Kenapa kau melupakan kemesraan kita dulu?
“Hehehe, udah deh kita ngobrol yuk. Gue lagi bingung nih mesti gimana. Kania benar-benar bikin gue jatuh cinta setengah mati sekaligus kebingungan setengah hidup. I really don’t know what to do to get her love...Dia itu...bla..bla...bla...”
Aku tahu Aldo, aku tahu apa yang bisa kaulakukan untuk membuat seeorang tertarik padamu. Aku tahu bagaimana kau dapat membuat orang jatuh cinta. Itu hanya perlu proses yang sebentar, seperti dulu. Apakah kau ingat waktu itu Aldo?
---------------------
“Hmm Sha... i don’t know why, but i really care about you...kamu tau kan? Gue sayang deh sama lo...”
“Ah, gue engga tuh. Hehe...Engga deng, gue juga sayang sama lo...”
Hari-hari bersamanya dulu selalu indah. Meskipun status hubungan itu tidak jelas. Tapi , tanpa disadari atau tidak, kami menikmati kebersamaan kami tanpa hadirnya pria atau wanita yang lain. Kami menyukai keberadaaan satu sama lain. Mulai dari nonton bareng, jalan bareng, makan malam bareng,dan pokoknya hampir semua hal yang orang-orang berpacaran lakukan.
Di tengah-tengah kemesraan dan kedekatan kami, gundah gulana memang selalu hadir mengganggu hati dan pikiranku. Aku sempat bingung, hubungan itu mau dibawa kemana. Aku sempat tidak tahu apakah aku akan terus menunggu kepastian yang tidak jelas akan hubungan kami.
Sampai suatu saat di pojok nyaman Starbucks Coffee Parijs Van Java, Aldo menjelaskan ketidakjelasan hubungan kami.
“You know what Sha...I really love....going out with you and to have you around me. Tapi, lo pasti bakal sependapat sama gue. We don’t need the commitment, right? We are happy just the way we are now...”
“Hmm.. iya, we don’t need status-lah ya. I mean, what’s the use of it? Kalo kita bisa saling sayang itu udah cukup...”
Begitulah, di tengah nyamannya suasana kafe, diselingi tegukan-tegukan kopi yang menenangkan, kami menyamankan hubungan kami dengan hubungan tanpa status. Just a fling
.
“Duh, Tashaaa...Apa yang gue rasain ke Kania is more than just a fling. Tapi kok dia ngga yakin sama gue ya? Suara Aldo menyeruak dan menutup bayangan masa lalu.
Dia tidak yakin padamu? Ah, bagus sekali. Memang sudah seharusnya seperti itu.
“Yah, kok gitu sih? Udahlah, if you’re sure about how you feel terus tunjukkin aja dengan tulus.”
I love you...I love you
“I did, I have shown her how i feel. Tapi, tau ngga apa yang dia bilang? Yang bikin gue sedih...”
“Apa?” Ah, Gadis itu membuatmu sedih, lupakan saja dia.
“Dia bilang, you know i kinda always knew i will end up only to be your ex-girlfriend. Kamu cuma mau aku ada di daftar cewek yang udah kamu taklukin, kan? Padahal kan engga, Sha...Kan, ngga semua cewek gue gituin. Buktinya, you’re still my girlfriend.”
“Hah?”
“Iya, karena you’re a girl and you’re my friend. Jadi, you’re my girlfriend. Apart from our past, lo ternyata masih jadi girlfriend gue kan?
Masa lalu kita, dia ingat itu. Apakah dia ingat waktu dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan tanpa status itu dan kembali menjadi teman biasa? Aku akan selalu mengingatnya. Di pojok Kantin Fakultas Sastra yang nyaman meskipun ramai, dengan ditemani senja, aku menyadari perasaanku yang sebenarnya.
“Tasha...Gue bener-bener sayang sama lo. Gue ngga mau lo terluka. Gue ngga mau kehilangan elo...How bout if..mmm...kita akhiri hubungan tanpa status ini? Gimana kalau kita balikin statusnya jadi status pertemanan lagi?”
Deg. Otak dan hatiku beku. Aldo hanya ingin menjadi temanku saja. Aku merasa aneh. Aku sepertinya ingin menangis. Mengapa hatiku terasa sakit? Tuhan, aku benar-benar jatuh cinta kepadanya. Terlambat kusadari perasaan ini. Aku tidak mau menjadi hanya teman. Tetapi, apa yang kukatakan sangat mengkhianati perasaanku sendiri.
“Ooh...Ya udah. Emang lebih enak temenan lagi ya. Kalo pacaran kan bisa putus, kalo temen engga...” Hatiku menangis
“Bener Sha...! I love you my friend.”
“Yoi.” I love you. I love you.
I am his girlfriend. Bukan, bukan pacarnya. Aku hanya teman wanitanya. Aku hanya temannya.
“Ah, gue nyerah aja deh sama Kania. Gue kan selalu punya lo Tasha. Gimana kalo lo jadi pacar gue?”
Deg. Otak dan hatiku membeku. Lidahku kelu. Aku ingin bilang iya. Iya, iya, gue mau jadi pacar lo...! Bibirku tidak bisa bergerak.
“Ah, tapi engga ah. Gue ngga pernah mau jadi pacar lo.”
Pyaar. Hatiku hancur.
“Lo terlalu berharga. Gue ngga mau kehilangan lo, jadi gue ngga pernah mau pacaran sama lo karena nanti bisa putus, kalo temenan kan jalan terus...” Aldo mengusap kepalaku.
Hiks. Hatiku menangis.
Subscribe to:
Posts (Atom)