Sial, hujan. Gue memandang nggak berdaya ke arah sepatu suede gue, belum seminggu umur sepatu cantik ini, masa iya harus gue korbanin. Gue menengok ke kanan dan ke kiri, sesaat gue ngerasa kayak ayam yang mau nyebrang jalan. Cih, nggak ada siapa-siapa pula lagi.
Gue mulai menimbang-nimbang. Kalau gue nekat lari menembus hujan, either gue bakal keseleo karena hak sepatu cantik gue ini 10 cm, atau gue akan merusak sepatu yang menguras setengah gaji gue bulan lalu. The other option adalah menunggu hujan reda, but then i'll be late, dan menerima amukan dari 3 perempuan ganas yang akan dengan senang hati mencabik-cabik tubuh gue sampai ke sudut terdalam hati gue yang lembut, mengingat gue juga datang terlambat saat pertemuan terakhir bersama para wanita amazon itu. Hhhh, gimana, ya?
Ah! Gue tahu, gue akan menenteng sepatu merah gue, dan walking barefoot ke mobil. Mengingat hujan juga cuma tinggal gerimis, jadi gue nggak akan basah-basah amat. Besides, gue cukup pintar pagi ini karena nggak lupa menyambar trench coat Diane Von Furstenberg hadiah dari Tante Lelly yang senada sama sepatu merah gue. So. i'll be save and dry.
Hup, hup, 1,2,3. Damn, it's cold. Hup, hup, 4, 5, 6.
"If you would, i'd be happy to take your car, here"
Heh? Hmm, sebuah suara yang cukup empuk, apalagi saat dingin-dingin begini. Gue sempat berhenti, tapi terus gue sadar itu perbuatan bodoh, karena berdiri dibawah hujan, itu sama sekali nggak romantis. Sambil ngeliat sipemilik suara empuk tadi gue kembali berlari ke lobby kantor yang udah sepi. Well well well, he looks as delicious as his voice. Kenapa gue nggak pernah ngeliat dia sebelumnya, ya?
"Well, and why should i trust a complete stranger like you driving my car?"
Dia hanya mengangkat bahu, acuh.
"Apa saya terlihat seperti pencuri mobil?"
"How do i know, never met one before"
Dia tersenyum. Whoah, that lips! Kenapa tiba-tiba bibir gue jadi terasa kering, ya? Mungkin gue membutuhkan 'sesuatu' to keep them moist. Tiba-tiba dia mengulurkan tangannya. And, what i suppose to do with that?
"Damian"
Oh, handshake. Of course! What was i thinking.
"Carla"
"So, kamu parkir dimana?"
"Huh?"
"Kamu parkir dimana? Biar saya ambil mobil kamu?"
"Hah?"
"We aren't stranger anymore, so i can drive your car now, rite?"
"Well..."
"Come on, just hand me the key. We don't want to scratch those beautiful legs, do we?"
What? Beautiful legs? Hehehe, tau aja. Bukannya apa-apa. Gue tergila-gila sama sling back shoes, so i always pay more attention to my ankles. Gue mulai ragu, apa gue kasih aja kali, ya, kuncinya ke orang ini. Lagian tampangnya emang nggak kayak maling, sih. But hey, who knows?
" Here, kamu bisa simpan dompet dan ID saya."
Gue memandang dompet kulit dengan label Tod's itu. Hmm, boleh juga seleranya. Hujan juga masih belum reda, apalagi masih becek. Apalah daya, gue hanya seorang wanita.
"Nih, saya parkir di dekat ATM, VW Golf, warna merah" menyerah.
"My Little Red Lady" dan sambil menunduk dia pun berlari menembus hujan.
***
Haah?? Pesta Kebun?? Kenapa nggak ada yang bilang sama gue??
Gue berdiri pasrah sambil memandang sepatu merah gue lagi. Padahal hari ini gue udah ngerasa kece banget, pakai floral cocktail dress Nina Ricci yang senada sama sepatu gue. Tapi kenapa ternyata pesta ini malah pesta kebuun???? I can not wear these shoes here.
What do i do, what do i do...?
Gue lalu melihat ada sebuah gazebo putih, tanah disekelilingnya ditutupi konblok yang membentuk jalan setapak ke tengah-tengah taman tempat orang-orang berkumpul. Gazebo itu cantik sekali, ada mawar-mawar liar yang melingkari pilar-pilarnya. Hmm, i wonder, is it real? Untuk bisa mencapai gazebo itu gue memang masih harus menjejakkan sepatu cantik gue ke tanah berumput yang sepertinya masih basah ini, tapi mungkin kalau gue berjalan pelan-pelan sepatu gue masih bisa selamat.
" Trying to save your shoes again, Red Lady?"
Hey, I know that voice. Yup, si I-Know-Im-Gorgeous-So-What Damian sedang berdiri memandang gue dengan mimik muka geli. Di tangannya sudah bertengger gelas cocktail berisi cairan berwarna merah tua. Isnt it too early to drink bloody mary at this hour?
"Saya akan dengan senang hati menggendong tuan putri ke gazebo itu."
Hahaha, hati gue juga akan senang, but it's not gonna be that easy, my dear.
"Not in this life. Lagian saya nggak mau kamu sampai repot-repot meletakkan gelas kamu."
"From what i can see, saya nggak membutuhkan seluruh tangan saya untuk mengangkat kamu," ujar si raksasa sambil mengangkat alis.
"Thanks, but no thanks." Sial.
Gue pun mulai bersiap-siap menginjakkan sepatu gue ke tanah basah itu. 'Tuan Louboutin, tolong maafkan saya. Saya berjanji tak akan mengulanginya lagi.' doa saya dalam hati.
Langkah pertama.
Eww, gue bisa merasakan gimana hak runcing sepatu gue menghujam ke tanah. Mulai ada noda coklat di sol merah cantiknya. Hiks...
Oh, mungkin kalau gue berjalan jinjit hak sepatu gue nggak akan masuk ketanah, dan solnya juga nggak akan sekotor itu.
Dan gue pun mulai berjingkat-jingkat.
Hup, hup. Yak, sejauh ini usaha gue berjalan cukup lancar. Tapi kenapa kok kayaknya gazebo itu nggak keliatan makin dekat, ya? Dan ternyata berjalan jinjit dengan sepatu setinggi ini sangat tidak nyaman, belum lagi susah banget menjaga keseimbangan badan. Gue terus berjalan sambil mendekap tote bag gue erat-erat. Pengennya sih merentangkan tangan kayak mau terbang gitu, tapi takut terlalu mencolok, dan menarik perhatian, hhh...
Oow, ow...aww. Yah jatoh deh, jatoh deh...Gue mulai bisa merasakan badan gue oleng. Karena udah nggak bisa menjaga keseimbangan, gue hanya menunggu dengan pasrah sampai badan gue membentur tanah basah.
"I got you..!"
Tiba-tiba badan gue sudah berada dalam dekapan sang pangeran tampan. Gue pasti udah mati dan masuk surga. Well, jadi jangan salahin gue kalau gue sempat membeku untuk beberapa detik, apa menit, ya? He smells really nice...Dan badannya itu, lhoo...apa ya, kata yang tepat...kokoh?
" See, i told you. Akan lebih baik kalau tadi saya langsung gendong kamu."
" Saya bisa jalan sendiri kok." keras kepala.
" Ya, saya yakin kamu bisa."
Tiba-tiba seluruh badan gue terangkat dari tanah.
"What do you think you are doing?? Turunin nggak!! Turunin saya!"
" Nope. And i'm thinking, rite now im carrying a very beautiful yet stubborn lady."
Okay, that would shut me up for a while. Lagian nggak seburuk itu juga ternyata, digendong oleh seorang laki-laki tampan melintasi taman.
"Here we go..." katanya sambil menurunkan saya di lantai gazebo. Hmm, siapa sangka kalau jarak gazebonya sedekat ini.
"Gee, thanks..." walau lega karena sepatu gue berhasil diselamatkan, gue tetep aja nggak mau memberi makhluk sok kuat ini kepuasan.
"Anytime milady... Lagian saya yakin, Louboutin tidak menciptakan sepatu itu untuk kamu pakai di tanah seperti ini."
"Are you gay, or something?"
"What?!"
"Hanya cowok-cowok gay yang bisa mengenali merek sepatu tertentu."
"Hahahaha, apa kamu pikir seorang laki-laki gay akan bersusah payah menggendong kamu seperti tadi?"
"Well, gay are women bestfriend, lagian saya nggak tau kalau ternyata kamu kepayahan."
"I would like to kiss that wicked mouth"
"..." damn!
Si Mr.I-know-Im-gorgeous-so-what itu sekarang hanya menatap dalam-dalam mata gue sambil tersenyum geli. Dia pun lalu meminum isi gelasnya. Wait! Gimana caranya dia masih megang gelas itu sehabis menggendong gue??
"Kenapa? Kan saya udah bilang tadi, saya nggak membutuhkan seluruh tangan saya untuk menggendong kamu."
"Gi..gimana caranya?"
"It's not for you to know, my dear..." tersenyum lebar.
"Cih." cemberut.
"Hahaha, emang umur kamu berapa sih? Suddenly you look like 13 to me."
"It's none of yourbusiness!" gue bisa ngerasain panas menjalari pipi gue. Makhluk tampan sialan! "Bukannya masih terlalu pagi, ya, untuk minum sesuatu yang beralkohol?!" gue bertanya sengit.
Dia hanya menatap gue dalam, dengan senyum geli yang lagi-lagi tersungging di bibirnya. "Cobain, deh," Damian menyodorkan gelas itu ke gue. "Ayo cobain, saya nggak beracun, kok."katanya lagi ketika ngeliat gue yang ragu-ragu.
Setengah nggak yakin akhirnya gue ambil juga gelas itu, dan menyisip cairan di dalamnya. Manis, dan...well, agak-agak asam. Sirup beraroma mawar. Damn! Gue yakin muka gue pasti semerah kepiting rebus saat ini. Sial sial sial!! Kenapa dia nggak bilang langsung aja, sih?? Penting, ya, bikin gue malu dulu. "Sorry..." gue berkata pelan, sambil berusaha menyelamatkan harga diri yang tersisa.
"Hahaha, that's okay. It's a very beautiful view to see a lady blushing,"
"Gee, thanks..."
"Ada rencana weekend ini?" tanyanya tiba-tiba.
"It depends, why d'u ask?"
"Have dinner with me this saturday," Agak susah menjawab suatu pertanyaan kalau lo ditatap seserius itu. Tapi gue adalah seorang perempuan mandiri, tegar, beriman (hmm, kok jadi kayak slogan kota, ya?), dan nggak akan luluh begitu saja.
"I'll let you know..." gue menjawab sombong dan bersiap pergi. Damian menarik tangan gue dan menggenggamnya erat, "When?" tanyanya.
"After noon. On saturday," dan gue pun berlalu, dengan senyum kemenangan.***
29 November, 2007
21 November, 2007
Trieste
"Berangkat dulu, Ma!" teriakku melalui pintu yang sedang kututup daunnya. Sudah kelewat terlambat untuk menunggu ibuku membalas pamitku, aku sudah ditunggu.
"Buon giorno, Giacomo," signor Franco menyapaku di tengah-tengah kegiatan pagi harinya: menyapu bagian depan deli kecil miliknya.
"Buon giorno, Signor," kubalas sapaannya, "como stai?"
"Migliore. Berkat obat yang kamu belikan kemarin," tawanya sambil menepuk bahuku, "va bene. Kamu siap untuk hari ini?"
"Si, Signor. Saya siap. Hari ini ke mana?"
"Hari ini hanya ada 1 kiriman. tapi agak berat. Dia baru datang kemarin. Kamu tahu Albarada? Via Valdirivo?
"Eh?" aku menggaruk-garuk kepalaku bingung, "D'ove la via?
"Mi Dio. Pokoknya kamu jalan saja ke arah Trieste Centrale, lurus lagi. Nanti kamu tanyakan saja lagi letak hotelnya ke orang. Oke? Sekarang kamu ambil barang-barangnya di dalam, lalu antarkan langsung."
"Oke, Signor. A presto!"
Beginilah kerjaku sehari-hari. Mengantarkan belanjaan ke rumah-rumah orang. Sebenarnya tak ada keharusan untukku melakukannya. Aku ini baru saja memulai semester ketiga kuliah. Tapi ibuku tak bisa menghidupi kami sendirian. Ayahku sudah berhenti absen ke rumah sepulang kantor sejak 5 tahun yang lalu. Tiba-tiba saja dia menghilang. Entahlah. Mungkin dia pulang ke negara asalnya.
"Signor! Scusi," aku menghampiri seorang penjaga kios koran di depan stasiun, "Dov'e la Via Valdirivo?"
"E li," jawabnya sambil menunjuk sebuah jalan tak jauh dari tempat kami berdiri.
Setelah mengucapkan terima kasih, kuayun lagi langkahku menuju arah yang ditunjukkan bapak tadi. Hotel Albarada yang dimaksud Signor Franco ternyata tak susah dicari. Namanya terpampang besar di sebuah bangunan tua. Tapi letaknya yang ternyata di lantai ketiga membuatku terengah-engah. Signor Franco seharusnya memperingatkanku sebelum aku berangkat membawa kardus berisi belanjaan ini.
"Un minuto, per favore!" Terdengar suara dari balik pintu yang belnya baru saja kutekan. Suara wanita. Dan benar, ketika akhirnya pintu terbuka, ada seorang wanita cantik yang berdiri di sana. Ups, ralat. Maksudku seorang gadis cantik yang berdiri di sana. Sepertinya dia seumuran denganku.
"Ciao," ujarku. "Vengo trasportare questo," sambungku lagi. Wajahnya terlihat bingung, jadi kuangkat sedikit kardus yang kubawa agar ia melihatnya.
"Ah. Si, si. Entrato, signor," ujarnya mempersilahkanku masuk dengan kalimat yang terputus-putus. Dia terlihat canggung dengan adanya diriku di kamarnya. Aku maklum saja. Dia pasti datang dari jauh. Wajahnya melayu, kulitnya kurang lebih sama seperti ayahku.
"Mi chiamo Giacomo," ujarku memperkenalkan diri setelah meletakkan kardus Signor Franco di meja. "E tu?"
"Sono Tia," jawabnya sambil membalas jabatan tanganku. "Scusi, Signor. Io, non parlo l'italiano tanto bene quanto l'inglese. Parla inglese?"
Ah ternyata dia belum bisa berbahasa Itali terlalu baik. Untung saja aku belum menyambarnya dengan sederetan kalimat italia.
"Yes, I can speak English. But not so much. I live here since little."
"I'm so sorry to trouble you, then."
"No, it's okay. Pardon my italian accent."
"You have a very nice Italian accent," dia tersenyum padaku. Manis sekali.
"Grazie. Thank you."
"How much do I owe you?" Dia meraih dompetnya.
"Ah! Nothing. You pay to Signor Franco. Not me."
"I'm sorry I can't offer you anything. As you see, i haven't unpack yet and my groceries had just arrived."
"It is fine. Very well, i have to be going."
"So soon? What a shame. Maybe I'll see you around."
"Yes, that will be good. Goodbye. Good day to you."
"Grazie!"
"Non c'e di che,"ujarku sambil tersenyum sampai dia menutup pintu kamarnya kembali.
Beranjak dari hotel itu, aku seperti orang gila. Tersenyum-senyum sendirian. Bersenandung ke lagu entah lagu apa. Menendang-nendang kerikil-kerikil yang muncul di jalan. Jatuh cinta.
"Signor!" akhirnya aku sampai di deli Signor Franco. Kutepuk bahunya pelan dan dia membalikkan badannya ke arahku.
"Giacomo! Kau sudah kembali? Barangnya sudah kau antar?"
"Sudah. Hotelnya mudah dicari. Ada lagi pekerjaan untukku, Signor?"
"Tidak. Kau boleh pulang. Grazie mille."
"Piacere, Signor," kutepuk-tepuk lagi bahunya sebelum aku berjalan pulang sambil memasukkan kedua tanganku ke dalam kantong dan mulai bersiul-siul. Begitu selesai aku menyeberang jalan, terdengar suara Signor Franco memanggilku.
"James!" itu nama yang ia gunakan untuk memanggilku kalau dia akan berbicara dengan bahasa Inggris. Aku pun menengok ke arahnya.
"Yes?"
"What do you think, eh?" Teriaknya dari seberang jalan sambil tertawa.
Aku hanya tertawa, menunjuk-nunjuk dirinya karena aku yakin ini sesuatu yang ia atur sebelumnya, "e bella, Signor. Bellissima!" Sambil masih tertawa, aku berbalik badan dan berjalan pulang.
"Buon giorno, Signor Franco. Hari ini ada kiriman ke mana?"
"Buon giorno, James. To the Albarada Hotel, pronto."
"Lagi?"
"Si. Dia datang kemarin ke sini, menanyakanmu."
"Jangan bercanda, Signor. Anda pasti berbohong."
"James, my dear boy. Why would I? Sudah, tolong cepat kau antar barangnya."
"Ada lagi selain itu?"
"Tidak. Akan kusuruh Ferro untuk mengurusnya."
Signor Franco dan permainan mak comblangnya. Aku sudah sering mengalaminya, tapi belum pernah sampai seperti ini. Maksudku, dari semua gadis yang dikenalkannya padaku, belum pernah ada yang meninggalkan bekas hingga membuatku tersenyum-senyum sendirian.
Tia, namanya. Aku suka nama itu. Ah, kuharap apa yang dikatakan Signor Franco tadi benar. Bahwa Tia datang ke deli dan menanyakan tentang diriku. Kuharap juga bahwa ia sengaja meminta barang-barangnya diantar lagi untuk dapat bertemu denganku.
"Non momento," kata suara dari dalam. Suara Tia. Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum ia membuka pintu kamar ini. "Ciao, Giacomo! Come in. Thank you for bringing my groceries. They must be heavy."
"It's no problem. It's not as heavy as that one yesterday," kutunjuk kardus yang masih terpampang di meja.
Tia menawarkanku minum, dan tak kusia-siakan tawarannya. Aku sudah mendapat lampu hijau dari Signor Franco untuk berlama-lama di sini. Dari ceritanya, aku mengetahui bahwa Tia datang ke sini untuk kuliah. Dan selama belum mendapat apartemen, dia akan tinggal di hotel ini. Aku tak begitu mendengarkan apa yang ia ceritakan setelah cerita barusan. Susah untuk mendengarkan omongannya. Aku tak begitu pandai berbicara bahasa Inggris.
"What's wrong?"
"Nothing. I'm sorry. I'm not so good in English."
"No, no. I'm sorry. Was I too fast?"
"It's alright. If i ask you questions, do you mind? That way I can understand you better."
"No, not at all. Go ahead."
"Di dov'e lei, Tia? Where are you from?"
"Where I come from? Indonesia."
Indonesia?!
"Yaaaaahh. Aku juga!" aku menimpalinya dengan bahasa Indonesia.
"Kamu juga!? Bohong! Nama kamu...?"
"Yah, bukan DARI Indonesia sih. Ayahku Indonesia. Ibu dari sini. Keluarga ibuku lebih mendominasi kehidupan kami, makanya namaku nama Itali.”
“Giacomo.”
“Betul. Versi Inggrisnya ‘James’ kalau kamu mau lebih gampang.”
“James. Boleh?”
“Boleh. Signor Franco juga suka memanggilku dengan nama itu.”
“Oke… James,” dia tersenyum lagi.
PS. ini masih to be continued tapi kok udah panjang ya prasaan *hahaha, bilang aja males nerusin*
"Buon giorno, Giacomo," signor Franco menyapaku di tengah-tengah kegiatan pagi harinya: menyapu bagian depan deli kecil miliknya.
"Buon giorno, Signor," kubalas sapaannya, "como stai?"
"Migliore. Berkat obat yang kamu belikan kemarin," tawanya sambil menepuk bahuku, "va bene. Kamu siap untuk hari ini?"
"Si, Signor. Saya siap. Hari ini ke mana?"
"Hari ini hanya ada 1 kiriman. tapi agak berat. Dia baru datang kemarin. Kamu tahu Albarada? Via Valdirivo?
"Eh?" aku menggaruk-garuk kepalaku bingung, "D'ove la via?
"Mi Dio. Pokoknya kamu jalan saja ke arah Trieste Centrale, lurus lagi. Nanti kamu tanyakan saja lagi letak hotelnya ke orang. Oke? Sekarang kamu ambil barang-barangnya di dalam, lalu antarkan langsung."
"Oke, Signor. A presto!"
Beginilah kerjaku sehari-hari. Mengantarkan belanjaan ke rumah-rumah orang. Sebenarnya tak ada keharusan untukku melakukannya. Aku ini baru saja memulai semester ketiga kuliah. Tapi ibuku tak bisa menghidupi kami sendirian. Ayahku sudah berhenti absen ke rumah sepulang kantor sejak 5 tahun yang lalu. Tiba-tiba saja dia menghilang. Entahlah. Mungkin dia pulang ke negara asalnya.
"Signor! Scusi," aku menghampiri seorang penjaga kios koran di depan stasiun, "Dov'e la Via Valdirivo?"
"E li," jawabnya sambil menunjuk sebuah jalan tak jauh dari tempat kami berdiri.
Setelah mengucapkan terima kasih, kuayun lagi langkahku menuju arah yang ditunjukkan bapak tadi. Hotel Albarada yang dimaksud Signor Franco ternyata tak susah dicari. Namanya terpampang besar di sebuah bangunan tua. Tapi letaknya yang ternyata di lantai ketiga membuatku terengah-engah. Signor Franco seharusnya memperingatkanku sebelum aku berangkat membawa kardus berisi belanjaan ini.
"Un minuto, per favore!" Terdengar suara dari balik pintu yang belnya baru saja kutekan. Suara wanita. Dan benar, ketika akhirnya pintu terbuka, ada seorang wanita cantik yang berdiri di sana. Ups, ralat. Maksudku seorang gadis cantik yang berdiri di sana. Sepertinya dia seumuran denganku.
"Ciao," ujarku. "Vengo trasportare questo," sambungku lagi. Wajahnya terlihat bingung, jadi kuangkat sedikit kardus yang kubawa agar ia melihatnya.
"Ah. Si, si. Entrato, signor," ujarnya mempersilahkanku masuk dengan kalimat yang terputus-putus. Dia terlihat canggung dengan adanya diriku di kamarnya. Aku maklum saja. Dia pasti datang dari jauh. Wajahnya melayu, kulitnya kurang lebih sama seperti ayahku.
"Mi chiamo Giacomo," ujarku memperkenalkan diri setelah meletakkan kardus Signor Franco di meja. "E tu?"
"Sono Tia," jawabnya sambil membalas jabatan tanganku. "Scusi, Signor. Io, non parlo l'italiano tanto bene quanto l'inglese. Parla inglese?"
Ah ternyata dia belum bisa berbahasa Itali terlalu baik. Untung saja aku belum menyambarnya dengan sederetan kalimat italia.
"Yes, I can speak English. But not so much. I live here since little."
"I'm so sorry to trouble you, then."
"No, it's okay. Pardon my italian accent."
"You have a very nice Italian accent," dia tersenyum padaku. Manis sekali.
"Grazie. Thank you."
"How much do I owe you?" Dia meraih dompetnya.
"Ah! Nothing. You pay to Signor Franco. Not me."
"I'm sorry I can't offer you anything. As you see, i haven't unpack yet and my groceries had just arrived."
"It is fine. Very well, i have to be going."
"So soon? What a shame. Maybe I'll see you around."
"Yes, that will be good. Goodbye. Good day to you."
"Grazie!"
"Non c'e di che,"ujarku sambil tersenyum sampai dia menutup pintu kamarnya kembali.
Beranjak dari hotel itu, aku seperti orang gila. Tersenyum-senyum sendirian. Bersenandung ke lagu entah lagu apa. Menendang-nendang kerikil-kerikil yang muncul di jalan. Jatuh cinta.
"Signor!" akhirnya aku sampai di deli Signor Franco. Kutepuk bahunya pelan dan dia membalikkan badannya ke arahku.
"Giacomo! Kau sudah kembali? Barangnya sudah kau antar?"
"Sudah. Hotelnya mudah dicari. Ada lagi pekerjaan untukku, Signor?"
"Tidak. Kau boleh pulang. Grazie mille."
"Piacere, Signor," kutepuk-tepuk lagi bahunya sebelum aku berjalan pulang sambil memasukkan kedua tanganku ke dalam kantong dan mulai bersiul-siul. Begitu selesai aku menyeberang jalan, terdengar suara Signor Franco memanggilku.
"James!" itu nama yang ia gunakan untuk memanggilku kalau dia akan berbicara dengan bahasa Inggris. Aku pun menengok ke arahnya.
"Yes?"
"What do you think, eh?" Teriaknya dari seberang jalan sambil tertawa.
Aku hanya tertawa, menunjuk-nunjuk dirinya karena aku yakin ini sesuatu yang ia atur sebelumnya, "e bella, Signor. Bellissima!" Sambil masih tertawa, aku berbalik badan dan berjalan pulang.
oOoOo
"Buon giorno, Signor Franco. Hari ini ada kiriman ke mana?"
"Buon giorno, James. To the Albarada Hotel, pronto."
"Lagi?"
"Si. Dia datang kemarin ke sini, menanyakanmu."
"Jangan bercanda, Signor. Anda pasti berbohong."
"James, my dear boy. Why would I? Sudah, tolong cepat kau antar barangnya."
"Ada lagi selain itu?"
"Tidak. Akan kusuruh Ferro untuk mengurusnya."
Signor Franco dan permainan mak comblangnya. Aku sudah sering mengalaminya, tapi belum pernah sampai seperti ini. Maksudku, dari semua gadis yang dikenalkannya padaku, belum pernah ada yang meninggalkan bekas hingga membuatku tersenyum-senyum sendirian.
Tia, namanya. Aku suka nama itu. Ah, kuharap apa yang dikatakan Signor Franco tadi benar. Bahwa Tia datang ke deli dan menanyakan tentang diriku. Kuharap juga bahwa ia sengaja meminta barang-barangnya diantar lagi untuk dapat bertemu denganku.
"Non momento," kata suara dari dalam. Suara Tia. Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum ia membuka pintu kamar ini. "Ciao, Giacomo! Come in. Thank you for bringing my groceries. They must be heavy."
"It's no problem. It's not as heavy as that one yesterday," kutunjuk kardus yang masih terpampang di meja.
Tia menawarkanku minum, dan tak kusia-siakan tawarannya. Aku sudah mendapat lampu hijau dari Signor Franco untuk berlama-lama di sini. Dari ceritanya, aku mengetahui bahwa Tia datang ke sini untuk kuliah. Dan selama belum mendapat apartemen, dia akan tinggal di hotel ini. Aku tak begitu mendengarkan apa yang ia ceritakan setelah cerita barusan. Susah untuk mendengarkan omongannya. Aku tak begitu pandai berbicara bahasa Inggris.
"What's wrong?"
"Nothing. I'm sorry. I'm not so good in English."
"No, no. I'm sorry. Was I too fast?"
"It's alright. If i ask you questions, do you mind? That way I can understand you better."
"No, not at all. Go ahead."
"Di dov'e lei, Tia? Where are you from?"
"Where I come from? Indonesia."
Indonesia?!
"Yaaaaahh. Aku juga!" aku menimpalinya dengan bahasa Indonesia.
"Kamu juga!? Bohong! Nama kamu...?"
"Yah, bukan DARI Indonesia sih. Ayahku Indonesia. Ibu dari sini. Keluarga ibuku lebih mendominasi kehidupan kami, makanya namaku nama Itali.”
“Giacomo.”
“Betul. Versi Inggrisnya ‘James’ kalau kamu mau lebih gampang.”
“James. Boleh?”
“Boleh. Signor Franco juga suka memanggilku dengan nama itu.”
“Oke… James,” dia tersenyum lagi.
~ tu bi kontinyud.
PS. ini masih to be continued tapi kok udah panjang ya prasaan *hahaha, bilang aja males nerusin*
19 November, 2007
Menggapai Langit
"Just be careful, okay..." ujar Rama sambil menepuk pelan kepalaku. "I know, you have a soft spot for bad boys, but i think, this one is beyond it," dia melanjutkan lagi. Matanya tampak khawatir. Ah, Rama...Rama, betapa gue sayang sama lo.
"Geez, just relax... Gue bisa jaga diri kaleee...lagian kenapa mesti se-khawatir itu sih, Ram? Toh, you'll always be there to catch me when i fall, kan?" aku berusaha mencairkan ketegangan yang sepertinya dari tadi meliputi mimik wajah kakakku satu ini. Lagipula, itu memang betul kok. Saat senang dan susah Rama selalu ada disana, aku selalu tau bahwa aku bisa selalu menghambur ke pelukannya setiap kali ada sesuatu yang berjalan salah.
"Iya, tapi kalau bisa nggak jatuh, bakal lebih baik, kan?" Yeah yeah...Rama the Philosopher. Tapi saat ini, aku sedang jatuh cinta setengah mati, bahkan kakakku yang kucintai sepenuh hati ini pun tak akan bisa merubahnya.
Sumber pembicaraan kami kali ini adalah seorang lelaki, bernama Langit. Hmm, even his name sounds so sexy, according to me, yaaa. Seperti namanya yang ada jauh tinggi, di atas sana, begitu pula posisinya dalam strata sosial hidupku. Bertahun-tahun aku hanya mampu memandangnya dari jauh, berharap bisa menjadi salah satu bintang yang bisa menempel padanya setiap malam. Tapi entahlah...sebelumnya keberadaan ku tak lebih bagai air yang tenang, yang akan selalu dengan setia memantulkan keindahannya, tanpa pernah mempunyai kesempatan untuk menyentuh. Namun sekarang, mungkin aku sudah berubah menjadi setitik bintang di langit malam.
"Hey! Jangan ngelamun kali. Dengerin donk, kalau orangtua lagi ngomong!" Wooo, blagu banget si Rama. Jelas-jelas aku sama dia cuma beda 1 tahun 5 bulan.
"Yeah, yeah...siapa yang bengong sih, kaak... Iya iya, gue pasti jaga diri kok. Emang lo pikir gue bego apa?!"
"Lo tu emang nggak bego, tapi walau gimanapun asiknya lo, lo tu tetep cewek!" Eits, mulai sexist nih si Rama.
"Trus kenapa kalau gue cewek?? Kalau gue cowok gue nggak bakal naksir Langit, kaleee... Doh!" aku berseru sengit. Emang paling sensi kalau obrolan sudah mulai bawa-bawa jenis kelamin.
"Bukan gitu,non, tapi kaum lo itu terkenal karena tindakan-tindakan bodoh mereka kalau lagi jatuh cinta! Apalagi, cowok macam si Langit itu, tipe yang bakal diperingatin sama semua orang tua ke anak-anak gadis mereka. Yang pada akhirnya justru malah bikin anak-anaknya makin tertarik. Kayak lo gini, nih, sekarang"
"Then, why don't you just stop warning me? Dengan begitu, siapa tau aja gue jadi nggak begitu tertarik lagi sama dia..." balasku sambil menggoyang-goyangkan alis. Ini adalah gerakan yang sangat dibenci Rama. Kenapa? Karena tentu saja dia tidak bisa melakukannya, hahahaha.
"Ya, sesukamulah, lil' sist... Just don't come running to me when he break yourheart." AKu cuma mangut-mangut, karena tau kalau hal itu benar-benar terjadi, Rama lah orang pertama yang akan berlari dan menyediakan bahunya untukku. The only person that I can always take for granted.
***
Hujan. AKu suka hujan, hujan menutupi hal-hal buruk. Itu menurutku.
Aku sedang menunggu Langit, dia berjanji akan menemuiku di tempat ini. Sudah hampir satu jam aku duduk di sini. Disebuah kafe kecil yang juga menyewakan buku. Ide yang cerdas, mengingat tempat-tempat seperti ini biasanya dijadikan tempat pertemuan, dan akan diisi oleh orang-orang yang menunggu dengan bosan. Buku akan menjadi hiburan yang menyenangkan.
Rinai hujan membasahi dinding kaca kafe itu. Cuaca yang mendung, belum lagi waktu yang sudah hampir malam membuatku agak sulit melihat pemandangan di luar. Aku memainkan kotak bekal di hadapanku. Sekotak lasagna khusus untuk Langit. Aku ingat suatu waktu dulu, dia pernah melahap habis bekalku dalam sekejap mata. Sekotak lasagna buatan Mama waktu itu. Hhh, aku merindukannya.
Dua jam sudah berlalu, kafe semakin penuh. Setiap sudutnya diisi oleh orang-orang yang baru menyudahi kegiatan mereka hari itu. Mulai dari para pegawai kantoran, mahasiswa, pelajar sekolah, dan sekelompok orang, dilihat dari pakaian mereka yang eksentrik, adalah segerombolan seniman. Langit masih belum datang.
Entah kenapa, aku tidak keberatan berada disini, sendiri. Menanti datangnya seseorang, yang kehadirannya selalu meninggalkan bias sinar untukku bertahan. Sekarang, setelah akhirnya aku berhasil menggapainya, semua hal tak ada yang terlalu berat. Aku bisa dengan sukarela menghabiskan malamku hanya duduk diam disini, membaca buku-buku yang tak kumengerti, meminum bercangkir-cangkir kopi, hanya untuk mendapatkan sekelebat bayangannya. Dan aku rela melakukannya berulang-ulang kali. Obsesi.
Bunyi kecipak air dari luar membuyarkan lamunanku. Di balik kaca, kulihat Langit sedang berlari berpayungkan gulungan koran. Terlalu tak peduli untuk melindungi diri. Dengan setengah terengah dan sedikit basah, dia menghampiriku.
"You are still here..."
"Of course, where else did you think I'm gonna be?"
"Let say... Anywhere but here?" ujarnya sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah. Tersenyum tipis. "Aku seneng kamu masih disini," Langit menggapai tanganku, menggenggamnya.
"Aku juga," jawabku, tersenyum lega. Then he kissed my hand.
***
AKu membuka pintu. Dihadapanku berdiri Langit, tinggi menjulang, bercucuran darah. Bukan hal baru. AKu menariknya masuk. Mendudukkannya di sofa, dan berjalan ke dapur mencari es batu, dan lap piring yang bersih. Aku sudah kehabisan handuk tanpa bekas noda darah. Lalu kembali ke ruang duduk.
Langit duduk diam disofa, kedua tangannya menyangga kepala. Dia mendongak ketika mendengar langkahku.
"I'm sorry..."
"That's okay. Hold this," kataku sambil menyodorkan plastik berisi es batu. Aku mulai membersihkan wajahnya. Siapa yang menyangka kalau ternyata darah itu bukan darahnya. Muka Langit hanya dipenuhi memar dan lebam, tanpa luka. Dengan hati-hati aku membuka kemejanya yang sudah robek dibeberapa bagian. Perut dan dadanya lagi-lagi dipenuhi memar, baru dan lama. Tiba-tiba dia menahan tanganku yang sedang membersihkan wajahnya, dan mengecupnya lembut.
"What would I do without you?" dia bertanya sambil terpaku menatapku.
"You'll be some unknown dead body on the street?" jawabku sambil membebaskan tangan dan kembali membersihkan darah kering yang menempel di kulitnya.
"Hahaha, ya, mungkin kamu benar," dia menyandarkan badannya ke punggung sofa, dan meluruskan kaki.
"Tentu aja aku benar, mana mungkin bisa salah. You are lucky you are still alive this time," lanjutku.
"Apa kamu nggak mau tau? Apa yang terjadi, siapa yang salah, gimana awalnya, gimana akhirnya... anything, everything?"
"No, I don't. Apapun yang terjadi, nggak bakal ada bedanya buatku." jawabku. "You are still my hero," aku mengedipkan mata untuk mengecilkan makna ucapanku barusan.
Dia mengambil lap piring yang sekarang berwarna coklat itu, meletakkannya di meja, dan menarik tubuhku. My head on his shoulder, the greatest place in the world, in my world. "Don't go anywhere," bisiknya di telingaku.
"Never"
***
"Lagi ngapain lo?" Rama menjulurkan lehernya di pintu kamarku.
"Trying to sleep, sebelum lo tau-tau datang, dan mengganggu," jawabku gusar. Langit baru pulang tadi pagi. Bergegas kembali ke dunianya.
"Jam segini?? Come on, sist! Get your lazy ass up, and go play outside!" ujarnya sambil melemparkan badan ke atas kasurku.
"What are you? five??" aku menarik selimut menutupi muka. Tidak mengacuhkan Rama yang mulai menggoyang-goyangkan tubuhku. "Stop it!! Some people do need to sleep, you know!" Aku mendorong tubuhnya dari kasur. Eegh, dia sangat berat.
"Tumpukan apa tuh, yang ada di kamar mandi lo?" Rama bertanya tiba-tiba.
"Ngh??" tak begitu sadar aku menanggapi ucapannya."Tumpukan apa?"
"Itu, yang ada di kamar mandi lo, warnanya coklat." Shit! Aku lupa langsung membuangnya ke tempat sampah, tapi aku memang tidak tau Rama akan datang hari ini.
"Oh, itu. Tau gue lupa, abis dipake buat ngelap lantai kayaknya," jawabku tak acuh, tapi sudah sepenuhnya sadar sekarang. Rama sukses mengusir kantukku.
"Do you think I'm stupid??"
"Well, yeaah, sometimes..."
"Stop it, sist! It's him, rite? Dateng berlumuran darah, setelah bikin ulah entah dimana, mengharapkan lo untuk mengurusnya, atau sekalian menghangatkan malamny...
"Enough! That's rude!! GUe sama sekali nggak bisa mentolerir omongan lo!!!" aku duduk, merasa over expose dalam keadaan berbaring. "Apapun yang gue lakuin sama dia, it's none of your business!! Apapun yang ingin gue perbuat untuk dia, sama sekali bukan hak lo untuk nyampurin hal itu!!!" Rama terkejut, dan dia pun terdiam. Hanya menatapku dengan pandangan bingung, aku bukan orang yang sering menunjukkan kemarahanku, bahkan pada kakak kandungku sendiri.
"Look what he turns you into... Are you really happy? Does he make you happy? Seperti yang lo lakuin untuk dia, kayak semua hal yang lo perbuat untuk dia?" Rama bertanya pelan, ekspresi terguncang masih tampak diwajahnya. Rama, what should I do to make you understand...?
"What do you think?? Of course not! Setiap malam, gue berdoa semoga dia datang dalam keadaan masih hidup. Setiap dia pulang, gue berharap itu bukan untuk yang terakhir kalinya dia datang. Setiap detik dalam hari gue, selalu gue pakai untuk berdoa semoga semua ini bisa berlangsung lama. Semoga dia bukan sesuatu yang cuma gue pinjem, bukan sesuatu yang bisa hilang... Bahwa entah bagaimana, suatu hari nanti dia akan bisa gue gapai, dan dia akan tersadar, dan tau, waktu untuk berhenti akhirnya datang. Lalu dia pulang, pulang, ke gue!! Apa lo ngerti semua itu, Ram!!! Apa lo tau, jadi apa gue sekarang dibuat sama dia??!!!" aku bisa merasakan air mata membasahi mukaku, semua sedu sedan, isak tangis, sekarang terasa bagai bendungan yang bobol.
Rama langsung menarikku, mendekap tubuhku erat, dan menggerakkan badannya, seakan ingin menghanyutkanku dalam ayunannya. AKu masih terus terisak, dan tak tau bagaimana caranya untuk berhenti.
"I'm sorry sist, I'm so sorry..." dia mengatakannya berulang-ulang, bagaikan sebuah dzikir panjang tanpa makna.
"I love him, Ram, I really really love him...what is so wrong with that?" ujarku, di sela-sela isakan yang tak mau berhenti.
"Nothing, there's nothing wrong..." Rama tetap mengayun badanku pelan. "Let just hope, nobody would see it as a mistake either..."
***
"Apa kamu tau kamu seperti apa?" Tanya Langit siang itu. Kami sedang berbaring di atas tikar piknik ditaman kota. Di sekeliling kami banyak anak kecil berlarian, bunyi air mancur bergemiricik pelan, dan burung-burung kecil berlarian disekitar remah-remah roti yang dilemparkan. Kepalaku berbantalkan lengan.
AKu meletakkan buku yang tengah kubaca dan menghadapnya, "No, I don't. Seperti apa menurut kamu?" Menikmati pemandangan mengamati wajahnya dari sisi ini.
"Apa kamu tau apa arti nama kamu? Iris?"
"Yaa, some goddess of rainbow, or something like that. Kenapa?"
"Buat aku kamu memang seperti itu. Seperti dewi pelangi yang terbang hilir mudik, meninggalkan jejak cahaya. Jejak kamu akan membawa kebahagiaan bagi siapapun yang cukup beruntung melihatnya," Langit kini menatapku.
"Berarti seharusnya kamu bersukur, karena dewi ini, mau meninggalkan jejaknya untuk selalu kamu lihat," kelakarku sambil menyingkirkan rambut yang jatuh menutupi matanya.
"I am...I think I never thank God enough for it. Kamu tau Iris, aku rasa, aku akan berhenti..." AKhirnya...saat yang kukira tak akan pernah datang. Aku hanya tersenyum menatapnya. "AKu akan berhenti Iris, aku akan berhenti membiarkan orang-orang itu membayarku mengerjakan pekerjaan kotor mereka. Kita akan pergi, ketempat yang tak bisa ditemukan mereka, kita akan pergi, dan tak pernah kembali. Kamu mau pergi, Iris?"
Aku bangkit, dan duduk. Menatapnya, mencoba mencari kesungguhan di matanya. Dan semua yang kucari, memang ada disana. "Anywhere. I'll go anywhere with you," jawabku. Dia pun bangkit, setelah memelukku erat, dia membantuku berdiri.
"Let's go... Let find some place to..." apapun yang ingin dikatakannya terhenti. Dalam adegan lambat aku melihat sesuatu yang berkilauan menghujam dadanya. Suara desingan peluru terasa memekakkan telinga. Teriakan, jeritan, makian bergabung menjadi suatu satuan yang tak bermakna, memenuhi udara dengan kepanikan. Burung-burung langsung mengepakkan sayap mereka, terbang, dan menghilang.
AKu berdiri nanar menatap Langit, menyaksikannya roboh, bagai pohon tumbang. Tangannya terjulur mencoba menggapaiku. Aku hanya diam, membeku. Suara teriakan yang tak bisa kukeluarkan terasa bertalu-talu, menghantam seluruh panca inderaku. Air mata terasa menumpuk di kelopak mataku, memaksanya menutup, tapi bahkan sekedar berkedip pun aku tak bisa. Udara terasa membuncah, meledak ingin keluar dari dadaku, semua badanku, setiap sel darahku, terasa sakit, dan seolah-olah berhenti berfungsi.
AKu menatap Langit. Di tanah berkubang darah, yang kutahu pasti itu darahnya, hanya darahnya. Matanya terbuka menatapku, dan darah terus mengalir. Kelamaan membentuk lingkaran di sekeliling tubuhnya, membasahi bajunya, menggenangi rumput. Aku menatap cairan merah yang lama kelamaan, kutau membawa kehidupan Langit meninggalkanku, tapi aku hanya tetap diam terpaku.
"Iris..." bisiknya. Menyadarkanku.
Aku segera berlutut disampingnya. Mengangkat kepalanya ke atas pangkuanku. AKu bisa mendengar mulutku membisikkan namanya berulang-ulang kali. AKu mencoba menutup lubang yang mengucurkan darah didadanya, tapi sepertinya itu sia-sia. Darahnya terus mengalir, dan mengalir, dan mengalir...
"Iris..." bisiknya lagi. Dia mengumpulkan sisa tenaganya dan menyentuh pipiku. AKu bisa merasakan badanku bergoyang-goyang, seperti yang dilakukan Rama waktu itu, membuat ayunan untuk mengusir kenyataan. Mulutku terus membisikkan namanya berkali-kali, dan lagi, dan lagi, dan lagi... "Iris, kamu tau kamu seperti apa?" bisiknya, lemah dan parau. AKu menggeleng kalut, tak mampu membentuk kata lain dengan mulutku selain namanya.
"Iris, kamu seperti pelangi...terlalu indah untuk kumiliki..."
Dan dia pun pergi, hilang, membumbung, tinggi.
Dan Langit, selamanya kamu tak akan pernah tergapai.
"Geez, just relax... Gue bisa jaga diri kaleee...lagian kenapa mesti se-khawatir itu sih, Ram? Toh, you'll always be there to catch me when i fall, kan?" aku berusaha mencairkan ketegangan yang sepertinya dari tadi meliputi mimik wajah kakakku satu ini. Lagipula, itu memang betul kok. Saat senang dan susah Rama selalu ada disana, aku selalu tau bahwa aku bisa selalu menghambur ke pelukannya setiap kali ada sesuatu yang berjalan salah.
"Iya, tapi kalau bisa nggak jatuh, bakal lebih baik, kan?" Yeah yeah...Rama the Philosopher. Tapi saat ini, aku sedang jatuh cinta setengah mati, bahkan kakakku yang kucintai sepenuh hati ini pun tak akan bisa merubahnya.
Sumber pembicaraan kami kali ini adalah seorang lelaki, bernama Langit. Hmm, even his name sounds so sexy, according to me, yaaa. Seperti namanya yang ada jauh tinggi, di atas sana, begitu pula posisinya dalam strata sosial hidupku. Bertahun-tahun aku hanya mampu memandangnya dari jauh, berharap bisa menjadi salah satu bintang yang bisa menempel padanya setiap malam. Tapi entahlah...sebelumnya keberadaan ku tak lebih bagai air yang tenang, yang akan selalu dengan setia memantulkan keindahannya, tanpa pernah mempunyai kesempatan untuk menyentuh. Namun sekarang, mungkin aku sudah berubah menjadi setitik bintang di langit malam.
"Hey! Jangan ngelamun kali. Dengerin donk, kalau orangtua lagi ngomong!" Wooo, blagu banget si Rama. Jelas-jelas aku sama dia cuma beda 1 tahun 5 bulan.
"Yeah, yeah...siapa yang bengong sih, kaak... Iya iya, gue pasti jaga diri kok. Emang lo pikir gue bego apa?!"
"Lo tu emang nggak bego, tapi walau gimanapun asiknya lo, lo tu tetep cewek!" Eits, mulai sexist nih si Rama.
"Trus kenapa kalau gue cewek?? Kalau gue cowok gue nggak bakal naksir Langit, kaleee... Doh!" aku berseru sengit. Emang paling sensi kalau obrolan sudah mulai bawa-bawa jenis kelamin.
"Bukan gitu,non, tapi kaum lo itu terkenal karena tindakan-tindakan bodoh mereka kalau lagi jatuh cinta! Apalagi, cowok macam si Langit itu, tipe yang bakal diperingatin sama semua orang tua ke anak-anak gadis mereka. Yang pada akhirnya justru malah bikin anak-anaknya makin tertarik. Kayak lo gini, nih, sekarang"
"Then, why don't you just stop warning me? Dengan begitu, siapa tau aja gue jadi nggak begitu tertarik lagi sama dia..." balasku sambil menggoyang-goyangkan alis. Ini adalah gerakan yang sangat dibenci Rama. Kenapa? Karena tentu saja dia tidak bisa melakukannya, hahahaha.
"Ya, sesukamulah, lil' sist... Just don't come running to me when he break yourheart." AKu cuma mangut-mangut, karena tau kalau hal itu benar-benar terjadi, Rama lah orang pertama yang akan berlari dan menyediakan bahunya untukku. The only person that I can always take for granted.
***
Hujan. AKu suka hujan, hujan menutupi hal-hal buruk. Itu menurutku.
Aku sedang menunggu Langit, dia berjanji akan menemuiku di tempat ini. Sudah hampir satu jam aku duduk di sini. Disebuah kafe kecil yang juga menyewakan buku. Ide yang cerdas, mengingat tempat-tempat seperti ini biasanya dijadikan tempat pertemuan, dan akan diisi oleh orang-orang yang menunggu dengan bosan. Buku akan menjadi hiburan yang menyenangkan.
Rinai hujan membasahi dinding kaca kafe itu. Cuaca yang mendung, belum lagi waktu yang sudah hampir malam membuatku agak sulit melihat pemandangan di luar. Aku memainkan kotak bekal di hadapanku. Sekotak lasagna khusus untuk Langit. Aku ingat suatu waktu dulu, dia pernah melahap habis bekalku dalam sekejap mata. Sekotak lasagna buatan Mama waktu itu. Hhh, aku merindukannya.
Dua jam sudah berlalu, kafe semakin penuh. Setiap sudutnya diisi oleh orang-orang yang baru menyudahi kegiatan mereka hari itu. Mulai dari para pegawai kantoran, mahasiswa, pelajar sekolah, dan sekelompok orang, dilihat dari pakaian mereka yang eksentrik, adalah segerombolan seniman. Langit masih belum datang.
Entah kenapa, aku tidak keberatan berada disini, sendiri. Menanti datangnya seseorang, yang kehadirannya selalu meninggalkan bias sinar untukku bertahan. Sekarang, setelah akhirnya aku berhasil menggapainya, semua hal tak ada yang terlalu berat. Aku bisa dengan sukarela menghabiskan malamku hanya duduk diam disini, membaca buku-buku yang tak kumengerti, meminum bercangkir-cangkir kopi, hanya untuk mendapatkan sekelebat bayangannya. Dan aku rela melakukannya berulang-ulang kali. Obsesi.
Bunyi kecipak air dari luar membuyarkan lamunanku. Di balik kaca, kulihat Langit sedang berlari berpayungkan gulungan koran. Terlalu tak peduli untuk melindungi diri. Dengan setengah terengah dan sedikit basah, dia menghampiriku.
"You are still here..."
"Of course, where else did you think I'm gonna be?"
"Let say... Anywhere but here?" ujarnya sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah. Tersenyum tipis. "Aku seneng kamu masih disini," Langit menggapai tanganku, menggenggamnya.
"Aku juga," jawabku, tersenyum lega. Then he kissed my hand.
***
AKu membuka pintu. Dihadapanku berdiri Langit, tinggi menjulang, bercucuran darah. Bukan hal baru. AKu menariknya masuk. Mendudukkannya di sofa, dan berjalan ke dapur mencari es batu, dan lap piring yang bersih. Aku sudah kehabisan handuk tanpa bekas noda darah. Lalu kembali ke ruang duduk.
Langit duduk diam disofa, kedua tangannya menyangga kepala. Dia mendongak ketika mendengar langkahku.
"I'm sorry..."
"That's okay. Hold this," kataku sambil menyodorkan plastik berisi es batu. Aku mulai membersihkan wajahnya. Siapa yang menyangka kalau ternyata darah itu bukan darahnya. Muka Langit hanya dipenuhi memar dan lebam, tanpa luka. Dengan hati-hati aku membuka kemejanya yang sudah robek dibeberapa bagian. Perut dan dadanya lagi-lagi dipenuhi memar, baru dan lama. Tiba-tiba dia menahan tanganku yang sedang membersihkan wajahnya, dan mengecupnya lembut.
"What would I do without you?" dia bertanya sambil terpaku menatapku.
"You'll be some unknown dead body on the street?" jawabku sambil membebaskan tangan dan kembali membersihkan darah kering yang menempel di kulitnya.
"Hahaha, ya, mungkin kamu benar," dia menyandarkan badannya ke punggung sofa, dan meluruskan kaki.
"Tentu aja aku benar, mana mungkin bisa salah. You are lucky you are still alive this time," lanjutku.
"Apa kamu nggak mau tau? Apa yang terjadi, siapa yang salah, gimana awalnya, gimana akhirnya... anything, everything?"
"No, I don't. Apapun yang terjadi, nggak bakal ada bedanya buatku." jawabku. "You are still my hero," aku mengedipkan mata untuk mengecilkan makna ucapanku barusan.
Dia mengambil lap piring yang sekarang berwarna coklat itu, meletakkannya di meja, dan menarik tubuhku. My head on his shoulder, the greatest place in the world, in my world. "Don't go anywhere," bisiknya di telingaku.
"Never"
***
"Lagi ngapain lo?" Rama menjulurkan lehernya di pintu kamarku.
"Trying to sleep, sebelum lo tau-tau datang, dan mengganggu," jawabku gusar. Langit baru pulang tadi pagi. Bergegas kembali ke dunianya.
"Jam segini?? Come on, sist! Get your lazy ass up, and go play outside!" ujarnya sambil melemparkan badan ke atas kasurku.
"What are you? five??" aku menarik selimut menutupi muka. Tidak mengacuhkan Rama yang mulai menggoyang-goyangkan tubuhku. "Stop it!! Some people do need to sleep, you know!" Aku mendorong tubuhnya dari kasur. Eegh, dia sangat berat.
"Tumpukan apa tuh, yang ada di kamar mandi lo?" Rama bertanya tiba-tiba.
"Ngh??" tak begitu sadar aku menanggapi ucapannya."Tumpukan apa?"
"Itu, yang ada di kamar mandi lo, warnanya coklat." Shit! Aku lupa langsung membuangnya ke tempat sampah, tapi aku memang tidak tau Rama akan datang hari ini.
"Oh, itu. Tau gue lupa, abis dipake buat ngelap lantai kayaknya," jawabku tak acuh, tapi sudah sepenuhnya sadar sekarang. Rama sukses mengusir kantukku.
"Do you think I'm stupid??"
"Well, yeaah, sometimes..."
"Stop it, sist! It's him, rite? Dateng berlumuran darah, setelah bikin ulah entah dimana, mengharapkan lo untuk mengurusnya, atau sekalian menghangatkan malamny...
"Enough! That's rude!! GUe sama sekali nggak bisa mentolerir omongan lo!!!" aku duduk, merasa over expose dalam keadaan berbaring. "Apapun yang gue lakuin sama dia, it's none of your business!! Apapun yang ingin gue perbuat untuk dia, sama sekali bukan hak lo untuk nyampurin hal itu!!!" Rama terkejut, dan dia pun terdiam. Hanya menatapku dengan pandangan bingung, aku bukan orang yang sering menunjukkan kemarahanku, bahkan pada kakak kandungku sendiri.
"Look what he turns you into... Are you really happy? Does he make you happy? Seperti yang lo lakuin untuk dia, kayak semua hal yang lo perbuat untuk dia?" Rama bertanya pelan, ekspresi terguncang masih tampak diwajahnya. Rama, what should I do to make you understand...?
"What do you think?? Of course not! Setiap malam, gue berdoa semoga dia datang dalam keadaan masih hidup. Setiap dia pulang, gue berharap itu bukan untuk yang terakhir kalinya dia datang. Setiap detik dalam hari gue, selalu gue pakai untuk berdoa semoga semua ini bisa berlangsung lama. Semoga dia bukan sesuatu yang cuma gue pinjem, bukan sesuatu yang bisa hilang... Bahwa entah bagaimana, suatu hari nanti dia akan bisa gue gapai, dan dia akan tersadar, dan tau, waktu untuk berhenti akhirnya datang. Lalu dia pulang, pulang, ke gue!! Apa lo ngerti semua itu, Ram!!! Apa lo tau, jadi apa gue sekarang dibuat sama dia??!!!" aku bisa merasakan air mata membasahi mukaku, semua sedu sedan, isak tangis, sekarang terasa bagai bendungan yang bobol.
Rama langsung menarikku, mendekap tubuhku erat, dan menggerakkan badannya, seakan ingin menghanyutkanku dalam ayunannya. AKu masih terus terisak, dan tak tau bagaimana caranya untuk berhenti.
"I'm sorry sist, I'm so sorry..." dia mengatakannya berulang-ulang, bagaikan sebuah dzikir panjang tanpa makna.
"I love him, Ram, I really really love him...what is so wrong with that?" ujarku, di sela-sela isakan yang tak mau berhenti.
"Nothing, there's nothing wrong..." Rama tetap mengayun badanku pelan. "Let just hope, nobody would see it as a mistake either..."
***
"Apa kamu tau kamu seperti apa?" Tanya Langit siang itu. Kami sedang berbaring di atas tikar piknik ditaman kota. Di sekeliling kami banyak anak kecil berlarian, bunyi air mancur bergemiricik pelan, dan burung-burung kecil berlarian disekitar remah-remah roti yang dilemparkan. Kepalaku berbantalkan lengan.
AKu meletakkan buku yang tengah kubaca dan menghadapnya, "No, I don't. Seperti apa menurut kamu?" Menikmati pemandangan mengamati wajahnya dari sisi ini.
"Apa kamu tau apa arti nama kamu? Iris?"
"Yaa, some goddess of rainbow, or something like that. Kenapa?"
"Buat aku kamu memang seperti itu. Seperti dewi pelangi yang terbang hilir mudik, meninggalkan jejak cahaya. Jejak kamu akan membawa kebahagiaan bagi siapapun yang cukup beruntung melihatnya," Langit kini menatapku.
"Berarti seharusnya kamu bersukur, karena dewi ini, mau meninggalkan jejaknya untuk selalu kamu lihat," kelakarku sambil menyingkirkan rambut yang jatuh menutupi matanya.
"I am...I think I never thank God enough for it. Kamu tau Iris, aku rasa, aku akan berhenti..." AKhirnya...saat yang kukira tak akan pernah datang. Aku hanya tersenyum menatapnya. "AKu akan berhenti Iris, aku akan berhenti membiarkan orang-orang itu membayarku mengerjakan pekerjaan kotor mereka. Kita akan pergi, ketempat yang tak bisa ditemukan mereka, kita akan pergi, dan tak pernah kembali. Kamu mau pergi, Iris?"
Aku bangkit, dan duduk. Menatapnya, mencoba mencari kesungguhan di matanya. Dan semua yang kucari, memang ada disana. "Anywhere. I'll go anywhere with you," jawabku. Dia pun bangkit, setelah memelukku erat, dia membantuku berdiri.
"Let's go... Let find some place to..." apapun yang ingin dikatakannya terhenti. Dalam adegan lambat aku melihat sesuatu yang berkilauan menghujam dadanya. Suara desingan peluru terasa memekakkan telinga. Teriakan, jeritan, makian bergabung menjadi suatu satuan yang tak bermakna, memenuhi udara dengan kepanikan. Burung-burung langsung mengepakkan sayap mereka, terbang, dan menghilang.
AKu berdiri nanar menatap Langit, menyaksikannya roboh, bagai pohon tumbang. Tangannya terjulur mencoba menggapaiku. Aku hanya diam, membeku. Suara teriakan yang tak bisa kukeluarkan terasa bertalu-talu, menghantam seluruh panca inderaku. Air mata terasa menumpuk di kelopak mataku, memaksanya menutup, tapi bahkan sekedar berkedip pun aku tak bisa. Udara terasa membuncah, meledak ingin keluar dari dadaku, semua badanku, setiap sel darahku, terasa sakit, dan seolah-olah berhenti berfungsi.
AKu menatap Langit. Di tanah berkubang darah, yang kutahu pasti itu darahnya, hanya darahnya. Matanya terbuka menatapku, dan darah terus mengalir. Kelamaan membentuk lingkaran di sekeliling tubuhnya, membasahi bajunya, menggenangi rumput. Aku menatap cairan merah yang lama kelamaan, kutau membawa kehidupan Langit meninggalkanku, tapi aku hanya tetap diam terpaku.
"Iris..." bisiknya. Menyadarkanku.
Aku segera berlutut disampingnya. Mengangkat kepalanya ke atas pangkuanku. AKu bisa mendengar mulutku membisikkan namanya berulang-ulang kali. AKu mencoba menutup lubang yang mengucurkan darah didadanya, tapi sepertinya itu sia-sia. Darahnya terus mengalir, dan mengalir, dan mengalir...
"Iris..." bisiknya lagi. Dia mengumpulkan sisa tenaganya dan menyentuh pipiku. AKu bisa merasakan badanku bergoyang-goyang, seperti yang dilakukan Rama waktu itu, membuat ayunan untuk mengusir kenyataan. Mulutku terus membisikkan namanya berkali-kali, dan lagi, dan lagi, dan lagi... "Iris, kamu tau kamu seperti apa?" bisiknya, lemah dan parau. AKu menggeleng kalut, tak mampu membentuk kata lain dengan mulutku selain namanya.
"Iris, kamu seperti pelangi...terlalu indah untuk kumiliki..."
Dan dia pun pergi, hilang, membumbung, tinggi.
Dan Langit, selamanya kamu tak akan pernah tergapai.
16 November, 2007
Prove Me Wrong
Kira-kira lima tetes hujan mulai bersarang di kepalaku. Mana sih si Arki? Alamat pusing kena gerimis deh nih. As if aku belum cukup nyut-nyutan.
Still, I couldn't help but replaying the scene over and over. Riko dan temperamennya yang tiba-tiba meledak. Meneriakiku di tengah-tengah keramaian. "Bercanda ya kamu?!" teriaknya. "Kamu mau putus? Nggak bisa! Karena I'm breaking up with you!" bisiknya dingin setelah sadar semua mata sudah memandangi kami. I couldn't argue with that, jadi aku pergi. Meninggalkannya di coffee shop kecil itu.
Ck. Dikiranya penting, siapa yang minta putus duluan? Kekanak-kanakan. Untung aku sudah putus dengannya.
Mungkin lebih baik aku saja yang menunggu di coffee shop, bukannya jalan kaki tiga blok. Taksi tak ada yang lewat, tetesan hujan pun mulai datang berombongan. Seharusnya sahabatku, Arki--in case that wasn't obvious, sudah datang. Aku selalu meneleponnya untuk keadaan yang inconvenient seperti sekarang.
Aku menaikkan hoodie jaket ke kepalaku, ketika tiba-tiba ada suara klakson dari belakang. Aku menengok dan mobil VW kodok merah Arki yang butut sudah memandangku.
"Hellooo," kataku riang sambil masuk ke kursi penumpang. Seperti biasa cuma disambut senyum miringnya. "Makasih ya udah mau jemput. Soalnya tadi tau-tau Riko harus pergi."
"Right," katanya, sarkastis. Tipikal Arki.
"What?"
"Riko harus pergi?" tanya sahabatku itu sambil mencibir. "Riko pasti harus pergi karena ceweknya yang bernama Lyla mutusin dia tanpa alesan."
"Nuh-uh! Gue ngasih alesan kok!"
"Sorry, maksud gue, tanpa alesan yang jelas."
"Nyeh--" kataku, kehabisan argumen.
Arki kembali memajang senyum miringnya. Kali ini, lebih mengganggu daripada biasanya. Aku pun kembali berargumen.
"Tapi, Ki, untung gue putus. Dia menggila banget tadi. Kasar, teriak-teriak, violent deh. Nggak secara fisik sih--"
"Not the point, La."
"And since when do we have to have a point?" jawabku cengengesan.
Arki tersenyum lebih lebar sekarang, ditambah gelengan kepalanya, dan akhirnya mengangguk kecil--seakan setuju denganku. Gesture andalannya setiap kali dia mau berperan sebagai the bigger, wiser person. Ciri tipikal lain dari Arki: sok. Cih.
*****
"Sooooo, whadayya think?" tanyaku, setengah berlari setengah melompat ke Arki. Aku baru saja mengenalkannya ke Regi, pacar baruku.
"Fine..." kata Arki sambil mengintip halaman rumahku dari jendela.
"Elaborate, please," pintaku sambil ikut mengintip di jendela yang sama. Mobil Regi baru saja meninggalkan pekarangan rumahku.
"Siapa namanya... Regi? Kayaknya oke. Dia main gitar, main bola, suka anjing... Akhirnya dapet juga lo yang kayak gitu. Ya, walaupun nggak ngaruh juga sih."
"Kiiii..." aku tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Come on, La. Kapan tanggal kadaluarsa buat Regi?"
Aku dan Arki sudah berulang-ulang melewati perbincangan yang sama. Tapi saat ini, I'm not in the mood for another silly argument. Arki melanjutkan hujatannya sebelum aku sempat menjawab.
"Mungkin pas dia mau ngenalin lo ke orangtuanya? Atau pas dia mulai pengen kenal lo lebih dalem? Atau--"
"Ki!" kataku, setengah teriak. "Udah ah."
*****
Untuk kesekian kalinya, aku duduk di kursi penumpang VW kodok merah ini. Untuk kesekian kalinya, aku minta Arki menjemput, setelah aku memutuskan pacarku. Tapi kali ini ada yang berbeda. Arki lebih diam. Sejak perdebatan kami waktu itu, dia memang lebih hati-hati memilih lelucon.
Seperti biasa, scene putus berulang-ulang dengan sendirinya di otakku.
"Putus?" tanya Regi. Mukanya ramah seperti biasa, bedanya mungkin pada matanya yang sedikit memelas dan penuh tanda tanya. "Kenapa?"
"Karena--"
"Eh, nggak usah dijawab deh."
Diam.
"Aku kira, everything's going great, La."
"It is."
"Terus?" tanyanya. "Wait. Never mind. It's okay. Aku harus ngehormatin keinginan kamu kan... Apapun alesannya."
Regi tersenyum ramah, dengan mata sedih yang berusaha disembunyikannya.
Biasanya di situlah akhir cerita. Tak ada penyesalan dan pertanyaan. Kali ini pun tak ada penyesalan. Toh sudah lewat. Tapi pertanyaan? Suara di dalam kepalaku bertanya berulang-ulang, what are you doing. What are you doing? What are you doing? What are you doing?
Tiba-tiba suara dehem Arki membuyarkan siaran ulang Sore Bersama Regi di kepalaku.
"Kalo mau ngomong sesuatu, ngomong aja," kataku agak ketus.
"Nggak."
"Right. Udah deh. Get it out of your system."
"Oke. Gue cuma pengen tau, alesan apa lagi yang lo kasih sekarang?"
"Dia nggak minta alesan."
"Kalo dia minta?"
"Nggak tau. You're too good for me? Atau apalah. Apa urusan lo juga sih, Ki?" tanyaku ketus. Aku mulai kesal dengan Arki yang sepertinya sedang membelekku dengan pisau bedah, layaknya kodok di kelas biologi. Berusaha belajar cara kerja organ-organ di dalamnya. Ck. Aku bukan kodok!
Arki tidak menjawabku. Dia malah kembali membombardirku dengan pertanyaan.
"Dan alesan lo sesungguhnya?"
Aku terdiam. Apakah aku benar-benar harus menjawab pertanyaan itu?
"La, ayolah. You're too good for me? Nobody's too good for you. Gue tau, menurut lo, you're too good for everybody."
"Ki, serius ya. Mulut lo belakangan ini mesti dibekep sambel deh."
"Sorry."
Kami terdiam sesaat sebelum Arki mulai bicara lagi.
"Kenapa sih? Gue tau lo gerah sama yang namanya komitmen. Tapi lama-lama kayaknya udah bukan masalah itu lagi."
"Maksud lo?"
"Ya, lihat Regi. Gue kira, dia udah sesuai banget sama yang lo cari-cari. Memenuhi syarat-syarat lo yang ribet. Dia juga nggak clingy. Kenapa coba lo putusin? Alesan masuk akal apa yang bisa lo kasih?"
Aku tak bisa menjawab.
"Tuh kan? Lo cuma main-main ya, La? Ya, itu hak lo, dan gue tau gue sebagai sahabat lo harusnya mendukung aja, dan segala macem--"
"Karena gue takut ditinggal!" teriakku, keceplosan. Tanpa sadar air mata mulai menggenangi pandanganku. Arki menengok ke arahku dan kembali melihat ke arah jalanan. Dia mengarahkan mobil ke kiri jalan, dan menghentikannya di toko tanaman yang sudah tutup.
"La..." rasa bersalah terlihat begitu kental di muka Arki.
"Karena emang gitulah adanya, Ki. People leave. They always do. Siapapun itu. Akan lebih baik kalo gue yang mulai duluan. Gue nggak usah repot-repot nunggu kapan mereka bakal pergi. No waiting, no dreading..."
"La..." katanya lagi, tapi sambil tertawa kecil. Gila ini orang. Setelah memancing kekesalan, lalu dia ketawa? Apa dia mau berlagak jadi Arki, Mr. I'm-so-wise-and-cool-I-don't-do-drama?
"Apa? Gue tau lo selalu mau ngebuktiin kalo omongan gue salah. Tapi untuk yang satu ini gue tau gue bener. People always leave, Ki. Kalo nggak seminggu lagi, sebulan lagi, atau sedekade lagi. Tapi itu pasti. Muluk-muluk kalo lo mikir sebaliknya."
"La, maaf ya."
Aku cuma menghela nafas.
"La, maaf. Mungkin tadi gue agak kelewatan. Tapi nggak semua orang pergi, La. Nggak semua orang kayak nyokap lo, kayak strangers yang dulu pernah lo sebut sebagai temen-temen lo," katanya sambil mengabsen pendatang yang pernah ada di hidupku. "Gue tau semua orang keliatannya dateng dan pergi gitu aja. Tapi nggak semua kayak gitu kan?"
"Menurut lo kan? Menurut gue, pikiran kayak gitu muluk-muluk. Lagian nggak semua orang pergi, karena gue udah pergi duluan."
"Not the point, and you know it."
Aku terdiam. Berharap bisa menekan tombol fast-forward dan menyudahi pembicaraan ini.
"Nih deh. Satu contoh, gue nggak bakal pergi."
"Yaa. Siapa yang tau kan sepuluh tahun lagi..."
"Kayaknya nggak ada yang bisa menggoyahkan pikiran lo ya."
Aku cuma mengangkat alis.
"Gini deh, gimana kalo kita taruhan?"
"Taruhan apa?"
"Tiap hari, untuk keduaribuseratustujuhpuluhdua kalinya, gue bakal ngebuktiin kalo lo salah."
"Gimana?" tanyaku. Masih cemberut dan merasa sangat bodoh karena sudah menangis--hal yang sudah lama asing bagiku.
"Ya gue bakal ngebuktiin kalo anggepan lo yang 'people always leave' itu nggak bener. Gue bakal nongol terus di hidup lo... dan nggak bakal pergi."
"Nggak usah janji-janji."
"Siapa yang bilang janji, he?" cibirnya sambil mengusap mukaku, kebiasaannya setiap kali meremehkanku. "Lo juga boleh buktiin kalo gue yang salah. Kalo orang pasti pergi."
"Nyeh..."
"Lo pasti tau kan, susah ngebuktiin kalo gue salah."
"Sotoy," jawabku, basi.
"Pokoknya, kalo gue yang bener. Kalo gue bisa ngebuktiin gue nggak bakal pergi dari hidup lo, bayarannya..."
Aku menatapnya, menunggu kelicikan sahabatku yang satu ini.
"Bayarannya..." lanjut Arki. "Bayarannya lo harus tetep nongol di hidup gue juga. Nggak ada kabur-kaburan kayak yang lo lakukan ke Regi, and practically everyone you know."
Arki mengangkat alisnya, menunggu jawabanku. Aku deg-degan. Tapi aku tidak takut, tidak gerah, tidak canggung.
"You got yourself a deal," jawabku akhirnya sambil menyodorkan tanganku untuk disalami. Arki tidak menyalaminya, tapi menggenggamnya, tersenyum.
Aku tidak keberatan salah kali ini.
Still, I couldn't help but replaying the scene over and over. Riko dan temperamennya yang tiba-tiba meledak. Meneriakiku di tengah-tengah keramaian. "Bercanda ya kamu?!" teriaknya. "Kamu mau putus? Nggak bisa! Karena I'm breaking up with you!" bisiknya dingin setelah sadar semua mata sudah memandangi kami. I couldn't argue with that, jadi aku pergi. Meninggalkannya di coffee shop kecil itu.
Ck. Dikiranya penting, siapa yang minta putus duluan? Kekanak-kanakan. Untung aku sudah putus dengannya.
Mungkin lebih baik aku saja yang menunggu di coffee shop, bukannya jalan kaki tiga blok. Taksi tak ada yang lewat, tetesan hujan pun mulai datang berombongan. Seharusnya sahabatku, Arki--in case that wasn't obvious, sudah datang. Aku selalu meneleponnya untuk keadaan yang inconvenient seperti sekarang.
Aku menaikkan hoodie jaket ke kepalaku, ketika tiba-tiba ada suara klakson dari belakang. Aku menengok dan mobil VW kodok merah Arki yang butut sudah memandangku.
"Hellooo," kataku riang sambil masuk ke kursi penumpang. Seperti biasa cuma disambut senyum miringnya. "Makasih ya udah mau jemput. Soalnya tadi tau-tau Riko harus pergi."
"Right," katanya, sarkastis. Tipikal Arki.
"What?"
"Riko harus pergi?" tanya sahabatku itu sambil mencibir. "Riko pasti harus pergi karena ceweknya yang bernama Lyla mutusin dia tanpa alesan."
"Nuh-uh! Gue ngasih alesan kok!"
"Sorry, maksud gue, tanpa alesan yang jelas."
"Nyeh--" kataku, kehabisan argumen.
Arki kembali memajang senyum miringnya. Kali ini, lebih mengganggu daripada biasanya. Aku pun kembali berargumen.
"Tapi, Ki, untung gue putus. Dia menggila banget tadi. Kasar, teriak-teriak, violent deh. Nggak secara fisik sih--"
"Not the point, La."
"And since when do we have to have a point?" jawabku cengengesan.
Arki tersenyum lebih lebar sekarang, ditambah gelengan kepalanya, dan akhirnya mengangguk kecil--seakan setuju denganku. Gesture andalannya setiap kali dia mau berperan sebagai the bigger, wiser person. Ciri tipikal lain dari Arki: sok. Cih.
*****
"Sooooo, whadayya think?" tanyaku, setengah berlari setengah melompat ke Arki. Aku baru saja mengenalkannya ke Regi, pacar baruku.
"Fine..." kata Arki sambil mengintip halaman rumahku dari jendela.
"Elaborate, please," pintaku sambil ikut mengintip di jendela yang sama. Mobil Regi baru saja meninggalkan pekarangan rumahku.
"Siapa namanya... Regi? Kayaknya oke. Dia main gitar, main bola, suka anjing... Akhirnya dapet juga lo yang kayak gitu. Ya, walaupun nggak ngaruh juga sih."
"Kiiii..." aku tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Come on, La. Kapan tanggal kadaluarsa buat Regi?"
Aku dan Arki sudah berulang-ulang melewati perbincangan yang sama. Tapi saat ini, I'm not in the mood for another silly argument. Arki melanjutkan hujatannya sebelum aku sempat menjawab.
"Mungkin pas dia mau ngenalin lo ke orangtuanya? Atau pas dia mulai pengen kenal lo lebih dalem? Atau--"
"Ki!" kataku, setengah teriak. "Udah ah."
*****
Untuk kesekian kalinya, aku duduk di kursi penumpang VW kodok merah ini. Untuk kesekian kalinya, aku minta Arki menjemput, setelah aku memutuskan pacarku. Tapi kali ini ada yang berbeda. Arki lebih diam. Sejak perdebatan kami waktu itu, dia memang lebih hati-hati memilih lelucon.
Seperti biasa, scene putus berulang-ulang dengan sendirinya di otakku.
"Putus?" tanya Regi. Mukanya ramah seperti biasa, bedanya mungkin pada matanya yang sedikit memelas dan penuh tanda tanya. "Kenapa?"
"Karena--"
"Eh, nggak usah dijawab deh."
Diam.
"Aku kira, everything's going great, La."
"It is."
"Terus?" tanyanya. "Wait. Never mind. It's okay. Aku harus ngehormatin keinginan kamu kan... Apapun alesannya."
Regi tersenyum ramah, dengan mata sedih yang berusaha disembunyikannya.
Biasanya di situlah akhir cerita. Tak ada penyesalan dan pertanyaan. Kali ini pun tak ada penyesalan. Toh sudah lewat. Tapi pertanyaan? Suara di dalam kepalaku bertanya berulang-ulang, what are you doing. What are you doing? What are you doing? What are you doing?
Tiba-tiba suara dehem Arki membuyarkan siaran ulang Sore Bersama Regi di kepalaku.
"Kalo mau ngomong sesuatu, ngomong aja," kataku agak ketus.
"Nggak."
"Right. Udah deh. Get it out of your system."
"Oke. Gue cuma pengen tau, alesan apa lagi yang lo kasih sekarang?"
"Dia nggak minta alesan."
"Kalo dia minta?"
"Nggak tau. You're too good for me? Atau apalah. Apa urusan lo juga sih, Ki?" tanyaku ketus. Aku mulai kesal dengan Arki yang sepertinya sedang membelekku dengan pisau bedah, layaknya kodok di kelas biologi. Berusaha belajar cara kerja organ-organ di dalamnya. Ck. Aku bukan kodok!
Arki tidak menjawabku. Dia malah kembali membombardirku dengan pertanyaan.
"Dan alesan lo sesungguhnya?"
Aku terdiam. Apakah aku benar-benar harus menjawab pertanyaan itu?
"La, ayolah. You're too good for me? Nobody's too good for you. Gue tau, menurut lo, you're too good for everybody."
"Ki, serius ya. Mulut lo belakangan ini mesti dibekep sambel deh."
"Sorry."
Kami terdiam sesaat sebelum Arki mulai bicara lagi.
"Kenapa sih? Gue tau lo gerah sama yang namanya komitmen. Tapi lama-lama kayaknya udah bukan masalah itu lagi."
"Maksud lo?"
"Ya, lihat Regi. Gue kira, dia udah sesuai banget sama yang lo cari-cari. Memenuhi syarat-syarat lo yang ribet. Dia juga nggak clingy. Kenapa coba lo putusin? Alesan masuk akal apa yang bisa lo kasih?"
Aku tak bisa menjawab.
"Tuh kan? Lo cuma main-main ya, La? Ya, itu hak lo, dan gue tau gue sebagai sahabat lo harusnya mendukung aja, dan segala macem--"
"Karena gue takut ditinggal!" teriakku, keceplosan. Tanpa sadar air mata mulai menggenangi pandanganku. Arki menengok ke arahku dan kembali melihat ke arah jalanan. Dia mengarahkan mobil ke kiri jalan, dan menghentikannya di toko tanaman yang sudah tutup.
"La..." rasa bersalah terlihat begitu kental di muka Arki.
"Karena emang gitulah adanya, Ki. People leave. They always do. Siapapun itu. Akan lebih baik kalo gue yang mulai duluan. Gue nggak usah repot-repot nunggu kapan mereka bakal pergi. No waiting, no dreading..."
"La..." katanya lagi, tapi sambil tertawa kecil. Gila ini orang. Setelah memancing kekesalan, lalu dia ketawa? Apa dia mau berlagak jadi Arki, Mr. I'm-so-wise-and-cool-I-don't-do-drama?
"Apa? Gue tau lo selalu mau ngebuktiin kalo omongan gue salah. Tapi untuk yang satu ini gue tau gue bener. People always leave, Ki. Kalo nggak seminggu lagi, sebulan lagi, atau sedekade lagi. Tapi itu pasti. Muluk-muluk kalo lo mikir sebaliknya."
"La, maaf ya."
Aku cuma menghela nafas.
"La, maaf. Mungkin tadi gue agak kelewatan. Tapi nggak semua orang pergi, La. Nggak semua orang kayak nyokap lo, kayak strangers yang dulu pernah lo sebut sebagai temen-temen lo," katanya sambil mengabsen pendatang yang pernah ada di hidupku. "Gue tau semua orang keliatannya dateng dan pergi gitu aja. Tapi nggak semua kayak gitu kan?"
"Menurut lo kan? Menurut gue, pikiran kayak gitu muluk-muluk. Lagian nggak semua orang pergi, karena gue udah pergi duluan."
"Not the point, and you know it."
Aku terdiam. Berharap bisa menekan tombol fast-forward dan menyudahi pembicaraan ini.
"Nih deh. Satu contoh, gue nggak bakal pergi."
"Yaa. Siapa yang tau kan sepuluh tahun lagi..."
"Kayaknya nggak ada yang bisa menggoyahkan pikiran lo ya."
Aku cuma mengangkat alis.
"Gini deh, gimana kalo kita taruhan?"
"Taruhan apa?"
"Tiap hari, untuk keduaribuseratustujuhpuluhdua kalinya, gue bakal ngebuktiin kalo lo salah."
"Gimana?" tanyaku. Masih cemberut dan merasa sangat bodoh karena sudah menangis--hal yang sudah lama asing bagiku.
"Ya gue bakal ngebuktiin kalo anggepan lo yang 'people always leave' itu nggak bener. Gue bakal nongol terus di hidup lo... dan nggak bakal pergi."
"Nggak usah janji-janji."
"Siapa yang bilang janji, he?" cibirnya sambil mengusap mukaku, kebiasaannya setiap kali meremehkanku. "Lo juga boleh buktiin kalo gue yang salah. Kalo orang pasti pergi."
"Nyeh..."
"Lo pasti tau kan, susah ngebuktiin kalo gue salah."
"Sotoy," jawabku, basi.
"Pokoknya, kalo gue yang bener. Kalo gue bisa ngebuktiin gue nggak bakal pergi dari hidup lo, bayarannya..."
Aku menatapnya, menunggu kelicikan sahabatku yang satu ini.
"Bayarannya..." lanjut Arki. "Bayarannya lo harus tetep nongol di hidup gue juga. Nggak ada kabur-kaburan kayak yang lo lakukan ke Regi, and practically everyone you know."
Arki mengangkat alisnya, menunggu jawabanku. Aku deg-degan. Tapi aku tidak takut, tidak gerah, tidak canggung.
"You got yourself a deal," jawabku akhirnya sambil menyodorkan tanganku untuk disalami. Arki tidak menyalaminya, tapi menggenggamnya, tersenyum.
Aku tidak keberatan salah kali ini.
15 November, 2007
Rumah Di Tepi Pantai
Saya berjalan menyusuri pantai. Hari ini lengang, tapi mungkin keadaan seperti ini yang paling baik. Saya bisa merasakan panasnya matahari di kulit saya, nanti malam mungkin akan perih, tapi saya tidak peduli. Saya tidak ingin mempedulikan apapun saat ini. Saya hanya ingin berjalan, dan terus berjalan, entah menuju kemana. Mungkin memiliki seekor anjing kecil yang berlari-lari di dekat kaki saya akan menyenangkan, tapi saya tidak punya anjing, saya alergi pada bulu binatang.
Angin meniup bagian bawah gaun saya, saya jadi ingat saat kecil dulu, saya suka menari berputar-putar agar gaun saya terangkat dan membentuk lingkaran yang cantik, seperti yang dilakukan oleh para penari Spanyol. Saya juga sempat ingin menjadi seorang penari. Saya membayangkan akan mengenakan sebuah gaun yang sangat cantik, dengan rok lebar dari bahan chiffon yang sangat ringan, manik-manik akan memenuhi rok saya, dan saat saya menari saya akan terlihat bersinar-sinar, seakan-akan ratusan kunang-kunang ikut menari bersama saya. Tapi tentu saja hal itu tak pernah terjadi. Hidup saya berhenti terasa menarik, semenjak...entahlah.
Saya melihat sesuatu yang berkilauan, agak tertimbun pasir pantai yang putih. Mungkin kulit kerang, saya membatin. Tapi tetap menunduk untuk memungutnya. Ternyata itu sama sekali bukan kulit kerang, melainkan sebuah cincin. Cincin emas yang sangat indah, dengan sebuah batu kecil berwarna biru berbentuk seperti tetesan air ditengahnya. Batu safir. Siapa yang sampai hati membuang cincin seindah ini, atau apakah cincin ini terjatuh? Sesaat saya ragu, apa saya boleh membawa cincin ini, atau harus meletakkannya lagi. Tapi bagaimana kalau cincin ini tersapu air, dan terbawa, menghilang di lautan luas?
Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu. Siapa tau seseorang akan datang untuk mencari cincin cantik ini. Saya lalu berjalan ke sebuah pohon kelapa yang cukup besar, berencana untuk duduk dibawahnya.
Pantai masih tetap lengang, pasti hanya orang bodoh, atau orang yang sangat bosan seperti saya yang mau berada di pantai dalam cuaca sepanas ini. Ah, saya tak peduli, lebih baik saya mulai menunggu dengan tenang. Saya akan menunggu sampai malam tiba, kalau tidak ada siapapun yang datang, berarti cincin ini menjadi milik saya, atau, entahlah...saya belum tau.
Saya mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas pantai saya. Love In The Time of Cholera. Apa rasanya jatuh cinta, sampai tak bisa lepas lagi? Seakan-akan cinta kita itu jadi bagian dari tubuh kita, bukankah akan menyeramkan? Atau bagaimana rasanya bisa jatuh cinta dalam sekejap mata? Apakah rasanya bagai tersambar petir, tersengat listrik, atau sensasi-sensasi aneh lainnya yang mengejutkan? Apa yang Shakespeare pikir akan dirasakan oleh Romeo dan Juliet saat mereka bertemu? Bagaimana mereka berdua bisa langsung jatuh cinta, lantas melupakan segalanya? Ah, mungkin itu hanya karena mereka masih sangat muda, sehingga semuanya terasa begitu dramatis. Seperti yang saya alami saat masih sangat muda dulu.
Bagaimana orang-orang bisa menulis kisah cinta yang hebat? Apakah Shakespeare orang yang penuh cinta, apakah dia memuja cinta? Ah, saya rasa dia gila, atau bahkan membenci cinta. Semua orang yang jatuh cinta selalu dibuatnya berakhir menderita, ck! Bagaimana dengan legenda Yunani itu? Apakah mungkin ada perempuan yang memiliki cinta sebesar Penelope? Akankah para kekasih tetap setia menunggu, sampai orang yang mereka cintai pulang, walau tak tau untuk berapa lama. Atau adakah orang yang jadi gila karena cinta, seperti Qais yang kehilangan akal sehatnya karena Laila. Aneh, kenapa hampir semua kisah cinta yang tetap hidup sepanjang masa, berisi tentang para pecinta yang mati?
Lebih baik saya lupakan hal itu untuk sementara, dan membaca buku ini. Sebenarnya saya tak ingin buru-buru menyelesaikannya, ceritanya sangat indah, selain itu saya juga belum punya buku lain untuk dibaca. Jadi dengan ragu-ragu saya kembali menutup buku saya tadi, belum ingin mulai membaca lagi. Saya mengeluarkan cincin itu dari saku gaun pantai saya, mengangkatnya menghadap matahari. Dan saya bisa melihat cahaya matahari berpendar melalui batu safir itu. Persis seperti cincin idaman saya. Hhh, seandainya saja cincin ini milik saya.
Seorang laki-laki berjalan di pantai. Hmm, ternyata ada juga orang yang sama bodohnya dengan saya. Tapi laki-laki itu sedang menunduk dan bahunya agak membungkuk sehingga terlihat sedih. Semoga saja dia tidak berniat bunuh diri, saya tak ingin merasa bersalah karena tak ingin menyelamatkannya. Tapi kalau saya perhatikan wajah laki-laki itu tak buruk juga, malah diatas rata-rata. Kalau mood saya sedang bagus, saya akan menyebutnya ganteng, tampan, atau apapun sejenisnya. Dan kalau mood saya sedang lebih bagus lagi, mungkin saya akan berusaha mengajaknya bicara. Tapi saat ini, saya sedang malas, jadi sudahlah, biarkan saja, it's his lost, anyway...hehehe.
Laki-laki itu menundukkan badannya yang agak kurus, memandangi pasir pantai, tapi anehnya dia seperti hanya termangu. Setelah membungkuk cukup lama, dia menurunkan tangannya dan mengais-ngais pasir. Oops, jangan-jangan ini dia sang pemilik cincin. Hhh, padahal saya benar-benar berharap untuk dapat memiliki cincin ini. Laki-laki itu sudah menegakkan badannya lagi, dan kembali berjalan. Matanya masih memandang ke bawah, terkadang dia membungkuk, tapi lalu berjalan lagi. Sepertinya saya memang harus benar-benar mengembalikan cincin ini.
“Hey...!!! Hey!!” saya mencoba memanggilnya, tapi sepertinya lelaki itu tak mendengar suara saya. Saya pun berdiri dan berjalan mendekat. Saya menepuk bahunya, dia tersentak kaget. “Apa kamu mencari sesuatu?” tanya saya sambil menatap wajahnya, lebih tepatnya mengamati wajahnya. “Apa ada barang kamu yang hilang?” saya bertanya lagi, karena sepertinya dia tidak menangkap pertanyaan pertama saya tadi.
“ Entahlah...” Heh?! Mana ada orang yang mencari sesuatu tapi tidak tahu apa ada barangnya yang hilang. Dasar aneh! Tapi, ya Tuhan, dia ternyata sangat tampan. Matanya tajam, dan berwarna coklat tua pekat. Rambutnya hitam, segelap malam, dengan ikal lembut yang menjuntai di keningnya. Seperti rambut Superman, tanpa gel tentunya. Hidungnya sangat mancung, dan sepertinya pernah patah. Dan yang paling luar biasa adalah bibirnya, bergaris tegas, cukup tebal, dan, kalau mengikuti novel-novel roman, menjanjikan kenikmatan, hahaha.“Kamu nggak tau ada barang kamu yang hilang atau nggak?” tanya saya lagi. Tuhan maha adil, dia menciptakan makhluk setampan ini, dengan kapasitas otak yang kecil.
“Bukan. Saya tidak tau, apa barang saya yang hilang itu, benar-benar hilang, atau sebenarnya saya sudah menemukannya.” Oh okey, mungkin ternyata dia tidak terlalu bodoh, hanya aneh. “Apa kamu menemukan sesuatu?”
“Tergantung, apa kamu mencari sesuatu?” Dia hanya tersenyum, tipis. Mungkin itu lebih baik, kalau dia tersenyum lebih lebar lagi, dia akan mencuri hati saya saat ini juga.
“Tidak, tidak lagi. Saya rasa saya sudah berhenti mencari.”
“Oh. Alrighty then,” dan saya pun berbalik. Berbicara terlalu lama dengan orang ini akan membawa akibat buruk bagi saya. Entah hati saya akan hancur berkeping-keping, atau saya melakukan hal bodoh dengan menyeretnya ke balik pohon, and kiss him senselessly. Oh Tuhan, saya rasa saya terlalu lama hidup sendirian. Atau...apa saya sedang jatuh cinta, secepat kilat seperti yang selalu diagung-agungkan para sastrawan.
“Tunggu!” dia berteriak memanggil saya. “Kamu mau kemana?”
“Pergi, memang kelihatannya seperti apa?” Dasar bodoh! Tapi, seandainya dia meminta saya menemaninya, siapalah saya kiranya bisa menolak.
“Kenapa? Apa kamu punya hal lain yang ingin dilakukan?” Tentu, seperti kembali di bawah pohon, membuka buku saya, dan membayangkan wajahnya seharian penuh.
“Tentu saja. Apa saya terlihat seperti orang bodoh, yang akan berdiri di bawah terik matahari, dan tidak melakukan apa-apa?”
“Apa kamu mau menemani saya?” O ow, be careful with what you wish for, honey. ”Maksud saya, kalau kamu tidak ada hal lain yang perlu dilakukan, maukah kamu menemani saya?” I'll do anything for you, love, mwuahaha. Tuhan tolong bantu saya, jangan biarkan saya melakukan hal-hal bodoh.
“Menemani? Kamu? Orang asing yang saya tidak tahu dari mana asalnya. Saya bahkan tidak tau apa kamu benar-benar manusia, atau prajurit utusan Ratu Kidul yang bermaksud menculik saya.” Saya pun mengibas-ngibaskan gaun pantai saya yang berwarna hijau.
“Saya tidak tau kalau ternyata kamu sekarang percaya tahayul.”
“Tentu saja kamu nggak tau! Kamu bahkan tidak tau siapa nama saya, apa saya benar-benar perempuan, atau seorang transversite yang sukses.”
“Saya tau kamu benar-benar seorang perempuan. Kalau kamu mau, saya bisa menanyakan nama kamu, dan saya bersumpah tidak akan menculik, dan menyerahkan kamu pada penguasa laut manapun,” dia berkata sambil mengangkat tangan kanannya dan membentuk tanda'V'.
“Kamu tau darimana saya benar-benar seorang perempuan? Kamu tak akan pernah bisa membayangkan apa yang pisau bedah mampu lakukan,” tantang saya.
“Sejauh ini, yang mampu pisau bedah saya lakukan adalah mengangkat dan memindahkan organ tubuh manusia, memotong usus buntu, melancarkan sumbatan organ dalam, dan...ya, saya belum pernah melakukan operasi kelamin, jadi saya memang tidak terlalu yakin.” Hmm, menarik. Jadi lelaki aneh yang saya kira bodoh ini adalah seorang dokter bedah, atau... pembunuh berdarah dingin yang melakukan mutilasi pada para korbannya, dan mengoleksi organ tubuh mereka. Tapi, para pembunuh tidak memotong usus buntu, kan??
“Okey, saya mau menemani kamu, tapi kamu harus menjawab dua pertanyaan saya.”
“Apapun.”
“Apa orang-orang yang kamu bedah itu, memang meminta kamu untuk melakukannya?” Dia terdiam dan lalu matanya membelalak menatap saya. Kenapa dia mesti heran, wajar kalau saya menanyakan pertanyaan itu. Sekarang ini kita tidak boleh lengah, bukan?
“Apa maksud kamu, saya orang gila yang berkeliling dan membedah orang-orang, lalu memotong-motong badan mereka dan mengoleksi organ tubuhnya?” Ups! “Mereka meminta saya, bahkan mereka membayar saya untuk itu. Terlalu berlebihan terkadang, cuma tempat saya bekerja mengatakan banyak biaya administrasi yang harus dibayar oleh orang-orang itu.”
“Okey... jadi kamu bukan seorang pembunuh gila. Lalu, apa yang kamu cari di pantai tadi? Yang kamu nggak yakin lagi, mau kamu temukan atau nggak...”
“Oh itu... sudah tidak penting lagi. Saya yakin, benda yang saya cari tadi, sudah sampai ke tempat dia seharusnya berada. Okey, mungkin belum terlalu tepat, tapi sudah tidak terlalu jauh lagi.” Dasar aneh! “Jadi? Apa kamu mau menemani saya?” tanyanya sambil agak membungkuk agar bisa lebih dekat dengan kepala saya yang memang hanya sedikit melebihi bahunya.
“Okey, jadi kita mau apa? Kemana?” tanya saya sambil membetulkan tali gaun pantai saya yang agak turun.
“Ke rumah kamu,” said the devil with a smile in his angelic face.
“Whoaa, mau apa kita di rumah saya??!” Hmm, tapi kenapa ide itu tidak terdengar terlalu jelek, ya? Di rumah nanti, kami bisa... well, there's a lot, a lot of things that we could do. Tuhaaaan, lelaki ini benar-benar memberi pengaruh buruk pada otak saya yang sudah lama tidak terkena rangsangan feromon.
“Hahaha, jangan panik dulu. Ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan ke kamu”
“Sesuatu? Yang kamu ingin tunjukkan ke saya, dan ada di rumah saya?? Hmm, aneh, kenapa saya sebagai sang PEMILIK rumah tidak bisa mengingat apapun yang mungkin bisa kamu tunjukkan, ya!” dan makhluk tampan menyebalkan ini hanya berdiri sambil tersenyum-senyum di hadapan saya. Yang berarti dengan sukses berhasil mencuri hati saya. Yang artinya lagi, akan membuat saya mengikuti apapun keinginannya.
“Percaya saja. Kamu akan sangat terkejut begitu kita sampai. Walau, melihat mimik kamu sekarang, saya tidak yakin itu akan menjadi kejutan yang menyenangkan.”
“Okey then...apapun yang ingin kamu tunjukkan nanti, saya harap, kamu tetap ada disana untuk menerima semua reaksi saya,” what is life without some risks. Dia lalu menggandeng tangan saya, yang anehnya terasa... tepat. Kalau saja kupu-kupu di dalam perut saya bisa sedikit lebih tenang, mungkin saya tidak terlalu merasa ingin muntah.
Kami tidak banyak bicara sepanjang jalan. Dalam hati saya berdoa pada Tuhan, berharap, entah bagaimana rumah saya akan bergerak menjauh setiap kami berjalan mendekat. Jadi dia akan menggenggam tangan saya sedikit lebih lama. Saya bisa mendengar detak jantung saya, bertalu-talu. Seakan ada seorang penebang pohon yang sedang menggerakkan kampaknya, dengan kecepatan yang tak teratur. Seandainya saya adalah sebuah bintang, makanya tubuh saya akan memancarkan cahaya yang sanggup menerangi sebuah desa.
“Apa kamu benar-benar tidak tau siapa saya?” dia tiba-tiba memecah kesunyian antara kami. “Maksud saya, apa saya tidak mengingatkan kamu pada seseorang?” Ng... saya yakin saya belum pernah melihat wajahnya dimanapun.
“Nope! Why? Apa kamu kenalan seseorang yang saya kenal?” pertanyaannya entah bagaimana membuat jantung saya berdebar lebih keras. Entah karena takut, atau hanya... yah, hanya karena tangannya makin erat menggenggam tangan saya.
“Seharusnya iya... Seharusnya memang ada seseorang yang mengingatkan kamu tentang saya. Apa ibu kamu dulu tidak pernah memperingatkan kamu, untuk tidak pergi bersama orang asing? Hehehe...” katanya sambil terkekeh. Menyebalkan!
“Ibu saya tidak punya waktu untuk itu. Dia selalu yakin kalau saya mampu menjaga diri saya sendiri. Untungnya saya memang bisa,” jawab saya sambil mengangkat bahu untuk memberi kesan tidak acuh. Padahal, seumur hidup, tidak pernah sedetik pun saya berhenti berdoa agar Ibu punya waktu sedikit lebih banyak untuk saya. Sayangnya, Tuhan masih belum mengabulkan doa saya.
Dia memandang saya, dan entah bagaimana tatapannya menunjukkan seakan-akan dia benar-benar mengerti perasaan saya. “Jika saya memiliki anak seperti kamu, saya tidak akan pernah melepaskannya dari pengawasan mata saya. Saya akan mengikutinya kemana pun dia pergi, mencari tau semua kenalannya, dan memastikan dia memakai baju yang tidak terlalu menonjolkan kecantikkannya. Yang pasti, baju-baju yang akan saya pilihkan tidak akan seperti baju yang kamu pakai sekarang,” ujarnya sambil mengangkat sebelah alis, dan menggerakkan kepalanya ke arah bahu saya.
“Untungnya kamu bukan ayah saya. Saya sangat pemilih dalam berpakaian, dan ayah saya selalu membuat saya merasa cantik!” Saya menjawab tegas. Walau sebenarnya, saya yakin pipi saya warnanya sudah sama dengan pantat bayi saat ini. Kenapa, sih, dengan orang ini?! Semua yang dia lakukan hanya membuat darah saya mengalir cepat ke arah jantung. Apa dia bisa menyelamatkan saya, seandainya saat ini tiba-tiba saya terkena serangan jantung mendadak. Dia kan cuma dokter bedah. Dia hanya tersenyum lagi, dan kami kembali berjalan dalam diam.
Atap rumah saya mulai tampak. Dinding-dinding kacanya memantulkan sinar matahari. Saya sangat mencintai rumah itu. Dinding-dinding kokohnya menjadi teman yang sangat setia, dan pendengar yang sabar atas semua keluh kesah dan isak tangis saya. Satu-satunya hal yang membuat saya mampu menerima semua ketidakpedulian Ibu adalah karena dia membuatkan rumah mungil di pinggir pantai ini untuk saya. Walau dia tidak pernah bermalam sekalipun di dalamnya. Rumah ini, dan seseorang di masa lalu, dulu.
“Apa kamu tau, kamu ternyata sangat mirip dengannya?” dia tiba-tiba kembali melontarkan kata-kata yang tidak bisa langsung dicerna oleh otak saya.
“Hah? Apa?” saya yakin tampang saya saat ini sangat bodoh. “Mirip dengan siapa?”
“Kamu. Kamu sangat mirip dengan ibu kamu. Saya yakin, saat muda dulu wajahnya persis seperti kamu,” lanjutnya sambil menghentikan langkah. “Rambut panjang dengan ikal-ikal halus. Tulang pipi yang tinggi, dagu yang lancip dan angkuh, lesung di kedua pipi, bibir yang kecil dan penuh. Hanya mata kamu lebih besar, dan lebih expresif. Mata kamu akan membuat lelaki mana pun jatuh cinta,” Dia lalu memutar badannya menghadap saya, dan matanya menusuk tajam ke arah mata saya. Saya bisa mendengar sebuah suara di otak yang meneriakkan pertanyaan, termasuk kamu, termasuk kamu??!! “termasuk saya...” Haaaaaaah???!!!
“Dasar lelaki sinting! Kitakan baru bertemu setengah jam yang lalu...!” saya berusaha menutupi gemuruh yang memenuhi kepala saya. Apa akan menjadi terlalu gila, seandainya saya langsung membalas pernyataan cintanya dengan semangat berapi-api? Ya, tentu saja... “Apa kamu selalu mengatakan hal yang sama, kepada semua perempuan yang kamu temui sedang sendirian di pinggir pantai??” Katakan tidak, katakan tidak, katakan tidak...
“Nope!” Amien. “Saya bahkan tidak pernah mengajak bicara perempuan yang saya tidak kenal, walau dalam kasus kita, memang kamu yang terlebih dahulu mengajak saya bicara. Tapi, kamu tentu mengerti maksud saya,”
“Yah, apapunlah... So, kita sudah sampai, jadi apa yang ingin kamu tunjukkan?” ujar saya, sambil mengetuk-ngetukkan telapak kaki saya dengan lagak tidak sabar. Padahal, seluruh waktu saya di dunia, akan rela saya serahkan untuk ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna ini. Dia membuka gagang pintu, dan kami pun melangkah kedalam. Anehnya rumah kami sudah dipenuhi banyak orang.
“Hai, kamu sudah pulang?” Ibu saya menyeruak dari kerumunan orang-orang itu. Aneh, sejak kapan Ibu datang? Biasanya dia selalu memiliki berjuta kesibukan, dan tak sempat datang. “Ibu sudah dari tadi menyuruh Nino mencari kamu...” Nino? Nino? Kenapa nama itu terasa tidak asing? Saya lantas menengok ke arah lelaki tinggi langsing dan asing, yang sepanjang tadi menggenggam tangan saya.
“Kamu? Nino? Nino yang dekil, korengan, bau, dan yang selalu membawa ketapel kemana-mana??” Ya Tuhaaan... dia pahlawan masa kecil saya.
“Ketapel itu terbukti cukup ampuh untuk mengusir anak-anak lain yang mengganggu kamu, dan walaupun saya bau, kamu selalu berjalan di belakang, dan mencengkram erat baju kaus saya,“ jawabnya acuh. Kenapa saya tidak menyadari kemiripan mereka dari tadi? Nino semasa kecil saya dulu, memang selalu kurus, dan tinggi. Nino kecil dulu memang cukup tampan, tapi wajahnya selalu kotor, dan rambutnya selalu dilapisi pasir pantai. Nino kecil dulu, selalu setia membuatkan saya istana-istana pasir, sehingga bau air laut, seakan tidak pernah benar-benar hilang dari tubuhnya. Nino kecil dulu, hidungnya pernah berdarah dan patah, terkena papan selanjar ketika mencoba menarik saya yang nekat menaiki papan itu. Saya masih ingat baju renang yang dipenuhi darahnya, membuat Ibu berlari-lari menghampiri saya dengan mimik khawatir. Saat pertama dan terakhir dia mengkhawatirkan saya. Nino dulu... pernah mencium saya, dibalik tumpukan ban-ban renang yang disewakan dipinggir pantai, saat kami masih berumur 8 tahun. Nino dulu, pernah membuatkan saya kalung dari kulit kerang, dan berjanji akan menggantinya dengan... cincin bermata safir. Cincin bermata safir yang birunya sebiru air laut dalam lukisan ayah saya. Cincin bermata safir, yang permatanya akan memancarkan sinar matahari, dan berbinar indah seperti ribuan kunang-kunang. Kunang-kunang yang pernah kami lihat di malam ulangtahun saya yang ke-10, di sebuah muara dekat rumah. Nino, yang ketika kami berusia 12, pergi. Dia berjanji akan kembali, lalu...
“Saya rasa kamu sudah menemukan cincinnya?” Suara Nino membuyarkan lamunan saya. “Saya melihat kamu memungutnya di pantai tadi. Dan menyimpannya...” Dengan tak sadar, saya merogoh saku gaun pantai saya lalu membuka telapak tangan saya di depan Nino. Cincin itu tergeletak indah di atasnya. “Apa kamu suka? Apa warna birunya sebiru lukisan ayah kamu?” dia bertanya. Otak saya seakan beku. Nama Nino selalu tersimpan rapi dalam sebuah laci di sudut hati saya. Laci yang hampir tak pernah saya buka, karena isinya akan mendatangkan rasa sepi. hingga membuat saya hampir melupakannya. Hidup saya, terasa selalu membosankan, tidak menyenangkan, karena tidak ada Nino yang biasanya siap mengajak saya berpetualang. Setiap hari dulu, Nino selalu mengulurkan tanggannya, seperti yang dilakukan Peter Pan di jendela rumah Wendy, dan membawa saya ke Neverland kami sendiri. Mendaki bukit-bukit karang, memasuki lubang-lubang yang tercipta akibat kikisan air laut, dan menganggapnya sebagai gua pribadi kami.
Sekarang, kami berusia 27 tahun. Lebih setengah umur saya, dilalui tanpanya. Dia telah menjadi seorang dokter bedah, dan saya, seorang pelukis seperti ayah. Tanpa saya sadari, kami berhasil menjadi apa yang kami cita-citakan dulu. Dan tanpa saya pernah tau, saya selalu menunggu Nino kembali, dan memulai petualangan baru kami.
“Persis. Birunya persis sama,” akhirnya saya bisa bersuara. Sekeliling saya seakan menjadi kabur. Dalam rumah ini seakan-akan hanya ada saya dan Nino. Sekarang, apakah penantian saya akan mendapatkan imbalannya?
“Jadi, apakah itu artinya, kita jadi menikah?” Janji 15 tahun lalu pun ditepati.
“Ya, tentu saja,” dan saya pun mendekat, memeluknya. Akhirnya, saya pun pulang.
Angin meniup bagian bawah gaun saya, saya jadi ingat saat kecil dulu, saya suka menari berputar-putar agar gaun saya terangkat dan membentuk lingkaran yang cantik, seperti yang dilakukan oleh para penari Spanyol. Saya juga sempat ingin menjadi seorang penari. Saya membayangkan akan mengenakan sebuah gaun yang sangat cantik, dengan rok lebar dari bahan chiffon yang sangat ringan, manik-manik akan memenuhi rok saya, dan saat saya menari saya akan terlihat bersinar-sinar, seakan-akan ratusan kunang-kunang ikut menari bersama saya. Tapi tentu saja hal itu tak pernah terjadi. Hidup saya berhenti terasa menarik, semenjak...entahlah.
Saya melihat sesuatu yang berkilauan, agak tertimbun pasir pantai yang putih. Mungkin kulit kerang, saya membatin. Tapi tetap menunduk untuk memungutnya. Ternyata itu sama sekali bukan kulit kerang, melainkan sebuah cincin. Cincin emas yang sangat indah, dengan sebuah batu kecil berwarna biru berbentuk seperti tetesan air ditengahnya. Batu safir. Siapa yang sampai hati membuang cincin seindah ini, atau apakah cincin ini terjatuh? Sesaat saya ragu, apa saya boleh membawa cincin ini, atau harus meletakkannya lagi. Tapi bagaimana kalau cincin ini tersapu air, dan terbawa, menghilang di lautan luas?
Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu. Siapa tau seseorang akan datang untuk mencari cincin cantik ini. Saya lalu berjalan ke sebuah pohon kelapa yang cukup besar, berencana untuk duduk dibawahnya.
Pantai masih tetap lengang, pasti hanya orang bodoh, atau orang yang sangat bosan seperti saya yang mau berada di pantai dalam cuaca sepanas ini. Ah, saya tak peduli, lebih baik saya mulai menunggu dengan tenang. Saya akan menunggu sampai malam tiba, kalau tidak ada siapapun yang datang, berarti cincin ini menjadi milik saya, atau, entahlah...saya belum tau.
Saya mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas pantai saya. Love In The Time of Cholera. Apa rasanya jatuh cinta, sampai tak bisa lepas lagi? Seakan-akan cinta kita itu jadi bagian dari tubuh kita, bukankah akan menyeramkan? Atau bagaimana rasanya bisa jatuh cinta dalam sekejap mata? Apakah rasanya bagai tersambar petir, tersengat listrik, atau sensasi-sensasi aneh lainnya yang mengejutkan? Apa yang Shakespeare pikir akan dirasakan oleh Romeo dan Juliet saat mereka bertemu? Bagaimana mereka berdua bisa langsung jatuh cinta, lantas melupakan segalanya? Ah, mungkin itu hanya karena mereka masih sangat muda, sehingga semuanya terasa begitu dramatis. Seperti yang saya alami saat masih sangat muda dulu.
Bagaimana orang-orang bisa menulis kisah cinta yang hebat? Apakah Shakespeare orang yang penuh cinta, apakah dia memuja cinta? Ah, saya rasa dia gila, atau bahkan membenci cinta. Semua orang yang jatuh cinta selalu dibuatnya berakhir menderita, ck! Bagaimana dengan legenda Yunani itu? Apakah mungkin ada perempuan yang memiliki cinta sebesar Penelope? Akankah para kekasih tetap setia menunggu, sampai orang yang mereka cintai pulang, walau tak tau untuk berapa lama. Atau adakah orang yang jadi gila karena cinta, seperti Qais yang kehilangan akal sehatnya karena Laila. Aneh, kenapa hampir semua kisah cinta yang tetap hidup sepanjang masa, berisi tentang para pecinta yang mati?
Lebih baik saya lupakan hal itu untuk sementara, dan membaca buku ini. Sebenarnya saya tak ingin buru-buru menyelesaikannya, ceritanya sangat indah, selain itu saya juga belum punya buku lain untuk dibaca. Jadi dengan ragu-ragu saya kembali menutup buku saya tadi, belum ingin mulai membaca lagi. Saya mengeluarkan cincin itu dari saku gaun pantai saya, mengangkatnya menghadap matahari. Dan saya bisa melihat cahaya matahari berpendar melalui batu safir itu. Persis seperti cincin idaman saya. Hhh, seandainya saja cincin ini milik saya.
Seorang laki-laki berjalan di pantai. Hmm, ternyata ada juga orang yang sama bodohnya dengan saya. Tapi laki-laki itu sedang menunduk dan bahunya agak membungkuk sehingga terlihat sedih. Semoga saja dia tidak berniat bunuh diri, saya tak ingin merasa bersalah karena tak ingin menyelamatkannya. Tapi kalau saya perhatikan wajah laki-laki itu tak buruk juga, malah diatas rata-rata. Kalau mood saya sedang bagus, saya akan menyebutnya ganteng, tampan, atau apapun sejenisnya. Dan kalau mood saya sedang lebih bagus lagi, mungkin saya akan berusaha mengajaknya bicara. Tapi saat ini, saya sedang malas, jadi sudahlah, biarkan saja, it's his lost, anyway...hehehe.
Laki-laki itu menundukkan badannya yang agak kurus, memandangi pasir pantai, tapi anehnya dia seperti hanya termangu. Setelah membungkuk cukup lama, dia menurunkan tangannya dan mengais-ngais pasir. Oops, jangan-jangan ini dia sang pemilik cincin. Hhh, padahal saya benar-benar berharap untuk dapat memiliki cincin ini. Laki-laki itu sudah menegakkan badannya lagi, dan kembali berjalan. Matanya masih memandang ke bawah, terkadang dia membungkuk, tapi lalu berjalan lagi. Sepertinya saya memang harus benar-benar mengembalikan cincin ini.
“Hey...!!! Hey!!” saya mencoba memanggilnya, tapi sepertinya lelaki itu tak mendengar suara saya. Saya pun berdiri dan berjalan mendekat. Saya menepuk bahunya, dia tersentak kaget. “Apa kamu mencari sesuatu?” tanya saya sambil menatap wajahnya, lebih tepatnya mengamati wajahnya. “Apa ada barang kamu yang hilang?” saya bertanya lagi, karena sepertinya dia tidak menangkap pertanyaan pertama saya tadi.
“ Entahlah...” Heh?! Mana ada orang yang mencari sesuatu tapi tidak tahu apa ada barangnya yang hilang. Dasar aneh! Tapi, ya Tuhan, dia ternyata sangat tampan. Matanya tajam, dan berwarna coklat tua pekat. Rambutnya hitam, segelap malam, dengan ikal lembut yang menjuntai di keningnya. Seperti rambut Superman, tanpa gel tentunya. Hidungnya sangat mancung, dan sepertinya pernah patah. Dan yang paling luar biasa adalah bibirnya, bergaris tegas, cukup tebal, dan, kalau mengikuti novel-novel roman, menjanjikan kenikmatan, hahaha.“Kamu nggak tau ada barang kamu yang hilang atau nggak?” tanya saya lagi. Tuhan maha adil, dia menciptakan makhluk setampan ini, dengan kapasitas otak yang kecil.
“Bukan. Saya tidak tau, apa barang saya yang hilang itu, benar-benar hilang, atau sebenarnya saya sudah menemukannya.” Oh okey, mungkin ternyata dia tidak terlalu bodoh, hanya aneh. “Apa kamu menemukan sesuatu?”
“Tergantung, apa kamu mencari sesuatu?” Dia hanya tersenyum, tipis. Mungkin itu lebih baik, kalau dia tersenyum lebih lebar lagi, dia akan mencuri hati saya saat ini juga.
“Tidak, tidak lagi. Saya rasa saya sudah berhenti mencari.”
“Oh. Alrighty then,” dan saya pun berbalik. Berbicara terlalu lama dengan orang ini akan membawa akibat buruk bagi saya. Entah hati saya akan hancur berkeping-keping, atau saya melakukan hal bodoh dengan menyeretnya ke balik pohon, and kiss him senselessly. Oh Tuhan, saya rasa saya terlalu lama hidup sendirian. Atau...apa saya sedang jatuh cinta, secepat kilat seperti yang selalu diagung-agungkan para sastrawan.
“Tunggu!” dia berteriak memanggil saya. “Kamu mau kemana?”
“Pergi, memang kelihatannya seperti apa?” Dasar bodoh! Tapi, seandainya dia meminta saya menemaninya, siapalah saya kiranya bisa menolak.
“Kenapa? Apa kamu punya hal lain yang ingin dilakukan?” Tentu, seperti kembali di bawah pohon, membuka buku saya, dan membayangkan wajahnya seharian penuh.
“Tentu saja. Apa saya terlihat seperti orang bodoh, yang akan berdiri di bawah terik matahari, dan tidak melakukan apa-apa?”
“Apa kamu mau menemani saya?” O ow, be careful with what you wish for, honey. ”Maksud saya, kalau kamu tidak ada hal lain yang perlu dilakukan, maukah kamu menemani saya?” I'll do anything for you, love, mwuahaha. Tuhan tolong bantu saya, jangan biarkan saya melakukan hal-hal bodoh.
“Menemani? Kamu? Orang asing yang saya tidak tahu dari mana asalnya. Saya bahkan tidak tau apa kamu benar-benar manusia, atau prajurit utusan Ratu Kidul yang bermaksud menculik saya.” Saya pun mengibas-ngibaskan gaun pantai saya yang berwarna hijau.
“Saya tidak tau kalau ternyata kamu sekarang percaya tahayul.”
“Tentu saja kamu nggak tau! Kamu bahkan tidak tau siapa nama saya, apa saya benar-benar perempuan, atau seorang transversite yang sukses.”
“Saya tau kamu benar-benar seorang perempuan. Kalau kamu mau, saya bisa menanyakan nama kamu, dan saya bersumpah tidak akan menculik, dan menyerahkan kamu pada penguasa laut manapun,” dia berkata sambil mengangkat tangan kanannya dan membentuk tanda'V'.
“Kamu tau darimana saya benar-benar seorang perempuan? Kamu tak akan pernah bisa membayangkan apa yang pisau bedah mampu lakukan,” tantang saya.
“Sejauh ini, yang mampu pisau bedah saya lakukan adalah mengangkat dan memindahkan organ tubuh manusia, memotong usus buntu, melancarkan sumbatan organ dalam, dan...ya, saya belum pernah melakukan operasi kelamin, jadi saya memang tidak terlalu yakin.” Hmm, menarik. Jadi lelaki aneh yang saya kira bodoh ini adalah seorang dokter bedah, atau... pembunuh berdarah dingin yang melakukan mutilasi pada para korbannya, dan mengoleksi organ tubuh mereka. Tapi, para pembunuh tidak memotong usus buntu, kan??
“Okey, saya mau menemani kamu, tapi kamu harus menjawab dua pertanyaan saya.”
“Apapun.”
“Apa orang-orang yang kamu bedah itu, memang meminta kamu untuk melakukannya?” Dia terdiam dan lalu matanya membelalak menatap saya. Kenapa dia mesti heran, wajar kalau saya menanyakan pertanyaan itu. Sekarang ini kita tidak boleh lengah, bukan?
“Apa maksud kamu, saya orang gila yang berkeliling dan membedah orang-orang, lalu memotong-motong badan mereka dan mengoleksi organ tubuhnya?” Ups! “Mereka meminta saya, bahkan mereka membayar saya untuk itu. Terlalu berlebihan terkadang, cuma tempat saya bekerja mengatakan banyak biaya administrasi yang harus dibayar oleh orang-orang itu.”
“Okey... jadi kamu bukan seorang pembunuh gila. Lalu, apa yang kamu cari di pantai tadi? Yang kamu nggak yakin lagi, mau kamu temukan atau nggak...”
“Oh itu... sudah tidak penting lagi. Saya yakin, benda yang saya cari tadi, sudah sampai ke tempat dia seharusnya berada. Okey, mungkin belum terlalu tepat, tapi sudah tidak terlalu jauh lagi.” Dasar aneh! “Jadi? Apa kamu mau menemani saya?” tanyanya sambil agak membungkuk agar bisa lebih dekat dengan kepala saya yang memang hanya sedikit melebihi bahunya.
“Okey, jadi kita mau apa? Kemana?” tanya saya sambil membetulkan tali gaun pantai saya yang agak turun.
“Ke rumah kamu,” said the devil with a smile in his angelic face.
“Whoaa, mau apa kita di rumah saya??!” Hmm, tapi kenapa ide itu tidak terdengar terlalu jelek, ya? Di rumah nanti, kami bisa... well, there's a lot, a lot of things that we could do. Tuhaaaan, lelaki ini benar-benar memberi pengaruh buruk pada otak saya yang sudah lama tidak terkena rangsangan feromon.
“Hahaha, jangan panik dulu. Ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan ke kamu”
“Sesuatu? Yang kamu ingin tunjukkan ke saya, dan ada di rumah saya?? Hmm, aneh, kenapa saya sebagai sang PEMILIK rumah tidak bisa mengingat apapun yang mungkin bisa kamu tunjukkan, ya!” dan makhluk tampan menyebalkan ini hanya berdiri sambil tersenyum-senyum di hadapan saya. Yang berarti dengan sukses berhasil mencuri hati saya. Yang artinya lagi, akan membuat saya mengikuti apapun keinginannya.
“Percaya saja. Kamu akan sangat terkejut begitu kita sampai. Walau, melihat mimik kamu sekarang, saya tidak yakin itu akan menjadi kejutan yang menyenangkan.”
“Okey then...apapun yang ingin kamu tunjukkan nanti, saya harap, kamu tetap ada disana untuk menerima semua reaksi saya,” what is life without some risks. Dia lalu menggandeng tangan saya, yang anehnya terasa... tepat. Kalau saja kupu-kupu di dalam perut saya bisa sedikit lebih tenang, mungkin saya tidak terlalu merasa ingin muntah.
Kami tidak banyak bicara sepanjang jalan. Dalam hati saya berdoa pada Tuhan, berharap, entah bagaimana rumah saya akan bergerak menjauh setiap kami berjalan mendekat. Jadi dia akan menggenggam tangan saya sedikit lebih lama. Saya bisa mendengar detak jantung saya, bertalu-talu. Seakan ada seorang penebang pohon yang sedang menggerakkan kampaknya, dengan kecepatan yang tak teratur. Seandainya saya adalah sebuah bintang, makanya tubuh saya akan memancarkan cahaya yang sanggup menerangi sebuah desa.
“Apa kamu benar-benar tidak tau siapa saya?” dia tiba-tiba memecah kesunyian antara kami. “Maksud saya, apa saya tidak mengingatkan kamu pada seseorang?” Ng... saya yakin saya belum pernah melihat wajahnya dimanapun.
“Nope! Why? Apa kamu kenalan seseorang yang saya kenal?” pertanyaannya entah bagaimana membuat jantung saya berdebar lebih keras. Entah karena takut, atau hanya... yah, hanya karena tangannya makin erat menggenggam tangan saya.
“Seharusnya iya... Seharusnya memang ada seseorang yang mengingatkan kamu tentang saya. Apa ibu kamu dulu tidak pernah memperingatkan kamu, untuk tidak pergi bersama orang asing? Hehehe...” katanya sambil terkekeh. Menyebalkan!
“Ibu saya tidak punya waktu untuk itu. Dia selalu yakin kalau saya mampu menjaga diri saya sendiri. Untungnya saya memang bisa,” jawab saya sambil mengangkat bahu untuk memberi kesan tidak acuh. Padahal, seumur hidup, tidak pernah sedetik pun saya berhenti berdoa agar Ibu punya waktu sedikit lebih banyak untuk saya. Sayangnya, Tuhan masih belum mengabulkan doa saya.
Dia memandang saya, dan entah bagaimana tatapannya menunjukkan seakan-akan dia benar-benar mengerti perasaan saya. “Jika saya memiliki anak seperti kamu, saya tidak akan pernah melepaskannya dari pengawasan mata saya. Saya akan mengikutinya kemana pun dia pergi, mencari tau semua kenalannya, dan memastikan dia memakai baju yang tidak terlalu menonjolkan kecantikkannya. Yang pasti, baju-baju yang akan saya pilihkan tidak akan seperti baju yang kamu pakai sekarang,” ujarnya sambil mengangkat sebelah alis, dan menggerakkan kepalanya ke arah bahu saya.
“Untungnya kamu bukan ayah saya. Saya sangat pemilih dalam berpakaian, dan ayah saya selalu membuat saya merasa cantik!” Saya menjawab tegas. Walau sebenarnya, saya yakin pipi saya warnanya sudah sama dengan pantat bayi saat ini. Kenapa, sih, dengan orang ini?! Semua yang dia lakukan hanya membuat darah saya mengalir cepat ke arah jantung. Apa dia bisa menyelamatkan saya, seandainya saat ini tiba-tiba saya terkena serangan jantung mendadak. Dia kan cuma dokter bedah. Dia hanya tersenyum lagi, dan kami kembali berjalan dalam diam.
Atap rumah saya mulai tampak. Dinding-dinding kacanya memantulkan sinar matahari. Saya sangat mencintai rumah itu. Dinding-dinding kokohnya menjadi teman yang sangat setia, dan pendengar yang sabar atas semua keluh kesah dan isak tangis saya. Satu-satunya hal yang membuat saya mampu menerima semua ketidakpedulian Ibu adalah karena dia membuatkan rumah mungil di pinggir pantai ini untuk saya. Walau dia tidak pernah bermalam sekalipun di dalamnya. Rumah ini, dan seseorang di masa lalu, dulu.
“Apa kamu tau, kamu ternyata sangat mirip dengannya?” dia tiba-tiba kembali melontarkan kata-kata yang tidak bisa langsung dicerna oleh otak saya.
“Hah? Apa?” saya yakin tampang saya saat ini sangat bodoh. “Mirip dengan siapa?”
“Kamu. Kamu sangat mirip dengan ibu kamu. Saya yakin, saat muda dulu wajahnya persis seperti kamu,” lanjutnya sambil menghentikan langkah. “Rambut panjang dengan ikal-ikal halus. Tulang pipi yang tinggi, dagu yang lancip dan angkuh, lesung di kedua pipi, bibir yang kecil dan penuh. Hanya mata kamu lebih besar, dan lebih expresif. Mata kamu akan membuat lelaki mana pun jatuh cinta,” Dia lalu memutar badannya menghadap saya, dan matanya menusuk tajam ke arah mata saya. Saya bisa mendengar sebuah suara di otak yang meneriakkan pertanyaan, termasuk kamu, termasuk kamu??!! “termasuk saya...” Haaaaaaah???!!!
“Dasar lelaki sinting! Kitakan baru bertemu setengah jam yang lalu...!” saya berusaha menutupi gemuruh yang memenuhi kepala saya. Apa akan menjadi terlalu gila, seandainya saya langsung membalas pernyataan cintanya dengan semangat berapi-api? Ya, tentu saja... “Apa kamu selalu mengatakan hal yang sama, kepada semua perempuan yang kamu temui sedang sendirian di pinggir pantai??” Katakan tidak, katakan tidak, katakan tidak...
“Nope!” Amien. “Saya bahkan tidak pernah mengajak bicara perempuan yang saya tidak kenal, walau dalam kasus kita, memang kamu yang terlebih dahulu mengajak saya bicara. Tapi, kamu tentu mengerti maksud saya,”
“Yah, apapunlah... So, kita sudah sampai, jadi apa yang ingin kamu tunjukkan?” ujar saya, sambil mengetuk-ngetukkan telapak kaki saya dengan lagak tidak sabar. Padahal, seluruh waktu saya di dunia, akan rela saya serahkan untuk ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna ini. Dia membuka gagang pintu, dan kami pun melangkah kedalam. Anehnya rumah kami sudah dipenuhi banyak orang.
“Hai, kamu sudah pulang?” Ibu saya menyeruak dari kerumunan orang-orang itu. Aneh, sejak kapan Ibu datang? Biasanya dia selalu memiliki berjuta kesibukan, dan tak sempat datang. “Ibu sudah dari tadi menyuruh Nino mencari kamu...” Nino? Nino? Kenapa nama itu terasa tidak asing? Saya lantas menengok ke arah lelaki tinggi langsing dan asing, yang sepanjang tadi menggenggam tangan saya.
“Kamu? Nino? Nino yang dekil, korengan, bau, dan yang selalu membawa ketapel kemana-mana??” Ya Tuhaaan... dia pahlawan masa kecil saya.
“Ketapel itu terbukti cukup ampuh untuk mengusir anak-anak lain yang mengganggu kamu, dan walaupun saya bau, kamu selalu berjalan di belakang, dan mencengkram erat baju kaus saya,“ jawabnya acuh. Kenapa saya tidak menyadari kemiripan mereka dari tadi? Nino semasa kecil saya dulu, memang selalu kurus, dan tinggi. Nino kecil dulu memang cukup tampan, tapi wajahnya selalu kotor, dan rambutnya selalu dilapisi pasir pantai. Nino kecil dulu, selalu setia membuatkan saya istana-istana pasir, sehingga bau air laut, seakan tidak pernah benar-benar hilang dari tubuhnya. Nino kecil dulu, hidungnya pernah berdarah dan patah, terkena papan selanjar ketika mencoba menarik saya yang nekat menaiki papan itu. Saya masih ingat baju renang yang dipenuhi darahnya, membuat Ibu berlari-lari menghampiri saya dengan mimik khawatir. Saat pertama dan terakhir dia mengkhawatirkan saya. Nino dulu... pernah mencium saya, dibalik tumpukan ban-ban renang yang disewakan dipinggir pantai, saat kami masih berumur 8 tahun. Nino dulu, pernah membuatkan saya kalung dari kulit kerang, dan berjanji akan menggantinya dengan... cincin bermata safir. Cincin bermata safir yang birunya sebiru air laut dalam lukisan ayah saya. Cincin bermata safir, yang permatanya akan memancarkan sinar matahari, dan berbinar indah seperti ribuan kunang-kunang. Kunang-kunang yang pernah kami lihat di malam ulangtahun saya yang ke-10, di sebuah muara dekat rumah. Nino, yang ketika kami berusia 12, pergi. Dia berjanji akan kembali, lalu...
“Saya rasa kamu sudah menemukan cincinnya?” Suara Nino membuyarkan lamunan saya. “Saya melihat kamu memungutnya di pantai tadi. Dan menyimpannya...” Dengan tak sadar, saya merogoh saku gaun pantai saya lalu membuka telapak tangan saya di depan Nino. Cincin itu tergeletak indah di atasnya. “Apa kamu suka? Apa warna birunya sebiru lukisan ayah kamu?” dia bertanya. Otak saya seakan beku. Nama Nino selalu tersimpan rapi dalam sebuah laci di sudut hati saya. Laci yang hampir tak pernah saya buka, karena isinya akan mendatangkan rasa sepi. hingga membuat saya hampir melupakannya. Hidup saya, terasa selalu membosankan, tidak menyenangkan, karena tidak ada Nino yang biasanya siap mengajak saya berpetualang. Setiap hari dulu, Nino selalu mengulurkan tanggannya, seperti yang dilakukan Peter Pan di jendela rumah Wendy, dan membawa saya ke Neverland kami sendiri. Mendaki bukit-bukit karang, memasuki lubang-lubang yang tercipta akibat kikisan air laut, dan menganggapnya sebagai gua pribadi kami.
Sekarang, kami berusia 27 tahun. Lebih setengah umur saya, dilalui tanpanya. Dia telah menjadi seorang dokter bedah, dan saya, seorang pelukis seperti ayah. Tanpa saya sadari, kami berhasil menjadi apa yang kami cita-citakan dulu. Dan tanpa saya pernah tau, saya selalu menunggu Nino kembali, dan memulai petualangan baru kami.
“Persis. Birunya persis sama,” akhirnya saya bisa bersuara. Sekeliling saya seakan menjadi kabur. Dalam rumah ini seakan-akan hanya ada saya dan Nino. Sekarang, apakah penantian saya akan mendapatkan imbalannya?
“Jadi, apakah itu artinya, kita jadi menikah?” Janji 15 tahun lalu pun ditepati.
“Ya, tentu saja,” dan saya pun mendekat, memeluknya. Akhirnya, saya pun pulang.
09 November, 2007
A Very Long Engagement
I was still sitting on the edges of the fountain, looking down at the ground – of course feeling awfully sorry for myself – when Dave came running. Apparently, I had left my bag when I ran out of the café. I didn’t care. I just had to get out. Dave, having been my best friend long since I can even remember, knew that I would always come to this place. ‘This place’ is a teeny tiny park with a fountain in the middle of it. Dave and I found it hidden behind an old office complex when we were little. Now the buildings around it have gotten taller, but thank God they left the fountain as it was.
“You okay?” he asked, in the middle of catching his own breath. “Next time, please give me a sign before you storm out of a café leaving your things behind. I was lucky you don’t run that fast.”
“It’s these damn stilettos.” I pointed at the creme Blahniks on my feet. “I though I should look good when I confronted Miles. But you know what? The next time I’m breaking off an engagement, remind me not to wear heels at all. Force me to wear… I don’t know… Keds, or something.”
“Why did you run, anyway? We knew that he was the one who cheated. You should’ve stayed there and throw the coffee at him or something. Didn’t we have this planned? I was supposed to grab him out of the chair after you were done talking and throw him on the street? You would just say it with a great amount of coolness? What happened?”
“I don’t know. You think I wanted to embarrass myself like that? You think I don’t know he was the one who’s supposed to go with humiliation?
“I guess,” I exhaled heavily, “I guess I didn’t think it would hurt that much.”
I looked up at the sky. It was almost nine and the buildings surrounding us were saving money so they had kept very little light on. The moon and stars shone beautifully. Too bad I wasn’t that keen on space objects that night. I was upset, and whenever I am upset I always need a distraction. So I moved my hands to take off my stilettos off. But I’ve never been good at finding something simple to distract myself. A minute later I got frustrated from trying to release the strings, “damn piece of really nice leather!” As frustration can be overwhelming at times, I felt all the waterworks in my body is about to burst out and ruin my mascara.
Dave sat next to me. He put my bag down and sat next to me because he knew I was on the verge of crying. He took his hands out of his pocket and removed mine from what they were busy doing.
“It’s alright. Let me do that.” He did and the first shoe he gave to me I slammed onto the pavement so hard that it chipped it. Obviously it stunned Dave a little. He looked at me and said, “you know, it’s a good thing you didn’t throw them at Miles,” he put his jacket on my shoulders, “that could seriously damage his head.”
“That’s not funny.”
“Oh, come on, I mean… have you looked at how pointy those shoes are?” Dave is always this way. He’ll come to you with a joke. Whether or not it’s funny, he’ll come to you with it. “You could drill a hole on his skull.”
“Yeah, I guess so. Yeah you’re right.”
“I just wish you did.”
“Me too,” I looked at Dave. He smiled at me the way he smiles, with just one corner of his lips, and out of nowhere we just started laughing.
“Kate, you should’ve seen his face when you started to question him,” Dave laughed so hard, but I was laughing harder
“I know, it was like ‘shit, she’s gonna kill me with those shoes.’”
“And when you threw the ring at him, oh wow! That was the most dramatic scene I have ever seen in real life.”
I stopped laughing and gasped in the horror of seeing myself doing something very drama queen-ish. In public!
“Oh my god! Was it tacky? Tell me it isn’t! Oh my God, that’s so embarrassing.”
“Relax. It’s normal. You should’ve remembered to take the diamond off first… then we’ll be happy.”
“You should’ve told me earlier! We could be off taking a trip by now. Rio, maybe?”
“Your honeymoon spot? No, no, no, no, no. Don’t you think that’s the last place you want to see?”
“Hey, I may have called the whole thing off, but I still want the vacation.” I smiled, looking down.
Dave put his right hand on top of my head and tousled it softly, “I’m sorry you didn’t get your honeymoon, AND I’m sorry you didn’t get a wedding.”
He was right. I WASN’T going to have a wedding. No matter how hard I had prepared for this last night, it’s always harder to hear it from someone else’s mouth. Suddenly a heavy feeling in my chest started to build up. Butterflies gathered in the center of my stomach for anything but Zsa zsa zsu.
“Kate?” Dave lowered his face so he can see me. I looked up so our eyes met.
I mimicked the way he smile – with just one corner of his mouth and said to him in an unsuccessful disguised crying sob, “I was really, really, happy,” and finally surrendered and cried while Dave pulled me so I could cry on him.
“Go ahead and cry as long as you want.” He gently stroked my hair, pat my back, and do all the things you should do to soothe a person weeping. I don’t know how long I wept but I do remember reminiscing to 1997. Dave was holding me in the exact manner like now. He was consoling me out of a feud I got into with none other than Miles. He was always there for me. I always told his girlfriends that he’s ‘the man you would want to spend the rest of your life with’. Funnily enough, even after I say that, they never seemed to stay very long. And he’s never kept a relationship long enough to work.
When I finally calmed down, he handed me a tissue taken out of my purse. I must’ve looked terrible that he gave me a handful of it. His shirt was soaked and I said sorry for it. He told me not to worry about it, “I’ll just have you pay for my dry cleaning later,” and smiled.
“Dave... you know all about how Miles and I first got together in high school and we broke up and got together again and broke up again and got together again and finally this? I used to think that he was the one I was gonna have picnics with, the one I will be making breakfast for, celebrate Christmases with – not because we celebrate it, but because it will be a holiday… but as it turns out, I’m not gonna be doing that with him. It’s all over,“ I looked at the left pair of my Blahnik and hold it up in front of my face, “just like this one. Its life with me is over now. I think I’ll give them to my transvestite neighbor or something. Or give it to Salvation Army,” I shrugged.
“I doubt they’ll need a pair of stilettos there. But I’m sure when they need to drill out a group of people committing suicide from a cave, it will come in handy,“ Dave smiled. I chuckled with him.
“Anyway,“ I continued, “what’s funny is that I saw a rerun of Ellen on TV last night, and there was this couple. They were both about 90 years old and met in 1934. They went to high school together and did the whole courtship thing, but couldn’t be together because of all the things that were happening then. But last month or so, 73 friggin’ years later, they tied the knot. When they came out to the stage everybody was on their feet giving applause and I can tell they were all touched by the story.”
“Who wouldn’t? It’s always sweet when you hear someone getting married to their high school sweetheart. I think waiting 73 years to do it qualifies BEYOND any level of charm.”
“Yes, but,” I sighed, “last night, knowing that I was going to end my engagement with Miles, I can’t help but thinking would I have to wait that long? Would it take me 73 years to actually get a chance on being loved?” I turned my head around, facing Dave, who quickly made my (physical AND metaphoric) heart jump because he met my move with his lips on the right corner of mine.
I remembered the thoughts that went in my mind: ‘what the hell are you doing?’, ‘I don’t think this is a good idea!’ and, ‘well, maybe.’ All in just 8 seconds and then it ended. A mix of all sorts of things. Good things.
As he finally pulled away he smiled, “Maybe not that long.”
PS. bosen nih! udah ga jelas banget mo nulis apa boookkk! kalian dong nulis!
“You okay?” he asked, in the middle of catching his own breath. “Next time, please give me a sign before you storm out of a café leaving your things behind. I was lucky you don’t run that fast.”
“It’s these damn stilettos.” I pointed at the creme Blahniks on my feet. “I though I should look good when I confronted Miles. But you know what? The next time I’m breaking off an engagement, remind me not to wear heels at all. Force me to wear… I don’t know… Keds, or something.”
“Why did you run, anyway? We knew that he was the one who cheated. You should’ve stayed there and throw the coffee at him or something. Didn’t we have this planned? I was supposed to grab him out of the chair after you were done talking and throw him on the street? You would just say it with a great amount of coolness? What happened?”
“I don’t know. You think I wanted to embarrass myself like that? You think I don’t know he was the one who’s supposed to go with humiliation?
“I guess,” I exhaled heavily, “I guess I didn’t think it would hurt that much.”
I looked up at the sky. It was almost nine and the buildings surrounding us were saving money so they had kept very little light on. The moon and stars shone beautifully. Too bad I wasn’t that keen on space objects that night. I was upset, and whenever I am upset I always need a distraction. So I moved my hands to take off my stilettos off. But I’ve never been good at finding something simple to distract myself. A minute later I got frustrated from trying to release the strings, “damn piece of really nice leather!” As frustration can be overwhelming at times, I felt all the waterworks in my body is about to burst out and ruin my mascara.
Dave sat next to me. He put my bag down and sat next to me because he knew I was on the verge of crying. He took his hands out of his pocket and removed mine from what they were busy doing.
“It’s alright. Let me do that.” He did and the first shoe he gave to me I slammed onto the pavement so hard that it chipped it. Obviously it stunned Dave a little. He looked at me and said, “you know, it’s a good thing you didn’t throw them at Miles,” he put his jacket on my shoulders, “that could seriously damage his head.”
“That’s not funny.”
“Oh, come on, I mean… have you looked at how pointy those shoes are?” Dave is always this way. He’ll come to you with a joke. Whether or not it’s funny, he’ll come to you with it. “You could drill a hole on his skull.”
“Yeah, I guess so. Yeah you’re right.”
“I just wish you did.”
“Me too,” I looked at Dave. He smiled at me the way he smiles, with just one corner of his lips, and out of nowhere we just started laughing.
“Kate, you should’ve seen his face when you started to question him,” Dave laughed so hard, but I was laughing harder
“I know, it was like ‘shit, she’s gonna kill me with those shoes.’”
“And when you threw the ring at him, oh wow! That was the most dramatic scene I have ever seen in real life.”
I stopped laughing and gasped in the horror of seeing myself doing something very drama queen-ish. In public!
“Oh my god! Was it tacky? Tell me it isn’t! Oh my God, that’s so embarrassing.”
“Relax. It’s normal. You should’ve remembered to take the diamond off first… then we’ll be happy.”
“You should’ve told me earlier! We could be off taking a trip by now. Rio, maybe?”
“Your honeymoon spot? No, no, no, no, no. Don’t you think that’s the last place you want to see?”
“Hey, I may have called the whole thing off, but I still want the vacation.” I smiled, looking down.
Dave put his right hand on top of my head and tousled it softly, “I’m sorry you didn’t get your honeymoon, AND I’m sorry you didn’t get a wedding.”
He was right. I WASN’T going to have a wedding. No matter how hard I had prepared for this last night, it’s always harder to hear it from someone else’s mouth. Suddenly a heavy feeling in my chest started to build up. Butterflies gathered in the center of my stomach for anything but Zsa zsa zsu.
“Kate?” Dave lowered his face so he can see me. I looked up so our eyes met.
I mimicked the way he smile – with just one corner of his mouth and said to him in an unsuccessful disguised crying sob, “I was really, really, happy,” and finally surrendered and cried while Dave pulled me so I could cry on him.
“Go ahead and cry as long as you want.” He gently stroked my hair, pat my back, and do all the things you should do to soothe a person weeping. I don’t know how long I wept but I do remember reminiscing to 1997. Dave was holding me in the exact manner like now. He was consoling me out of a feud I got into with none other than Miles. He was always there for me. I always told his girlfriends that he’s ‘the man you would want to spend the rest of your life with’. Funnily enough, even after I say that, they never seemed to stay very long. And he’s never kept a relationship long enough to work.
When I finally calmed down, he handed me a tissue taken out of my purse. I must’ve looked terrible that he gave me a handful of it. His shirt was soaked and I said sorry for it. He told me not to worry about it, “I’ll just have you pay for my dry cleaning later,” and smiled.
“Dave... you know all about how Miles and I first got together in high school and we broke up and got together again and broke up again and got together again and finally this? I used to think that he was the one I was gonna have picnics with, the one I will be making breakfast for, celebrate Christmases with – not because we celebrate it, but because it will be a holiday… but as it turns out, I’m not gonna be doing that with him. It’s all over,“ I looked at the left pair of my Blahnik and hold it up in front of my face, “just like this one. Its life with me is over now. I think I’ll give them to my transvestite neighbor or something. Or give it to Salvation Army,” I shrugged.
“I doubt they’ll need a pair of stilettos there. But I’m sure when they need to drill out a group of people committing suicide from a cave, it will come in handy,“ Dave smiled. I chuckled with him.
“Anyway,“ I continued, “what’s funny is that I saw a rerun of Ellen on TV last night, and there was this couple. They were both about 90 years old and met in 1934. They went to high school together and did the whole courtship thing, but couldn’t be together because of all the things that were happening then. But last month or so, 73 friggin’ years later, they tied the knot. When they came out to the stage everybody was on their feet giving applause and I can tell they were all touched by the story.”
“Who wouldn’t? It’s always sweet when you hear someone getting married to their high school sweetheart. I think waiting 73 years to do it qualifies BEYOND any level of charm.”
“Yes, but,” I sighed, “last night, knowing that I was going to end my engagement with Miles, I can’t help but thinking would I have to wait that long? Would it take me 73 years to actually get a chance on being loved?” I turned my head around, facing Dave, who quickly made my (physical AND metaphoric) heart jump because he met my move with his lips on the right corner of mine.
I remembered the thoughts that went in my mind: ‘what the hell are you doing?’, ‘I don’t think this is a good idea!’ and, ‘well, maybe.’ All in just 8 seconds and then it ended. A mix of all sorts of things. Good things.
As he finally pulled away he smiled, “Maybe not that long.”
PS. bosen nih! udah ga jelas banget mo nulis apa boookkk! kalian dong nulis!
Subscribe to:
Posts (Atom)