Copyright © lakeview creativity
Design by Dzignine

17 September, 2011

Rumah Pohon

a sneak peek

“Hayoook!” Adith menyeret Nina melintasi halaman belakang.

“Tapi Sinar sama Naren mau pergi mancing,” Nina yang terseok-seok di belakang Adith berusaha melepaskan diri.

Adith nggak memperdulikan Nina dan hanya terus menariknya, sampai akhirnya mereka berhenti di depan pohon apel raksasa yang sedang berbuah. “Lihat!” kata Adith sambil menunjuk ke atas. Di salah satu dahannya yang besar, sebuah rumah pohon kecil baru saja selesai dibangun. Nina yang masih berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Adith langsung terdiam. “Gue sama Papa bikin kemarin, Sinar juga bantuin sih, dikit,” katanya lagi sambil cemberut, nggak mau mengakui kalau kakaknya itu juga turun tangan.

14 September, 2011

Kopi

Cangkir kopi kedua. Dalam satu jam ini.

Hitam, panas, dan kental.

Aromanya memenuhi rongga hidung, memaksa mata terpejam, dan bibir tersenyum. Rasanya kau hanya ingin menempelkan cangkir panas itu ke pipimu. Membiarkan kehangatannya menyebar dan membiaskan sedikit rona merah.

Kau memandang ke luar. Hujan turun dengan deras. Derainya menghantam permukaan danau yang hijau, lebih cerah dan bersih sekarang, dibanding ketika kau masih menjadi pengunjung harian tempat ini.

06 September, 2011

Never Let Me Go

He caressed my hair with a tremor hand. I inhaled deeply, try not to let my tears fell. I looked at him, trying to smile, but it's as if somebody put some glue at the corner of my lips. He was lying there, all pale and weak, but still the one who tried to offer comfort and courage. I took his hand, and held it tightly on my chest. His hand was cold, how could his hand cold?

He smiled, "you look beautiful." I just nodded, not dared myself to speak, because i was afraid it would broke into sobs. And once it started, it wouldn't stop. He really didn't need any of those. We stayed like that for a while, nobody was saying anything. Not long until he fell asleep.