Hello again!
For the gazillionth time we're sorry for the hiatus. What happened, you ask? Well life happens. Paying bills, taking care of babies... But that's another story for another time we want to bore you with =D
And talk about stories, here's a new piece from Nilam. Enjoy!
22 June, 2010
Di Suatu Senja
Hari ini senja, ya senja. Senja seperti biasa, tak ada yang istimewa.
Langit masih saja berwarna jingga, matahari masih saja bersinar, dan cahayanya masih saja mulai pudar.
Lalu apa bedanya senja hari ini dengan lainnya?
Tak ada sebenarnya, yah tak ada yang berbeda dengan senjanya, masih senja tua yang sama. Tapi, ada yang berbeda dengan binar dimatanya.
Matanya masih mengagumi senja, bibirnya masih terukir lembut membiaskan senyum. Tapi binar itu. Binar itu tak lagi redup seperti matahari di kala ini.
Dia duduk ditempatnya yang biasa, membiarkan angin menarik lembut rambutnya yang terurai. Dia juga masih sendirian, tapi hari ini dia tak tampak kesepian. Dia duduk dengan tenang, dan sekali-sekali membisikkan rahasia kepada angin yang setia membelainya.
Langit masih saja berwarna jingga, matahari masih saja bersinar, dan cahayanya masih saja mulai pudar.
Lalu apa bedanya senja hari ini dengan lainnya?
Tak ada sebenarnya, yah tak ada yang berbeda dengan senjanya, masih senja tua yang sama. Tapi, ada yang berbeda dengan binar dimatanya.
Matanya masih mengagumi senja, bibirnya masih terukir lembut membiaskan senyum. Tapi binar itu. Binar itu tak lagi redup seperti matahari di kala ini.
Dia duduk ditempatnya yang biasa, membiarkan angin menarik lembut rambutnya yang terurai. Dia juga masih sendirian, tapi hari ini dia tak tampak kesepian. Dia duduk dengan tenang, dan sekali-sekali membisikkan rahasia kepada angin yang setia membelainya.
Subscribe to:
Posts (Atom)