It began when he said he loved my singing after I said I was impressed with his writing, and that was 12 years ago; junior high. Quite a while for us to share a lot of water under our bridge. I’ve everything about him engraved in my head, and he’s figured me out like a Rubik’s cube a countless number of times.
“I can’t believe that this is the day,” he said to me this morning. And I couldn’t believe it either.
He was jittery and didn’t want to see anyone before tonight except me. Very untraditional. But I understood and if breaking all the rules means more time together, so be it. I held his hand as he held on to mine; I didn’t want to let go. He didn’t want to let go. So we talked about small nothings and sweet nostalgia hand in hand in that quiet little room. About the last 12 years and how it got to this moment.
But time… nobody can stop time. Soon it was starting and we all got rushed into a great big room with everybody in it. He looked uncomfortable for a while because of the attention, but obviously very happy. And I am happy he’s happy.
05 June, 2008
04 June, 2008
Atas Nama Cinta
Dag Dag Dag...
Dag Dag Dag...
Bunyinya bedebam-debam, bagai gada raksasa sang Bima yang menghantam dada. Sakit, Berat, Menghujam, menyesikan pilu yang tak bertepi.
Dag Dag Dag...
Rasa sakit itu, beserta bunyinya yang menggema tak kunjung juga berhenti. Akan sampai kapan? Apakah bisa cukup kuat untuk bertahan. Sakit.
Gada itu terus menghantam, tak menyisakan sedikit pun tempat untuk secuil belas kasihan. Ampunan tak punya jatah disini, tak ada lagi tempat yang tersisa. Semuanya habis untuk sebuah siksaan, yang menggunakan alasan klasik, cinta.
Dag Dag Dag...
Bunyinya bedebam-debam, bagai gada raksasa sang Bima yang menghantam dada. Sakit, Berat, Menghujam, menyesikan pilu yang tak bertepi.
Dag Dag Dag...
Rasa sakit itu, beserta bunyinya yang menggema tak kunjung juga berhenti. Akan sampai kapan? Apakah bisa cukup kuat untuk bertahan. Sakit.
Gada itu terus menghantam, tak menyisakan sedikit pun tempat untuk secuil belas kasihan. Ampunan tak punya jatah disini, tak ada lagi tempat yang tersisa. Semuanya habis untuk sebuah siksaan, yang menggunakan alasan klasik, cinta.
Subscribe to:
Posts (Atom)